ARTICLE AD BOX
Seorang penuntut pengetahuan nan menggeluti bagian tafsir pasti tidak asing dengan kitab berjudul, “Al-Jaami Li Ahkam Al-Qur’an”, sebuah kitab tafsir fenomenal nan sering disebut para ustadz dan dijadikan referensi di dalam karya-karya mereka.
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengatakan,
أَمرَنا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ أنْ نُنزِّلَ الناسَ مَنازلَهُمْ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menempatkan orang sesuai dengan kedudukan mereka.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya, 8: 246; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 4: 379; dan Al-Baihaqi dalam Asy-Syu’ab, 7: 462)
Sungguh kejelekan bagi seseorang nan mengetahui titel sebuah kitab namun tidak mengetahui perihal penulis dan pengarangnya. Oleh lantaran itu, izinkan kami dalam tulisan kali ini untuk berbagi pengetahuan mengenai kisah hidup dan perjalanan hidup penulis dari kitab “Al-Jaami Li Ahkam Al-Qur’an”, salah seorang pemimpin besar tafsir nan pendapatnya menjadi referensi dan rujukan ulama’ di beragam bidang.
Nama beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh Al-Anshari Al-Khazraji Al-Andalusi Al-Qurthubi, seorang mahir tafsir terkemuka dari bagian bumi Eropa, tepatnya dari semenanjung Iberia, nan saat ini terletak di negeri Spanyol dan Portugal.
Tidak ada yg menyebut secara pasti kapan beliau dilahirkan, bakal tetapi muhaqqiq kitab “At-Tidzkar fi Afdal Al-Adzkar lil Qurthubi”, Basyir Uyun, memperkirakan bahwa beliau lahir sekitar akhir abad ke-6 alias awal abad ke-7 Hijriah.
Masa mini dan pendidikan beliau
Beliau rahimahullah lahir dan besar di Cordoba, Andalusia, pada masa kepemimpinan dinasti Al-Muwahhidun. Beliau menetap di Andalusia hingga mendapati runtuhnya Andalusia nan jatuh ke tangan bangsa Franka pada tahun 633 Hijriah. Lalu beliau meninggalkan tanah kelahirannya tersebut dan beranjak ke Mesir dan menetap di sana. Pada saat itu, Mesir menjadi pusat keilmuan Islam, sehingga beliau dimungkinkan untuk menimba pengetahuan dan belajar dari ulama-ulama besar di sana hingga wafat.
Di dalam kitab Nafhu At-Thayyib disebutkan,
“Dan telah masyhur diketahui bahwa Andalusia, khususnya Cordoba, adalah kiblat, pusat peradaban, tempat berdiamnya dan tinggalnya orang-orang nan mempunyai keistimewaan dan ketakwaan, tanah air bagi orang-orang berilmu dan bijaksana, jantung wilayah, sumber mata air pengetahuan pengetahuan nan memancar, dan dari ufuknya muncul bintang-bintang nan menerangi bumi, ialah tokoh-tokoh di zamannya, para ksatria syair dan prosa. Dan di sanalah karya-karya besar diciptakan, dan beragam karya dalam beragam bagian pengetahuan disusun. Telah masyhur pula bahwa Andalusia adalah negeri nan paling banyak mempunyai buku, dan penduduknya adalah orang-orang nan paling peduli dengan perpustakaan, dan merupakan pusat perbelanjaan kitab nan paling laris. Sampai-sampai dikatakan, “Jika ada seorang intelektual meninggal di Seville dan buku-bukunya mau dijual, maka buku-buku itu dibawa ke Cordoba untuk dijual di sana.”
Sejak kecil, Imam Al-Qurthubi sangat mencintai pengetahuan kepercayaan dan bahasa Arab. Di Córdoba beliau belajar bahasa Arab, syair, serta Al-Qur’an. Ia memperoleh wawasan luas dalam bagian pengetahuan fikih, pengetahuan nahwu, dan pengetahuan qira’at dari para ustadz terkenal di zamannya. Setelah ayahnya wafat pada tahun 627 H, dia hidup berdikari dan pernah bekerja sebagai pengangkut batu bata untuk pembuatan tembikar, salah satu industri tradisional di Córdoba saat itu.
Perangai dan adab beliau
Sederhana
Imam Al-Qurthubi rahimahullah dikenal sebagai sosok nan zuhud dan wara’. Para sejarawan banyak memuji dan menyanjungnya lantaran sikap beliau nan menjauhi bumi dan hanya konsentrasi pada kehidupan akhirat. Ibnu Farhun berkata, “Ia termasuk hamba Allah nan saleh, ustadz nan bertakwa, serta menjauhi kesenangan bumi dan sibuk dengan urusan akhirat.” (Ad-Diibaj Al-Madzhab, hal. 671)
Dalam kitab-kitabnya, beliau sering memberikan kritik terhadap penyimpangan moral, ketidakadilan, dan jauhnya masyarakat dari norma kepercayaan pada zamannya. Bukti kezuhudan beliau juga terlihat dalam karyanya seperti “Manhaj Al-Ubbad wa Mahajjah As-Saalikin Az-Zuhhad” dan “At-Tadzkirah bi Ahwal Al-Mauta wa Umuur Al-Aakhirah.”
Imam Al-Qurthubi tidak hidup dalam kemewahan. Ia memakai busana sederhana dan tidak berlebihan dalam berpenampilan, nan artinya menunjukkan bahwa dia tidak tergoda oleh kekayaan dunia.
Berani dan teguh di atas kebenaran
Imam Al-Qurthubi adalah sosok nan pemberani, beliau tidak takut menyampaikan kebenaran, memberikan nasihat kepada penguasa di zamannya nan menyimpang dari jalan nan lurus; baik itu melakukan kezaliman, menerima suap, ataupun lebih mengutamakan non-muslim dalam pemerintahan.
Dalam kitabnya, At-Tadzkirah, beliau menulis,
هذا هو الزمان الذي استولى فيه الباطل على الحق، وتغلَّب فيه العبيد على الأحرار من الخلق، فباعوا الأحكام، ورضي بذلك منهم الحكام، فصار الحكم مكسًا، والحق عكسًا لا يوصل إليه، ولا يقدر عليه، بدَّلوا دين الله، وغيَّروا حكم الله، سمَّاعون للكذب أكَّالون للسحت ((وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)).
“Inilah era di mana kebatilan mengalahkan kebenaran, budak menguasai orang merdeka, norma dijual, dan para penguasa rida dengan perihal itu dari mereka, maka norma menjadi sama dengan pungutan liar, dan kebenaran diputarbalikkan sehingga tidak tercapai norma nan benar. Para penegak norma pun tidak berkekuatan lantaran perihal tersebut. Mereka mengganti kepercayaan Allah serta mengubah norma Allah, mereka doyan mendengar ketidakejujuran dan menyantap nan haram. Kemudian beliau membacakan firman Allah (yang artinya), “Barangsiapa nan tidak memutuskan menurut apa nan diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang nan kafir.” (QS. Al-Maidah: 44).”
Disiplin dan tekun dalam menuntut ilmu
Imam Al-Qurthubi menghabiskan seluruh hidupnya untuk belajar, mengajar, dan menulis tanpa mengenal lelah. Para sejarawan menggambarkannya sebagai orang nan waktunya diisi dengan ibadah, penelitian, dan menulis karya ilmiah.
Beliau sangat doyan membaca dan mengumpulkan buku. Beliau banyak mengutip dari kitab-kitab ustadz besar seperti Ibnu ’Abdi Al-Barr dan Ibn Al-’Arabi.
Jujur dan amanah dalam keilmuan
Beliau dikenal sangat jujur dalam keilmuan. Beliau selalu menulis dan mencantumkan sumber pendapat nan dia ambil dan menyebut nama pemilik aslinya. Beliau menyampaikan di dalam kitab tafsirnya,
وشرطي في هذا الكتاب إضافة الأقوال إلى قائليها، والأحاديث إلى مصنفيها، فإنه يقال: من بركة العلم أن يضاف إلى قائله
“Dan syaratku dalam kitab ini, saya berupaya menisbatkan dan menyandarkan setiap pendapat kepada pemiliknya dan setiap sabda kepada perawinya, lantaran pernah dikatakan bahwa salah satu keberkahan pengetahuan adalah dengan menyandarkan sebuah perkataan kepada pemiliknya.” (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an al-Karim, 1: 3)
Baca juga: Biografi Ringkas Imam Abu Hanifah
Guru-guru Imam Al-Qurthubi
Secara umum, guru-guru beliau dapat kita bagi berasas tempatnya menjadi 2 tempat:
Guru-guru beliau di Andalusia
Ibnu Abi Hujjah
Beliau adalah Syekh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Al-Qaisi, nan dikenal sebagai Ibnu Abi Hujjah, nan berasal dari Cordoba.
Beliau memimpin pengajaran Al-Qur’an dan bahasa Arab, dan pindah ke Sevilla setelah jatuhnya Cordoba. Beliau ditawan oleh orang-orang Romawi di laut, disiksa, dan meninggal bumi setelah itu di Mallorca. Di antara karya-karyanya adalah: “Tasdid al-Lisan li-Dzikr Anwa’ Al-Bayan” (Pelurusan Lidah dalam Menyebutkan Jenis-Jenis Penjelasan); “Tafhim Al-Qulub Aayaat ‘Allam Al-Ghuyub” (Memahamkan Hati tentang Ayat-Ayat Sang Maha Mengetahui nan Gaib); “Mukhtashar At-Tabshirah fi Al-Qira’at” (Ringkasan Al-Tabshirah dalam Qira’at).
Imam Al-Qurthubi memperoleh 7 sanad qira’at dari gurunya ini. Beliau adalah pembimbing pertama nan ditanya oleh Imam Al-Qurthubi tentang tatacara memandikan dan menyalatkan jenazah ayahnya, nan terbunuh dalam serangan mendadak nan dilancarkan musuh ke Cordoba.
Al-Qurthubi berkata, “Saya bertanya kepada pembimbing kami, mahir qira’at, Ustadz Abu Ja’far Ahmad, nan dikenal sebagai Abu Hujjah, dan beliau menjawab, ‘Mandikan dan salatkanlah jenazahnya, lantaran ayahmu tidak terbunuh lantaran ikut bertempur dalam pertempuran antara dua barisan …'” (Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’an; karya Al-Qurthubi, 4: 272. Masalah kelima dari tafsir ayat 169 dan 170 dari Surah Ali Imran)
Ibnu Abi Hujjah wafat pada tahun 643 H.
Ibnu Ubay
Rabi’ bin Ahmad bin Rabi’ Al-Asywi, berasal dari Cordoba dan merupakan seorang pengadil di sana. Beliau adalah seorang nan saleh, setara dalam memberikan keputusan serta mempunyai pengetahuan nan luas. Beliau juga mempunyai kontribusi dalam pengetahuan hadis.
Setelah bertanya kepada Ibnu Abi Hujjah tentang tatacara memandikan jenazah ayahnya, Imam Al-Qurthubi juga bertanya kepadanya. Beliau menjawab, “Hukumnya sama dengan norma orang-orang nan terbunuh dalam pertempuran (tidak dimandikan)…” (Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’an; karya Al-Qurtubi, 4: 272)
Setelah jatuhnya Cordoba, beliau pindah ke Sevilla dan wafat di sana.
Hakim Abu Al-Hasan Ali bin Qathral
Beliau adalah Abu Al-Hasan Ali bin Abdullah bin Muhammad Al-Anshari Al-Qurthubi, nan dikenal sebagai Ibnu Qathral, seorang mahir fikih beraliran Maliki.
Guru-guru beliau di Mesir
Abu Al-Abbas Al-Qurthubi
Beliau adalah Al-Abbas Dhiya’uddin Ahmad bin Umar bin Ibrahim bin Umar Al-Anshari Al-Qurthubi. Beliau merupakan tokoh terkemuka mahir fikih beraliran Maliki. Beliau lahir di Cordoba dan pindah berbareng ayahnya dari Andalusia pada usia muda. Beliau banyak mendengar sabda di kota Mekkah, Madinah, dan tempat-tempat lainnya. Kemudian beliau menetap di Alexandria dan mengajar di sana.
Beliau mahir di bagian pengetahuan fikih, bahasa Arab, dan pengetahuan hadis. Di antara karya-karyanya nan paling krusial adalah “Al-Mufhim lima Asykala min Talkhis Kitab Muslim” (Pemahaman tentang Apa nan Sulit Dipahami dari Ringkasan Kitab Muslim). Beliau wafat pada tahun 656 H dan Al-Qurthubi pernah menyebutkannya dalam tafsirnya.
Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Rawaj
Beliau adalah Syekh Rasyiduddin Abu Muhammad Abdul Wahhab bin Zhafir bin Fattuh bin Abi Al-Hasan Al-Qurasyi bin Rawaj Al-Iskandaraani Al-Maliki. Beliau adalah seorang mahir fikih dan mahir hadis.
Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata tentang beliau, “Banyak penuntut pengetahuan nan mengambil pengetahuan dari beliau, di antaranya adalah Abu Abdillah Al-Qurthubi.” (Thabaqat Al-Mufassiriin, hal. 39)
Ibnu Al-Jumayzi
Beliau adalah Bahauddin Abu Al-Hasan Ali bin Hibatullah bin Salamah Al-Lakhmi. Beliau dikenal sebagai Ibnu Al-Jumayzi. Beliau hafal Al-Qur’an di usia 10 tahun lampau melakukan perjalanan untuk mencari ilmu. Beliau adalah seorang pemimpin dalam bagian fikih, hadis, qira’at, dan nahwu. Beliau wafat pada tahun 649 Hijriah.
Di antara murid-murid Imam Al-Qurthubi
Hampir tidak ada kitab biografi yang menyebut nama murid-murid Imam Al-Qurthubi nan mengambil pengetahuan kepada beliau, selain Imam As-Suyuthi dalam kitabnya “Thabaqat Al-Mufassirin”. Beliau menyebut salah satu siswa beliau rahimahullah, ialah putra dari Imam Al-Qurthubi sendiri. Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata, “Dan putranya, Syihabuddin Ahmad, meriwayatkan dari beliau dengan metode ijazah.”
Sumber-sumber tersebut juga tidak menyebut bahwa Imam Al-Qurthubi pernah duduk untuk mengajar di negara mana pun nan pernah dia tinggali. Kita tidak mengetahui apa rahasianya, apakah Imam Al-Qurthubi betul-betul tidak mempunyai halaqah pelajaran alias siswa dan perhatiannya hanya terfokus pada penulisan dan menuntut ilmu? Dan mereka hanya menyebut putranya sebagai satu-satunya muridnya dikarenakan dia selalu bersamanya di rumah?
Hal ini sangatlah tidak mungkin, namun ini adalah pertanyaan dan masalah nan diajukan oleh para peneliti tatkala menelusuri kehidupan pemimpin dan ustadz besar ini, terutama kita sama-sama tahu bahwa negara tempat Imam Al-Qurthubi menetap hingga wafatnya adalah tempat nan dikenal sebagai “Minyat Bani Khusaib,” dan itu adalah negara nan penuh dengan pelajaran, ilmu, lingkaran (halaqah) pengajian, dan obrolan ilmiah.
Namun demikian, pertanyaan itu tetap ada: kenapa buku-buku riwayat hidup mengabaikan murid-murid seorang pemimpin besar seperti Imam Al-Qurthubi? Semoga di kesempatan mendatang ada peneliti-peneliti nan dapat memberikan kita faidah dan wawasan baru mengenai perihal ini. Wabillahi At-Taufiiq.
Di antara karya beliau nan fenomenal
Pertama, karya beliau nan paling terkenal adalah kitab di bagian tafsir, ialah kitab Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an.
Dalam tafsirnya, beliau tidak hanya menyebut riwayat dari Rasulullah dan sahabat saja, beliau juga menggunakan beragam pengetahuan seperti bahasa Arab, pengetahuan nahwu, dan pengetahuan qira’at. Beliau juga membahas ayat-ayat secara mendalam dengan membagi tafsirnya ke dalam beberapa bab.
Ibnu Farhun mengatakan,
وهو من أجلِّ التفاسير وأعظمها نفعًا، أسقط منه القصص والتواريخ، وأثبت عوضها أحكام القرآن واستنباط الأدلة، وذكر القراءات والإعراب، والناسخ والمنسوخ
“Dan itu adalah salah satu tafsir nan paling mulia dan paling bermanfaat, beliau menghilangkan kisah-kisah dan sejarah darinya, dan menggantinya dengan hukum-hukum Al-Qur’an dan penggalian dalil-dalil nan mendalam, serta menyebut bacaan-bacaan (qira’at), i’rab, dan nasikh mansukh (dari sebuah hukum).” (Ad-Dibaj Al-Mudzhab fi Ma’rifati A’yan Ulama Al-Mazhab, hal. 317)
Kedua, At-Tadzkirah fi Ahwal Al-Mauta wa Umur Al-Akhirah (Berbicara mengenai kematian dan kehidupan akhirat).
Ketiga, At-Tadzkir fi Afdhal Al-Adzkar (Tentang dzikir).
Keempat, Al-Asnaa fi Syarhi Asma’ Allah Al-Husna wa Shifatuhu Al-Ulyaa (Mengenai Asma’ dan Sifat Allah Ta’ala).
Kelima, Al-I’lam bima fi Diin An-Nasaraa min Al-Mafasid wa Al-Awham (Tentang kebatilan dalam aliran Nasrani).
Wafat beliau rahimahullah
Setelah Imam Al-Qurthubi menghabiskan nyaris seluruh umurnya dalam belajar, beribadah, dan menulis, beliau rahimahullah wafat di Munyat Bani Khasib (sekarang Minya, Mesir) pada malam Senin, 9 Syawal 671 H. Makamnya berada di Minya, di sebelah timur Sungai Nil. Rahimahullah rahmatan wasiah.
Baca juga: Biografi Al-Hafidz Ibnu Katsir
***
Penulis: Muhammad Idris
Artikel Muslim.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·