ARTICLE AD BOX
Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu memberikan sebuah perumpamaan nan sangat bagus dan menakjubkan. Beliau berkata,
مثلنا ومثلكم كمثل قوم كانوا على محجّة بيضاء، فبينما هم كذلك يسيرون؛ هاجت ريح عجاجة فضلّوا الطريق – اشتبه الطريق بسبب العجاج والريح والتبس عليهم
“Perumpamaan antara kami dan kalian adalah seperti segolongan manusia nan melangkah di atas jalan nan putih dan lurus. Saat mereka sedang menempuhnya, tiba-tiba datang angin debu nan kencang sehingga mereka kehilangan arah, lantaran jalan menjadi tidak jelas akibat debu dan angin tersebut.
فقال بعضهم: الطَّريقُ ذاتُ اليَمين؛ فأخذوا فيها فتاهوا وضلّوا، وقال آخرون: الطَّريقُ ذاتُ الشِّمال؛ فأخذوا فيها فتهاووا وضلّوا، وقال آخرون: كنّا في الطَّريق حيث هاجت الرِّيح فننيحوا فأناخوا فأصبحوا، فذهب الرِّيح وتبيَّن الطَّريق
Sebagian mereka berkata, ‘Jalannya ke kanan’, lampau mereka pun berbelok ke kanan, namun justru tersesat dan celaka. Ada pula nan berkata, ‘Jalannya ke kiri’, lampau mereka pun berbelok ke kiri, tetapi akhirnya juga tersesat dan celaka. Sementara nan lain berkata, ‘Kami tetap di tempat kami, lantaran kami memang berada di jalan ini.’ Maka mereka pun berakhir dan menunggu sampai angin besar berlalu. Setelah angin reda, jalan pun kembali terlihat jelas.’
فهؤلاء هم الجماعة، قالوا: نلزم ما فارقنا عليه رسولُ الله صلى الله عليه وسلم حتّى نلقاه، ولا ندخل في شيءٍ من الفِتَن
Mereka nan terakhirlah nan disebut sebagai ‘al-jama’ah’. Mereka berkata, ‘Kami bakal tetap berpegang pada aliran nan diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kami berjumpa beliau lagi, dan kami tidak bakal terjerumus ke dalam fitnah-fitnah’.” (Riwayat ini disebutkan secara komplit oleh Ibnu al-A‘rabi di dalam kitab Mu‘jam-nya no. 713; juga oleh al-Khathib dalam kitab al-‘Uzlah, hal. 72; dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 39: 496)
Sikap nan diambil oleh Sa‘ad bin Abi Waqqash, ‘Abdullah bin ‘Umar, dan sejumlah sahabat Nabi lainnya ketika ada perselisihan nan terjadi di antara Mu‘awiyah dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma tidaklah diselesaikan dengan peperangan alias pertumpahan darah sesama kaum muslimin, melainkan melalui upaya ‘islah’ alias perdamaian kedua belah pihak, sikap kehati-hatian dalam bertindak, dan pertimbangan matang dalam mengambil keputusan.
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mempunyai dasar dalam ijtihadnya, begitu pula Mu‘awiyah radhiyallahu ‘anhu. Orang nan berijtihad dengan tulus untuk mencari kebenaran, mereka pasti mendapatkan pahala. Jika ijtihadnya benar, dia mendapat dua pahala; jika keliru, dia tetap mendapat pahala ijtihad meskipun salah dan kesalahannya diampuni Allah.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إذا حكم الحاكمُ فاجتهد فأصاب فله أجران، وإذا اجتهد فأخطأ فله أجر
“Jika seorang pengadil menetapkan suatu norma kemudian berijtihad dan hasil ijtihadnya benar, maka dia memperoleh dua pahala. Namun jika dia berijtihad lampau keliru, maka dia tetap memperoleh satu pahala.” (HR. al-Bukhari no. 7352 dan Muslim no. 1716, dari ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu)
Sebagian besar sahabat berpandangan bahwa penyelesaian perselisihan semacam itu tidaklah ditempuh dengan kekerasan dan peperangan, melainkan melalui upaya perdamaian, menghindari terjadinya pertumpahan darah, serta mengupayakan persatuan kaum muslimin dan beragam langkah lainnya.
Dampak dan akibat tuduhan berikutnya nan juga rawan adalah rusaknya persatuan dalam berakidah dan bermasyarakat. Fitnah bisa menyebabkan perpecahan dalam masyarakat, melemahkan persaudaraan sesama kaum muslimin dan hubungan dalam beragama, serta menumbuhkan permusuhan, kebencian, dan dendam di tengah manusia.
Hal ini dijelaskan dalam sabda sahih nan diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu. Beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,
كان أصحابُ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم يسألونه عن الخيرِ، وكنتُ أسأله عن الشرِّ مخافةَ أن يُدركني، فقلتُ: يا رسولَ الله! إنَّا كنَّا في جاهليَّةٍ وشرٍّ، فجاءنا اللهُ بهذا الخيرِ، فهل بعد هذا الخيرِ من شرٍّ؟ قال: نعم، فقلتُ: يا رسولَ الله! وهل بعد هذا الشرِّ من خيرٍ؟ قال: نعم، وفيه دَخَن
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada beliau tentang kebaikan, sedangkan saya bertanya kepada beliau tentang keburukan lantaran cemas keburukan itu bakal menimpaku. Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, dulu kami berada dalam keadaan jahiliah dan keburukan, lampau Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini tetap ada keburukan?’ Beliau menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah setelah keburukan itu tetap ada kebaikan?’ Beliau menjawab, ‘Ya, namun di dalamnya tetap terdapat ‘dakhan’ (kabut).’” (HR. Al-Bukhari no. 3606 dan Muslim no. 1874)
Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
بقيَّةٌ — وفي روايةٍ: جماعةٌ — على أقذاءِ، وهدنةٌ على دخَنٌ
“Akan ada (segolongan) manusia nan berasosiasi di atas ‘noda’ (penyimpangan) dan perdamaian nan diselimuti ‘kabut’ (yang dibangun di atas penyimpangan, kemunafikan, kezaliman, dan kerancuan).”
Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تَرجِعُ قلوبُ أقوامٍ على الذي كانت عليه
“Hati sebagian orang tidak kembali seperti keadaan sebelumnya.” (HR. Ahmad no. 23282, Abu Dawud no. 4246, dan Ibnu Hibban no. 5963. Lihat pula as-Shahihah no. 2739, karya al-Albani)
Faidah nan dapat diambil dari sabda ini adalah ketika tuduhan itu menyala dan bergejolak, dia bisa mengubah kondisi hati manusia dan berpotensi merusak nilai-nilai persatuan serta memutus ikatan persaudaraan nan telah di bangun di atas keimanan.
Padahal Allah Ta’ala telah berfirman,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang beragama itu bersaudara. Oleh lantaran itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar Anda dirahmati.” (QS. al-Hujurat: 10)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
كونوا عبادَ اللهِ إخوانًا، المسلمُ أخو المسلمِ لا يَخذُلُه ولا يَظلِمُه ولا يَحقِرُه، التقوى ها هنا بحسبِ امرئٍ من الشرِّ أن يَحقِرَ أخاهُ المسلمَ
“Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah nan bersaudara. Seorang muslim adalah kerabat bagi muslim lainnya, tidak menghinanya, tidak pula menzaliminya, dan tidak pula meremehkannya. Ketakwaan itu ada di sini (hati). Dan sudah cukuplah seseorang berada dalam keburukan jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim no. 3564, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Dan hadis-hadis nan membahas perihal ini jumlahnya sangat banyak.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 4
***
Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 38-40 dan 45-46.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·