Fatwa Ulama: Hukum Puasa Orang yang Menelan Dahak (Lendir)

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Fatwa Syekh Muhammad Ali Farkus

Pertanyaan:

Wahai Syekh kami, Anda pernah menyebut — semoga Allah menjaga Anda — dalam fatwa bernomor (737) berjudul “Tentang perihal nan dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”:

“Yang menjadi ukuran batalnya puasa lantaran makan dan minum adalah sengaja memasukkan sesuatu dari hal-hal nan membatalkan puasa ke dalam rongga tubuh melalui jalan nan biasa, ialah mulut. Termasuk nan disamakan dengannya adalah hidung, berasas sabda Nabi ﷺ,

وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

‘Bersungguh-sungguhlah dalam menghirup air ke dalam hidung selain jika engkau sedang berpuasa.’ [1]

Baik sesuatu nan dimasukkan ke dalam rongga tubuh itu berkarakter mengenyangkan ataupun tidak, berfaedah alias membahayakan alias tidak berfaedah dan tidak pula membahayakan, serta baik terurai di dalam rongga tubuh maupun tidak.”

Pertanyaannya: apakah nan termasuk dalam ketentuan tersebut adalah menelan dahak, baik dahak itu ke mulut terlebih dulu alias langsung ke kerongkongan?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan memberkahi pengetahuan Anda.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasul nan diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, kepada keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’du:

Apabila dahak alias lendir [2] mengalir dari hidung alias rongga hidung menuju kerongkongan orang nan berpuasa tanpa keluar terlebih dulu ke mulutnya, maka saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat bahwa perihal itu tidak membatalkan puasa, lantaran lendir tersebut belum melewati anak tekak (uvula), ialah daging mini nan menggantung sebagai pemisah antara kerongkongan dan mulut. [3]

Hukum nan sama bertindak pada dahak (lendir) dan nan semisalnya andaikan berupa balgham [4], baik berupa lendir nan encer ataupun mukhāṭ (ingus/lendir hidung) [5] nan cair, ialah tidak membentuk gumpalan nan kental alias berat — sebagaimana keadaan dahak — dan balgham serta lendir hidung biasanya bercampur dengan air liur. Apabila seseorang menelannya berbareng air liur, maka perihal itu tidak merusak puasanya lantaran keduanya dihukumi seperti air liur.

Terlebih lagi andaikan perihal itu terjadi tanpa sengaja alias dia menelannya lantaran lupa dan bukan dengan kesengajaan, maka tidak ada tanggungjawab apa pun atasnya dalam perihal tersebut, apalagi lebih utama lagi (untuk tidak dianggap bermasalah).

Makruh bagi seseorang menelan dahak nan berupa gumpalan kental secara sengaja, padahal dia bisa membuang dan meludahkannya andaikan dia tidak sedang berpuasa. Hal itu lantaran dahak pada dasarnya dianggap menjijikkan secara tabiat, dan bisa saja membawa kotoran nan telah dikeluarkan oleh tubuh.

Jika seseorang dengan sengaja dan pilihan sendiri mengembalikannya ke dalam rongga tubuh (menelannya) ketika dia sedang berpuasa, maka perihal itu membatalkan puasa menurut pendapat nan paling kuat di kalangan ulama, lantaran dahak tersebut mempunyai bentuk (materi) nan menyerupai qals [6] alias seperti muntah dalam hukumnya. Maksudnya, andaikan seseorang dengan sengaja memasukkan kembali sisa sesuatu nan telah keluar dari rongga perutnya berupa qalṣ alias muntah, padahal dia bisa membuangnya, maka puasanya batal dan tidak ada tanggungjawab kafarah atasnya.

Dalam masalah muntah, tampak jelas dalil nan membedakan antara kesengajaan dan pilihan, dengan lupa alias terpaksa. Hal ini berasas riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ القَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ، وَمَنْ اسْتَقَاءَ عَمْدًا فَلْيَقْضِ

“Barang siapa nan muntah tanpa disengaja, maka tidak ada tanggungjawab qadha atasnya. Dan peralatan siapa nan sengaja memuntahkan diri, maka hendaklah dia mengqadha (puasanya).” [7]

Amalan para ustadz didasarkan pada sabda Abu Hurairah dari Nabi ﷺ,

أنَّ الصَّائم إذا ذرَعَه القيءُ فلا قضاءَ عليه، وإذا استقاءَ عمدًا فَلْيَقْضِ

“Sesungguhnya orang nan berpuasa andaikan muntah tanpa sengaja, maka tidak ada qadha atasnya. Dan andaikan dia sengaja muntah, maka hendaklah dia mengqadha.’ Pendapat ini dipegang oleh Sufyan Ats-Tsauri, Asy-Syafi‘i, Ahmad, dan Ishaq.”

Dan berasas sabda nan sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللهُ وَسَقَاهُ

“Barang siapa lupa ketika dia sedang berpuasa, lampau dia makan alias minum, maka hendaklah dia menyempurnakan puasanya, lantaran sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” [8]

Dan tidak ada tanggungjawab kafarah bagi orang nan melakukannya dengan sengaja menurut pendapat nan paling kuat di sisi kebanyakan ulama, berbeda dengan pendapat ‘Atha’ [9].

Dan tidak diragukan lagi bahwa norma nan telah ditetapkan dalam masalah ini sejalan dengan apa nan telah disebutkan sebelumnya dalam pembahasan, “Hal nan dianggap dalam pembatal-pembatal puasa”, tidak keluar darinya dan tidak pula menyelisihi kaidah-kaidahnya. [10]

Dan pengetahuan (yang sebenarnya) hanya ada di sisi Allah Ta’ala. Penutup angan kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan pengikutnya hingga hari kiamat.

 Baca juga: Hikmah Diwajibkannya Puasa Ramadan

***

Penerjemah: Fauzan Hidayat

Artikel Muslimah.or.id

Sumber: https://www.ferkous.app/home/index.php?q=fatwa-1301

Catatan kaki:

[1] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Istintsar (mengeluarkan air dari hidung) no. 142 dan dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Orang nan berpuasa menyiramkan air pada dirinya lantaran haus dan bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 2366; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Larangan berlebihan dalam istinsyaq bagi orang nan berpuasa no. 788; An-Nasa’i dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq no. 87; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ath-Thaharah, bab Bersungguh-sungguh dalam istinsyaq dan istintsar no. 407, dari sabda Laqith bin Shabrah Al-‘Amiri Al-‘Uqaili Al-Muntafiqi radhiyallahu ‘anhu. Hadis ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Irwa’ Al-Ghalil (4: 85) no. 935.

[2] Dikatakan bahwa an-nukhā‘ah adalah an-nukhāmah (keduanya berarti sama). Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1288 dan 5: 2040); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 307); dan Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 765 dan 1161).

Al-Laits berkata: an-nukhā‘ah adalah sesuatu nan keluar dari dada dan tenggorokan alias dari dada saja, sedangkan an-nukhāmah adalah sesuatu nan keluar dari kepala (yakni lendir dari hidung). (Lihat Taj Al-‘Arus, 33: 484 dan 22: 236)

[3] Lihat An-Nihayah, karya Abu As-Sa‘adat Ibnul Atsir (4: 284); Ash-Shihah (6: 2487); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 286); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (39: 499).

[4] Balgham adalah salah satu cairan tubuh, ialah air liur nan bercampur dengan lendir nan keluar dari saluran pernapasan.

Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (5: 1874); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 39); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 1081); Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (31: 305); dan Al-Mu‘jam Al-Wasith, (1: 70).

[5] Al-mukhāṭ adalah sesuatu nan keluar dari hidung sebagaimana air liur keluar dari mulut; corak jamaknya amkhiṭah. Dikatakan makhaṭahu min anfihi, ialah dia mengeluarkannya dari hidung, sedangkan imtakhatha dan tamakhkhaṭa berfaedah istantsara (mengeluarkan lendir dari hidung).

Lihat Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 1158); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 291); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 687); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (20: 93–94).

[6] Al-qalṣ (atau al-qalas) adalah sesuatu nan keluar dari tenggorokan alias perut berupa makanan alias minuman, baik memenuhi mulut maupun kurang dari itu, tetapi bukan muntah. Jika kembali masuk, maka dia menjadi muntah. Bentuk jamaknya aqlās.

Lihat Jamhirat Al-‘Arab, karya Al-Azdi (2: 851); Ash-Shihah, karya Al-Jauhari (3: 965); An-Nihayah, karya Ibnul Atsir (4: 100); Mukhtar Ash-Shihah, karya Ar-Razi (hal. 259); Al-Qamus, karya Al-Fairuzabadi (hal. 567); dan Taj Al-‘Arus, karya Az-Zabidi (16: 391).

[7] Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang nan berpuasa sengaja muntah no. 2380; At-Tirmidzi dalam Kitab Ash-Shaum, bab Tentang orang nan sengaja muntah no. 720; dan Ibnu Majah dalam Kitab Ash-Shiyam, bab Tentang orang nan berpuasa muntah no. 1676, dari sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami‘ no. 6243.

[8] Hadis ini muttafaq ‘alaih: diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitab Ash-Shaum, bab Orang nan berpuasa makan alias minum lantaran lupa no. 1933, dan Muslim dalam Kitab Ash-Shiyam no. 1155, dari sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[9] Lihat Ma‘alim As-Sunan, karya Al-Khaththabi (2: 777) dan Al-Istidzkar, karya Ibnu ‘Abdil Barr (3: 326). Lihat juga dua tulisan penulis, “At-Tahrir wal-Bayan fi Hukmi Man Afthara ‘Amdan fi Ramadhan” dan “Al-Muhaqqaq Al-Mad‘um fi Bayan Hadits: ‘Afthara Al-Hajim wal-Mahjum’.”

[10] Lihat juga fatwa no. (1257) berjudul, “Penjelasan tentang persoalan dalam menentukan ‘illat pembatal puasa” di situs resmi penulis.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info