Fatwa Ulama: Cara Bersungguh-Sungguh untuk Ikhlas dan Menjaga Diri dari Syirik Kecil

Sedang Trending 1 tahun yang lalu
ARTICLE AD BOX

Pertanyaan:

Saya mengalami masalah dalam keikhlasan, di mana jiwa saya suka dipuji dan dicintai oleh orang lain, serta telah terbiasa dengan perihal itu. Terkadang, saya juga berupaya memperbaiki gambaran diri di hadapan orang-orang  agar mereka menyukai saya. Namun, saya tahu bahwa perihal ini dibenci oleh Allah Ta’ala, dan saya selalu bermohon kepada-Nya agar diberikan keikhlasan. Apakah keadaan saya ini termasuk kemunafikan?

Hal lain nan mau saya tanyakan adalah bahwa bunyi saya bagus dalam membaca Al-Qur’an dan tajwid saya baik. Saya mau menerbitkan rekaman khataman Al-Qur’an dengan bunyi saya di media sosial. Namun, saya terhalang oleh rasa takut bahwa niat saya mungkin tidak sepenuhnya tulus untuk Allah Ta’ala, lantaran seperti nan saya sebutkan, jiwa saya menyukai pujian dari manusia. Apa nan Anda nasihatkan kepada saya?

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya. Amma ba’du,

Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk melakukan kebaikan saleh dan beradab mulia dengan tujuan agar mendapatkan rida dan kecintaan dari manusia. Sebab, perihal ini termasuk corak kesyirikan nan dapat membatalkan amal. Allah Ta’ala hanya menerima kebaikan nan dilakukan semata-mata lantaran mengharap wajah-Nya.

Namun, jika seseorang melakukan tanggungjawab syar’i dengan tujuan mencari rida Allah Ta’ala, lampau dia mendengar pujian dari manusia, maka tidak kenapa jika dia merasa senang dengan perihal itu -insyaAllah-. Itu adalah berita ceria nan Allah Ta’ala segerakan bagi seorang mukmin.

Merasa senang dengan rida dan pujian manusia atas kelebihan nan dimiliki dalam hal-hal selain ibadah murni adalah sesuatu nan diperbolehkan. Namun, pahala hanya diberikan jika kebaikan tersebut dilakukan dengan niat mendekatkan diri kepada Allah. Oleh lantaran itu, nan wajib dilakukan adalah memastikan bahwa setiap kebaikan nan dikerjakan adalah murni untuk Allah Ta’ala, lantaran hanya Dia nan mempunyai kuasa untuk memberi faedah dan mudarat. Jika Allah meridai seorang hamba, maka Dia bakal menjadikan hati manusia mencintainya.

Selain itu, seseorang tidak boleh meninggalkan kebaikan saleh hanya lantaran takut terjerumus dalam riya. Misalnya, jika seseorang mempunyai bunyi bagus dalam membaca Al-Qur’an, maka dia tetap dianjurkan untuk merekam dan menyebarkannya melalui internet alias media sosial agar berfaedah bagi orang lain. Jangan sampai rasa takut terhadap riya’ menjadi penghalang dalam melakukan kebaikan, lantaran itu adalah tipu daya setan.

Maka, boleh merekam dan menyebarkan referensi Al-Qur’an dengan bertawakal kepada Allah Ta’ala.

Yang perlu dilakukan adalah terus berjuang agar setiap kebaikan dilakukan dengan tulus hanya lantaran Allah Ta’ala.

Jika merasa cemas bakal terjerumus dalam riya’ alias mau menghindari segala corak kesyirikan, baik nan besar maupun nan kecil, maka amalkanlah angan nan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam sabda nan diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ’anha dalam kitab Shahih Adabul Mufrad, Rasulullah ﷺ bersabda,

يا أبا بكرٍ، لَلشِّركُ فيكم أخْفى من دبيبِ النَّملِ، والذي نفسي بيدِه لَلشِّركُ أخْفى من دَبيبِ النَّملِ، ألا أدُلُّك على شيءٍ إذا فعلتَه ذهب عنك قليلهُ وكثيرهُ؟ قل: اللَّهمَّ إنِّي أعوذُ بك أن أُشرِكَ بك وأنا أعلمُ، وأستغفِرُك لما لا أَعلمُ

“Wahai Abu Bakar, syirik itu di dalam diri kalian lebih tersembunyi dari jalannya semut, Demi Zat nan jiwaku ada di tangan-Nya. Sungguh syirik itu lebih tersembunyi daripada jalannya semut. Maukah saya tunjukkan sesuatu kepadamu, nan jika mana engkau mengucapkannya, maka kesyirikan pun bakal lenyap darimu, baik syirik nan sedikit (yang kecil) maupun banyak (besar)?“

“Ucapkanlah,

‘ALLAHUMMA INNA NA’ŪDZU BIKA AN USYRIKA BIKA WA ANA ‘ALAMU WA ASTAGHFIRUKA LIMĀ LĀ A’LAMU’

(Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu nan saya ketahui, dan saya memohon maaf kepada-Mu atas apa nan tidak saya ketahui).” (Diriwayatkan pula dalam Al-Adab Al-Mufrad, karya Al-Bukhari dari Ma’qil bin Yasar)

Maka, hendaknya memperbanyak angan ini lantaran dia menjadi karena keselamatan dari riya’. Tidak diragukan lagi bahwa rasa takut terhadap riya’ kudu senantiasa ada dalam diri seorang hamba dalam setiap keadaan.

Wallahu A’lam.

Baca juga: Kewajiban Ikhlas dan Buah Keikhlasan

***

Penerjemah: Muhammad Bimo Prasetyo

Artikel: Muslim.or.id

Sumber:

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/162227/

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info