ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Empat bulan setelah pandemi Covid-19 diumumkan secara dunia pada 2020, International Labour Organization (ILO) mencatat 1,25 miliar pekerja terdampak alias 80 persen tenaga kerja dunia. Namun pemulihan tak kunjung tiba, bentrok Rusia-Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga kebijakan tarif resiprokal Donald Trump di awal 2025 semakin memperburuk keadaan.
Presiden Konfederasi Sarbumusi NU Irham Ali Saifuddin memberikan prediksi ekonomi bumi beberapa tahun ke depan bakal semakin memburuk.
"Saat ini 1 lansia mungkin bisa ditopang 6 pekerja. Tahun 2050 tinggal 2 pekerja nan kudu menanggung 1 lansia ini bakal memperburuk ekonomi global," ucap Irham di Bincang Bareng Lakpesdam Spesial Moment, May Day dengan tema "Cerita Buruh dan Harapan Jaminan Kerja Pekerja Sektor Informal" pada Jumat (2/5/2025).
Irham memberikan sebuah info nan berisi tenaga kerja di Indonesia nan berjumlah 150 juta nan berasal dari sektor informal sebanyak 60% namun nan mendapatkan BPJS ketenagakerjaan hanya 1,5% pekerja informal.
"Dari 150 juta pekerja di Indonesia 60 persen tenaga kerja Indonesia adalah pekerja informal dan hanya 1,5 persen pekerja informal nan mempunyai BPJS Ketenagakerjaan," ujarnya.
Menurut Irham meskipun bekerja di bagian umum namun tidak semua pekerja mempunyai BPJS ketenagakerjaan padahal semestinya itu merupakan tanggungjawab perusahaan.
"Tidak semua pekerja umum punya BPJS Ketenagakerjaan. Ini paradoks padahal semestinya perusahaan wajib menyediakan," jelasnya.
Sarbumusi NU akhirnya mengambil inisiatif dengan program iuran berdikari setiap anggotanya untuk membantu korban kecelakaan anggotanya. "Kami terpaksa berinovasi lantaran pemerintah tidakhadir menangani ini padahal dengan Rp7 triliun dampaknya bakal sangat besar untuk mitigasi kecelakaan kerja," ungkap Irham.
Menurut Irham perihal nan krusial untuk segera dilakukan pemerintah bukan hanya menjaga negara secara pertahanan saja namun juga menjaga negara secara ekonomi.
"Pertahanan negara jangan dilihat dari kacamata militer semata kita sedang diserang secara ekonomi melalui perang dagang" tuturnya.
"Daripada membikin UU mubazir, fokuslah pada rumor ekonomi. Kemiskinan ekstrem kudu segera ditangani sebelum terjadi resesi terbuka" tambahnya.
Ia mengingatkan janji pertumbuhan ekonomi 8% Prabowo bakal susah tercapai jika kemiskinan terus meningkat ekonomi lantaran ekonomi negara ini 60% ditopang konsumsi rumah tangga jika rakyat miskin maka rakyat kehilangan daya beli.
Irham berpesan kepada kaum muda untuk terus belajar banyak perihal seperti AI, machine learning serta meningkatkan skil dan tidak membuang waktu dengan berpolitik praktis.
"Pengangguran muda kita 18-21% output pendidikan tidak kompetitif jangan buang waktu dengan politik praktis Belajar AI, machine learning, dan upgrade skill. Dunia semakin kompetitif," katanya.
"Saya nan sudah sepuh saja belajar AI. Kalian nan muda kudu lebih gila lagi. Fokus pada pengetahuan, bukan omong kosong," tambahnya.
Menurut Irham masa depan anak muda dan Indonesia ada pada tangan anak muda sendiri dan tidak terlalu berjuntai pada pemerintah serta terus meningkatkan keahlian individu.
"Kita kudu mengendalikan masa depan sendiri, pemerintah kudu lindungi rakyat, generasi muda kudu berinvestasi pada skill. Tidak ada waktu untuk bermain-main," pungkasnya.
11 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·