Dampak Buruk Fitnah (Bag. 4): Hilangnya Wibawa Ahli Ilmu dan Mulai Pudarnya Kebenaran

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Termasuk juga akibat jelek tuduhan adalah siapa pun nan terlibat di dalamnya, terutama dari kalangan  mahir ilmu, wibawanya bakal turun dan kehormatannya menurun di hadapan manusia. Sebaliknya, siapa nan Allah selamatkan dari fitnah, justru bakal Allah angkat derajatnya. Keselamatannya itu menjadi karena ilmunya semakin berfaedah bagi banyak orang, dan kebaikan pun terus bakal semakin bertambah dengan izin Allah Ta‘ala.

Oleh lantaran itu, Abdullah bin ‘Aun pernah berkata,

كان مسلم بن يسار عند الناس أرفع من الحسن – أي البصري – فلما وقعت الفتنة خفّ مسلم فيها وأبطأ عنها الحسن – أي تأخر واعتزل الفتن – فأما مسلم فإنه اتّضع أي عند الناس وأما الحسن فإنه ارتفع

“Dahulu, di mata masyarakat, kedudukan Muslim bin Yasar lebih tinggi daripada al-Hasan al-Bashri. Namun ketika tuduhan terjadi, Muslim justru terlibat dan masuk ke dalamnya, sedangkan al-Hasan menjauh dan menahan diri darinya. Akibatnya, Muslim pun turun kedudukannya di mata orang-orang, sementara al-Hasan justru semakin tinggi derajatnya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf, 11: 128; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 165; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)

Muslim bin Yasar nan disebutkan dalam perkataan Abdullah bin ‘Aun ini memang termasuk orang nan terlibat dalam tuduhan Ibnul Asy‘ats. Namun setelah tuduhan itu berakhir, dia selalu memuji Allah Tabaraka wa Ta’ala dan berterima kasih kepada-Nya.

Muslim bin Yasar berkata,

يا أبا قلابة! إني أحمدُ اللهَ إليك أني لم أُرمِ فيها بسهمٍ، ولم أطعَن فيها برمحٍ، ولم أضرِب فيها بسيفٍ

“Wahai Abu Qilabah, sungguh saya memuji Allah di hadapanmu lantaran saya tidak melepaskan satu anak panah pun, tidak menusuk dengan tombak, dan tidak mengayunkan pedang.”

Maksudnya adalah, ‘Aku memang ikut melangkah berbareng mereka, tapi saya tidak ikut berperang, tidak memanah, dan tidak menghunuskan pedang.’ Ia mengucapkan perihal itu sembari berterima kasih kepada Allah. Saat itu, Abu Qilabah rahimahullah datang bersamanya.

Abu Qilabah pun menasihatinya,

يا أبا عبد الله! فكيف بمن رآك واقفًا في الصف؟ أنت عالمٌ معروفٌ بين الناس ومكانتك معروفة؛ فكيف بمن رآك بين الصفّين؟ فقال: هذا مسلم بن يسار، والله! ما وقف هذا الموقف إلا وهو على الحق؟! ووقوفك بين الصفّين، وحضورك بنفسك، وقيامك مع هؤلاء، ووجودك نفسه؛ هذا مما يزيد الفتنة

“Wahai Abu ‘Abdillah, gimana dengan orang-orang nan melihatmu berdiri di barisan mereka? Engkau ini seorang berilmu nan dikenal luas, kedudukanmu pun sangat dihormati. Lalu gimana kesan orang nan melihatmu berada di antara dua barisan itu?” Mereka nan terlibat (seakan) mengatakan, ‘Ini Muslim bin Yasar. Demi Allah, dia tidak mungkin berdiri di posisi ini selain lantaran berada di pihak nan benar!’ Padahal, berdirimu di antara dua barisan, kehadiranmu secara langsung, dan ikut berbareng mereka meski tanpa mengangkat senjata pun sudah cukup untuk memperbesar dan menyuburkan fitnah!”

Mendengar penjelasan itu, Muslim bin Yasar pun menangis. Setelah kejadian itu, Abu Qilabah berkata,

فبكى وبكى حتى خشيتُ أن لم أكن قلتُ له شيئًا

“Ia menangis dan terus menangis, sampai saya cemas seandainya saya tidak menyampaikan nasihat itu kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘d dalam ath-Thabaqat, 7: 187; Khalifah dalam Tarikh-nya, hal. 52; dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya, 58: 146)

Dampak jelek tuduhan berikutnya adalah perkara menjadi samar dan bercampur; banyak orang tidak bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bahkan, orang dibunuh tidak mengetahui karena dia dibunuh, dan pembunuhnya pun membunuh tanpa mengetahui alasannya. Fitnah semakin berkobar, manusia dilanda kebingungan, jiwa-jiwa manusia mudah berubah-ubah, ancaman semakin membesar, beragam keburukan mengepung manusia dari segala arah, dan segala urusan menjadi serba samar.

Abu Musa al-Asy‘ari radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,

إن الفتنة إذا أقبلت شَبَّهَت، وإذا أدبرت تبيَّنت

“Sesungguhnya tuduhan itu, ketika datang, dia membikin segala sesuatu tampak samar; namun ketika telah berlalu, barulah keadaannya menjadi jelas.” (Tarikh ath-Thabari, 3: 26; penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah)

Artinya, saat tuduhan baru muncul dan menerpa manusia, urusannya terlihat begitu samar dan susah diketahui. Tetapi setelah tuduhan itu reda dan berlalu, barulah orang-orang menyadari hakikatnya dan memahami apa nan sebenarnya terjadi.

Mutharrif bin ‘Abdillah bin asy-Syikhkhir rahimahullah juga mengatakan,

إن الفتنة لا تجيء حين تجيء لتهدي الناس، ولكن لتُفَرِّق المؤمن على دينه

“Fitnah itu tidaklah datang untuk memberi petunjuk kepada manusia, tetapi sebagai ujian, ialah menjauhkan seorang mukmin dari agamanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 7: 142; dan Abu Nu‘aim dalam al-Hilyah, 2: 204)

Pelajaran nan bisa diambil dari perihal ini dengan memandang dahsyatnya tuduhan Al-Masih Dajjal, ialah di antara tuduhan terbesar nan bakal menimpa umat manusia di akhir zaman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya beragam prinsip nan sangat jelas dan perkara-perkara nan gamblang, nan membongkar kedustaan dan keburukan Dajjal dan menerangkan hakikatnya. Namun, tetap saja banyak sekali manusia nan mengikutinya, jumlahnya pun hanya Allah nan mengetahuinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من سمع بالدجال فلينأ عنه

“Barang siapa mendengar kemunculan Dajjal, hendaklah dia menjauh darinya.”

Maksudnya, menjauh dari bahayanya dan tidak mendekati tempatnya sama sekali. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai bersumpah,

فوالله! إن الرجل ليأتيه وهو يحسب أنه مؤمن فيتبعه لما يبعث به من الشبهات

“Demi Allah! Seseorang betul-betul mendatanginya sedang dia merasa dirinya beriman, tetapi justru dia mengikutinya lantaran tertipu dengan beragam syubhat nan disebarkan Dajjal.” (HR. Ahmad no. 19968, Abu Dawud no. 4319, dan al-Hakim, 4: 576 dari sabda ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu. Syekh al-Albani menilainya sahih dalam Shahih al-Jami‘ no. 6301).

Disebutkan dalam sabda sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من قاتل تحت راية عمية، يغضب لعصبة أو يدعو إلى عصبة أو ينصر عصبة، فقتل، فقتلة جاهلية

“Siapa saja nan bertempur di bawah panji ‘immiyyah’, lantaran fanatisme golongan, alias menyeru kepada fanatisme, alias memihak fanatisme golongan, lampau dia terbunuh, maka matinya adalah kematian jahiliah.” (HR. Muslim no. 1848, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Yang dimaksud dengan kata ‘immiyyah’ adalah perkara nan kabur, gelap, samar, dan tidak jelas perkaranya, tidak tampak padanya kebenaran dan kebatilan. Inilah prinsip tuduhan nan membikin manusia terombang-ambing di dalamnya, situasi menjadi semakin kacau, dan kebenaran semakin pudar di pandangan mereka.

Di antara kisah menarik dan penuh hikmah nan berangkaian dengan perihal ini adalah cerita sahabat nan mulia, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu.

Ibnu Sirin rahimahullah menceritakan,

قيل لسعد بن أبي وقاص: ألا تقاتل؟

“Sa‘ad bin Abi Waqqash pernah ditanya, ‘Mengapa engkau tidak ikut berperang?!’”

Yang dimaksud adalah tuduhan besar saat terjadinya peperangan antara Mu‘awiyah dan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma. Sa‘ad bin Abi Waqqash memilih untuk menjauh dan tidak terlibat. Mereka pun berbicara kepadanya,

ألا تقاتل؟! فإنك من أهل الشورى، وأنت أحق بهذا الأمر من غيرك؟

“Mengapa engkau tidak ikut berperang? Bukankah engkau termasuk personil syura, dan engkau lebih berkuasa atas urusan ini dibanding nan lain?!”

Maka, Sa‘ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu menjawab,

لا أقاتل حتى تأتوني بسيفٍ له عينان ولسان وشفتان يعرف المؤمن من الكافر

“Aku tidak bakal bertempur sampai kalian mendatangkan kepadaku sebilah pedang nan punya dua mata, lidah, dan dua bibir, nan bisa mengenali mana nan beragama dan mana nan kafir.”

Maksudnya, ‘Datangkanlah kepadaku pedang nan bisa mengenali siapa nan beragama dan siapa nan kafir. Jika pedang itu ditebaskan kepada seorang muslim, pedang itu hanya bakal terpental dan tidak membunuhnya. Namun, jika ditebaskan kepada orang kafir, barulah pedang itu bisa membunuhnya’.

Lalu beliau menegaskan,

فقد جاهدت وأنا أعرف الجهاد

“Aku pernah berjihad, dan saya betul-betul mengerti apa itu jihad!” (Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf, no. 20736; Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat, 3: 143; dan Abu Nu‘aim dalam Ma‘rifat ash-Shahabah, 1: 135)

Maksudnya, ‘Perang semacam ini, nan membikin kaum muslimin saling membunuh dan menumpahkan darah, tidak bakal saya ikuti, selain jika kalian bisa memberiku pedang dengan sifat tersebut (sebagaimana nan telah disebutkan).’

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 3

***

Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 33-38.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info