ARTICLE AD BOX
Di tengah dentuman perang Iran, ada satu kemandang nan tidak berasal dari ledakan rudal. Gema itu terbit dari ruang jiwa kolektif bumi Arab melalui lagu lawas “Wein al-Malayeen”. Penyanyinya adalah Julia Boutros, seorang Kristen Maronit dari Lebanon selatan, dengan nada antusias dan menggugat. Ini beberapa cuplikan lirik lagu tersebut:
Di manakah, di manakah?
Tuhan berbareng kita, lebih kuat
dan lebih besar dari kaum Zionis.
Mereka menggantung, membunuh,
mengubur, dan mematikan.
Tanahku tidak bakal dipermalukan.
Darah merahku mengairi tanah hijau
dengan rasa lemon.
Api revolusi tidak bakal padam.
Kita adalah pemenangnya.
Lagu ini kembali beredar di sosial media, menjadi semacam kidung kebangsaan informal di kalangan orang-orang tertentu, termasuk di Indonesia, di mana mereka nan tak pernah secara resmi mendukung Iran, namun, tiba-tiba ikut merasakan getarannya di tengah dentuman perang nan membentang dari Teheran hingga Haifa.
Pertanyaan tersebut dalam konteks perang hari ini tampaknya menjadi subversif. Karena dia tidak diarahkan kepada musuh eksternal, namun, kepada bumi Arab nan tampak terjebak dalam dilema sekuritas (security dilemma) antara loyalitas pada Amerika Serikat alias solidaritas kepada Iran.
Orang Arab nan pro AS-Israel tampaknya sekarang terjatuh dalam “dilema pasir hisap” (quicksand dilemma). Pada satu sisi, AS memerlukan mereka untuk memenangkan perang. Pada sisi lain, orang Arab takut bahwa kemenangan itu bakal menghancurkan mereka. Karenanya, tidak ada skenario menyenangkan bagi mereka. Kalah menjadi abu, menang menjadi arang.
Perang Iran, sejatinya, bukan hanya bentrok antara negara. Ia akumulasi dari sejarah panjang intervensi, rivalitas, dan luka nan belum kering. Dari Irak hingga Suriah, Yaman hingga Lebanon, Timur Tengah telah lama menjadi ruang kejuaraan di mana kekuasaan dunia dan regional berjumpa secara brutal. Namun, di kembali semua itu, satu perihal nan menghilang adalah hilangnya “darah, kebanggaan dan kemarahan” orang Arab di tengah perang nan berkecamuk. Di tengah kehancuran akomodasi dasar (sekolah, rumah sakit dan rumah tinggal) dan ribuan nyawa tak berdosa berguguran di Tanah Iran. Di sinilah lagu ini menemukan momentumnya kembali.
Dunia Arab hari ini tampak seperti masyarakat nan capek untuk marah, pragmatis dan kehilangan nilai diri. Setelah beberapa dasawarsa bentrok berjalan tanpa akhir, kemarahan tidak lagi menjadi daya transformasi, melainkan beban emosional nan susah dipikul. Ia tidak hilang, namun, dia kehilangan ruang politik untuk diekspresikan secara bermakna. Dan, ketika kemarahan kehilangan ruang, dia menemukan ruangnya pada musik.
Sejarah menunjukkan bahwa dalam situasi di mana ruang politik menyempit, ekspresi seni dan budaya justru menguat. Lagu menjadi arsip emosi nan tidak bisa disensor sepenuhnya. Ia bergerak melintasi pemisah negara, dan juga melindas rasa takut individu. Dalam konteks ini, lagu ini bukan sekadar lagu Lebanon. Ia adalah bunyi lintas batas, bunyi Arab nan terfragmentasi, namun, sedang mencari resonansi bersama.
Kebangkitan kembali lagu ini di tengah perang Iran menunjukkan bahwa bentrok tidak hanya dipahami melalui narasi geopolitik, namun, juga melalui narasi emosional. Orang-orang tidak hanya bertanya siapa nan menang alias kalah, namun juga apa makna semua ini bagi bumi global?
Dan, acap pertanyaan itu tidak menemukan jawabannya di ruang konvensi internasional alias pidato politik. Ia justru menemukan bentuknya dalam lagu, puisi, dan bisikan-bisikan kolektif nan susah ditangkap oleh statistik perang.
Namun, tidak semua kemarahan adalah kekuatan. Kemarahan nan tidak terarah dapat dengan mudah dimanipulasi dan menjadi bahan bakar bagi propaganda, ekstremisme, alias apalagi bentrok baru. Di sinilah letak paradoksnya. Dunia Arab tidak hanya menghadapi krisis kemarahan nan hilang, namun juga krisis kemarahan nan salah arah.
Lagu ini berdiri di antara dua krisis. Ia tidak menghasut, namun dia juga tidak menenangkan. Ia mengingatkan bahwa kemarahan, jika tetap ada, kudu ditemukan kembali, bukan sebagai ledakan emosional, namun sebagai kesadaran moral.
Dalam konteks perang Iran, ini penting, oleh lantaran bentrok ini berpotensi memperluas fragmentasi regional, memperdalam polarisasi, dan memperpanjang siklus kekerasan. Tanpa kesadaran kolektif nan bisa membaca bentrok ini secara kritis, masyarakat hanya bakal menjadi penonton, dan juga menjadi bagian dari narasi nan mereka tidak sepenuhnya pahami.
Di sinilah musik memainkan peran nan tidak bisa diremehkan. Ia bukan solusi, namun, dia adalah pemantik. Julia Boutros, dengan caranya nan tenang, namun, tajam, tidak sedang memberikan jawaban kepada bumi Arab. Ia hanya mengusulkan pertanyaan nan mungkin terlalu lama dihindari, di mana Orang Arab nan mengandalkan jasa pengamanan pada AS, namun, berakibat menghancurkan tetangganya Iran.
Perang Iran mungkin bakal berhujung sigap alias lambat, entah melalui negosiasi/diplomasi, kelelahan, kemenangan sepihak dan kekalahan nan menghancurkan. Namun, pertanyaan nan diajukan oleh lagu ini bakal terus menghantui ruang-ruang publik dan privat, menunggu untuk dijawab.
Pungkasannya, di tengah perang nan pastinya bakal meninggalkan luka, darah dan kematian di Iran, lagu ini menggugat, “di manakah jutaan orang Arab?”.
Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·