ARTICLE AD BOX
Salah satu akibat jelek tuduhan adalah membikin seorang hamba beralih dari ibadah nan sebenarnya menjadi tujuan penciptaannya. Ia menjauh dari ketaatan nan Allah perintahkan untuk diwujudkan, dan lalai dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Akhirnya, hidupnya, hari demi hari, lenyap tersibukkan oleh hal-hal nan sia-sia, perkataan nan tak berguna, dan beragam urusan tak krusial sebagai akibat dari fitnah-fitnah nan datang silih berganti.
Hatinya pun menjadi resah dan kacau, terseret oleh beragam kesibukan itu. Ia tidak lagi merasakan ketenangan dan ketenteraman, apalagi tidak memperoleh dari zikir kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala itu berupa ketenangan nan semestinya dia dapatkan. Akibatnya, hatinya goyah, pikirannya semrawut, dan dia terus disibukkan oleh perkara-perkara nan membuatnya lalai.
Ini sebagaimana nan disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda nan sahih,
عِبَادَةٌ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ
“Beribadah di masa ‘Al-Harj’ itu seperti berhijrah kepadaku” (HR. ath-Thabrani dalam al-Kabir, 20: 213 dari Mi‘qal bin Yasar radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami‘ no. 3974)
Makna “Al-Harj” adalah keadaan ketika manusia berada dalam kegoncangan dan kegelisahan; saat segala urusan menjadi kacau, tidak stabil, dan tuduhan serta pembunuhan tersebar di tengah masyarakat. Siapa saja nan pada masa seperti itu memilih untuk menyibukkan diri dengan ibadah kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala, maka kedudukannya seperti orang nan berhijrah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ini menunjukkan bahwa siapa pun nan hidup di tengah kekacauan, lampau konsentrasi pada ibadah, berfaedah dia berada pada posisi nan selamat dari beragam ancaman fitnah. Pada waktu seperti itu juga terdapat isyarat bahwa pilihan terbaik bagi seseorang adalah dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi fitnah, agar dia memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan ketenteraman. Ini sebagaimana nan disampaikan juga oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadis,
إِنَّ السَّعِيدَ لِمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ
“Sesungguhnya orang nan betul-betul senang adalah orang nan dijauhkan dari tuduhan (beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulang ucapan itu hingga tiga kali).” (HR. Abu Dawud no. 423, dari al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu ‘anhu dan disahihkan al-Albani dalam ash-Shahihah no. 975)
Kebahagiaan itu ada pada sikap menjauhi fitnah, memperbanyak ibadah, zikir, dan ketaatan kepada Allah, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan beragam kebaikan saleh, zikir-zikir, dan beragam ibadah lainnya.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu ketika bangun pada malam hari dalam keadaan cemas. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سُبْحَانَ اللَّهِ! مَاذَا أُنْزِلَ اللَّهُ مِنَ الْخَزَائِنِ!؟ مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْفِتَنِ!؟ مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ لِلصَّلَاةِ؟
“Mahasuci Allah! Betapa banyak perbendaharaan (kebaikan) nan Allah turunkan! Dan sungguh banyak tuduhan nan diturunkan! Siapa nan bakal membangunkan para penunggu kamar-kamar ini (istri-istri Nabi) untuk salat?” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya no.115)
Dengannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan umatnya bahwa ketika tuduhan itu muncul, manusia hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُوقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُرَاتِ يُصَلِّينَ، رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ فِي الْآخِرَةِ
“Siapa nan bakal membangunkan para penunggu kamar-kamar (istri-istri Nabi) agar mereka salat? Betapa banyak wanita nan berpakaian di bumi namun bugil di akhirat.” (HR. Bukhari no. 1126)
Dan termasuk dalil nan menunjukkan perihal ini juga adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ
“Bersegeralah melakukan amal-amal saleh sebelum datangnya tuduhan seperti potongan malam nan gelap gulita.” (HR. Muslim no. 118, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Ini adalah pengarahan agar manusia segera memperbanyak kebaikan saleh, ialah hendaknya manusia bersegera melakukan ketaatan kepada Allah, seperti salat, zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an.
Saat tuduhan datang bertubi-tubi, manusia condong teralihkan dari kebaikan dan ibadah, sehingga hanya sedikit kebaikan nan tercatat untuk mereka. Oleh lantaran itu, hendaknya mereka segera kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan memohon taufik, pertolongan, dan penjagaan-Nya.
Ketika tuduhan terjadi pada masa tabi‘in, Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah nan dikenal sebagai sosok nan menjauhi tuduhan pernah berkata,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّهُ وَاللَّهِ مَا سَلَّطَ اللَّهُ الْحَجَّاجَ عَلَيْكُمْ إِلَّا عُقُوبَةً؛ فَلَا تُعَارِضُوا عُقُوبَةَ اللَّهِ بِالسَّيْفِ، وَلَكِنْ عَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ و التَضَرُّعِ
“Wahai manusia! Demi Allah, Allah tidaklah menjadikan Al-Hajjaj berkuasa atas kalian selain sebagai hukuman. Karena itu, jangan kalian melawan balasan Allah dengan pedang. Bersikaplah tenang, dan perbanyaklah merendahkan diri dalam angan memohon pertolongan” (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa‘ad dalam ath-Thabaqat al-Kubra, 7: 164, dan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12: 178)
Karena Allah Ta‘ala telah berfirman,
وَلَقَدْ أَخَذْنَاهُم بِالْعَذَابِ فَمَا اسْتَكَانُوا لِرَبِّهِمْ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan balasan kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Tuhan mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri.” (QS. Al‑Mu’minun: 76)
Kewajiban manusia adalah bersimpuh dan tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla, merendahkan diri di hadapan-Nya, senantiasa memperbanyak zikir kepada-Nya, serta memperbaiki kondisi dirinya dan keluarganya. Ia juga kudu tetap istikamah dalam menaati Rabb-nya dengan langkah nan diridai oleh Allah Tabaraka wa Ta‘ala.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau pernah berkata,
تكونُ فِتْنَةٌ لا ينجو منها إلا دعاءٌ كدعاءِ الغريقِ
“Akan datang sebuah tuduhan (ujian) nan tidak ada nan selamat darinya selain orang nan bermohon seperti angan orang nan sedang tenggelam.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Syaibah, 7: 53)
Setiap orang tentu mengetahui gimana kondisi seorang nan bakal tenggelam lampau berdoa; ialah orang nan telah dikejar oleh tenggelamnya (kematian), gimana dia bakal berdoa!? Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
تَكُونُ فِتْنَةٌ لَا يُنَجِّي مِنْهَا إِلَّا دُعَاءُ الْغَرِيقِ
“Tidak ada nan dapat menyelamatkan darinya selain angan seperti doanya orang nan tenggelam.”
Maksudnya, di posisi seperti itu engkau bakal betul-betul menghadap kepada Allah Tabaraka wa Ta‘ala dengan penuh kejujuran dan kepercayaan bahwa Dia bakal menyelamatkanmu, menolongmu, memberi jalan keluar bagimu, dan menjagamu.
[Bersambung]
***
Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Kitab Atsarul Fitan, karya Syekh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 15-20.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·