ARTICLE AD BOX
Fatwa Syekh Abu Abdillah Musthafa bin Al-‘Adawi
Pertanyaan:
Sebutkan sabda tentang (salat) istikharah, jelaskan pula siapa (ulama hadis) nan mengeluarkan dan siapa sahabat nan meriwayatkan.
Jawaban:
Hadis tentang salat istikharah dikeluarkan oleh Imam Bukhari rahimahullah, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنَ القُرْآنِ، يَقُولُ: إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي – أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ: وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al-Quran. Beliau berkata, “Jika salah seorang dari kalian menginginkan sesuatu, maka hendaknya dia mengerjakan dua rakaat selain salat wajib, lampau dia mengucapkan,
ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI ‘ILMIKA WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA WA AS’ALUKA MIN FADLIKAL ADZIMI FAINNAKA TAQDIRU WALA AQDIRU WA TA’LAMU WALA A’LAMU WA ANTA A’LAMUL GHUYUB, ALLAHUMMA FAIN KUNTA TA’LAMU HADZAL AMRA (maka dia menyebut rencana nan dia inginkan) KHAIRAN LII FII DIINII WA MA’AASYII WA ‘AQIBATI AMRI -atau berkata; FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FAQDURHU LI WA IN KUNTA TA’LAMU ANNA HAADZAL AMRA SYARRAN LI FI DIINII WA MA’AASYII WA ‘AAQIBATI AMRII -atau berkata; FII ‘AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FASHRIFHU ‘ANNI WASHRIFNI ‘ANHU WAQDURLIIL KHAIRA HAITSU KAANA TSUMMA RADDLINI BIHI.
(Ya Allah, saya memohon pilihan kepada Engkau dengan ilmu-Mu, saya memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan saya memohon karunia-Mu nan besar, lantaran Engkaulah nan berkuasa sedangkan saya tidak berkuasa, Engkaulah nan Maha Mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha Mengetahui segala nan gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui urusanku ini (ia sebutkan hajatnya) adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata; baik di bumi alias di akhirat-; maka takdirkanlah untukku serta mudahkanlah bagiku dan berilah berkah kepadaku. Sebaliknya, jika Engkau mengetahui bahwa urusanku ini (ia menyebut hajatnya) jelek untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata; baik di bumi ataupun di akhirat-; maka jauhkanlah saya darinya, serta takdirkanlah untukku nan baik baik saja, kemudian jadikanlah saya rida dengannya.)
Lalu dia menyebut hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6382)
Pertanyaan:
Apakah orang nan mendirikan salat istikharah pasti bermimpi sesuatu?
Jawaban:
Hal itu tidak pasti, lantaran tidak ada dalil nan menunjukkan perihal itu. Salat istikharah sendiri hakikatnya adalah doa, sebagaimana doa-doa nan lainnya. Jika Allah memudahkan urusannya setelah salat istikharah tersebut, maka hanya kepada Allah-lah dia memuji. Namun, jika Allah menghendaki perkara nan lain, maka Allah adalah Dzat nan Maha mengetahui (Al-‘Aliim dan Al-Khabiir) dan hanya kepada Allah-lah dia memuji di awal dan akhirnya.
Pertanyaan:
Apakah boleh mendirikan salat istikharah setelah dua rakaat Dhuha alias sunah rawatib Dzuhur, misalnya?
Jawaban:
Iya, boleh mendirikan salat istikharah setelah selesai mendirikan salat sunah apapun, perihal ini berasas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ
“ … maka hendaknya dia mengerjakan dua rakaat selain salat wajib … “
Pertanyaan:
Apakah disyariatkan untuk mengulang salat istikharah?
Jawaban:
Iya, disyariatkan untuk mengulang salat istikharah, lantaran (hakikat) salat istikharah adalah angan sebagaimana penjelasan sebelumnya. Sedangkan mengulang-ulang dan memperbanyak angan adalah perkara nan disyariatkan. Wallahu Ta’ala a’lam.
Pertanyaan:
Apakah disyariatkan salat istikharah dalam semua kondisi ketika seorang laki-laki melamar seorang wanita?
Jawaban:
Tidaklah disyariatkan dalam semua keadaan. Ketika nan meminang seorang wanita adalah laki-laki fasik, fajir, peminum khamr, tukang mabuk, tukag kreator onar, maka dia tidak perlu salat istikharah kepada Allah sama sekali. Hal ini lantaran terdapat dalil-dalil umum dari kitabullah dan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang memotivasi untuk menolak laki-laki tersebut. Demikian pula, seorang laki-laki tidak perlu salat istikharah apakah hendak menikah dengan wanita pezina alias tidak. Karena Allah Ta’ala berfirman,
الزَّانِي لَا يَنكِحُ إلَّا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لَا يَنكِحُهَا إِلَّا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ
“Laki-laki nan bercabul tidak menikahi melainkan wanita nan berzina, alias wanita nan musyrik. Dan wanita nan bercabul tidak dinikahi melainkan oleh laki-laki nan bercabul alias laki-laki musyrik.” (QS. An-Nur: 3)
Baca juga: Panduan Ringkas Salat Istikharah
***
@Unayzah, 7 Ramadan 1446/ 7 Maret 2025
Penerjemah: M. Saifudin Hakim
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Diterjemahkan dari Ahkaamun Nikah waz Zifaf, hal. 60-61.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·