Bersabar Saat Mendapat Nikmat, Bersyukur Saat Mendapat Musibah

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Ada sebuah keajaiban nan hanya dimiliki seorang mukmin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkannya dalam sebuah sabda nan begitu indah,

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ  إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati selain pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka dia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

Level seorang mukmin itu berkelas, hidupnya hanya berada pada dua keadaan: bersyukur dan bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, dia bersyukur; dan ketika mendapatkan ujian serta cobaan, dia pun bersabar.

Akan tetapi, seorang mukmin bisa meng-upgrade level nan lebih tinggi dari keadaan tadi, yaitu dia bersabar saat memperoleh kenikmatan dan berterima kasih tatkala musibah menimpa.

Seorang mukmin nan mencapai level ini tidak hanya memandang peristiwa hidup dari sisi lahiriah. Ia memandang dari kacamata iman, bahwa setiap peristiwa ada hikmah dan pesan cinta dari Allah Ta’ala untuknya.

Contohnya, semisal ada seseorang nan kecelakaan, dia tidak hanya bersabar atas musibah nan sedang menimpa baik bentuk maupun kendaraanya; bakal tetapi, dia malah berterima kasih lantaran nan dia alami hanya lecet dan tidak terluka parah, apalagi tidak sampai meninggal dunia. Ia berterima kasih lantaran Allah tetap melindunginya. Bersyukur lantaran luka itu ringan. Bersyukur lantaran Allah tidak menimpakan nan lebih besar.

Di sisi lain, ketika seseorang mendapatkan limpahan rezeki: bonus, proyek besar, kenaikan gaji. Ia bersyukur, itu perihal nan lumrah dan semestinya demikian. Tetapi nan luar biasa adalah dia juga bersabar. Ia menahan diri dari sifat boros. Ia menjaga kekayaan itu dari maksiat. Ia melindunginya dari perihal sia-sia. Ia tidak membiarkan nikmat itu menyeretnya kepada dosa. Ia jaga agar tidak dipakai untuk berjudi, main slot, berzina, minum minuman keras, dan lainnya. Inilah sabar di kembali nikmat.

Inilah level seorang mukmin nan sangat berkelas, dia bersabar saat mendapatkan kenikmatan dan berterima kasih ketika diberikan cobaan, ujian, alias musibah.

Kisah teladan syukur dan sabar

Nabi Nuh ‘alaihissalam, hamba nan sangat bersyukur

Nabi Nuh dijuluki “abdan syakuro” lantaran dia mempunyai kebiasaan berterima kasih kepada Allah Ta’ala dalam setiap keadaan. Allah Ta’ala memuji Nabi Nuh  ‘alaihissalam dengan kalimat nan begitu agung,

‎إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُوْرًا

“Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) nan banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra’: 3)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كان نوح لا يحمل شيئًا صغيرًا ولا كبيرًا إلا قال: بسم الله، والحمد لله. فسَمّاه الله: عبدًا شكورًا

“Nuh tidaklah melakukan sesuatu aktivitas, baik nan mini maupun nan besar, melainkan beliau selalu berkata, ‘Bismillah’ dan ‘Alhamdulillah’. Maka Allah pun menamainya sebagai hamba nan banyak berterima kasih (‘abdan syakura).” [HR. Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab Asy-Syukr, hal. 44 (no. 127), dan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 6: 268 (no. 4154) dengan sanad nan lemah]

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab az-Zuhd dari Muhammad Ibn Ka’b al-Quroziy, beliau berkata,

إنَّ نوحًا عليه السلام كان إذا أكل قال: الحمد لله، وإذا شرب قال: الحمد لله، وإذا لبس قال: الحمد لله، وإذا ركب قال: الحمد لله، فسماه الله عبدًا شكورًا

“Sesungguhnya andaikan Nabi Nuh ‘alaihissalam makan, beliau senantiasa mengucapkan ‘alhamdulillah’, apabila minum mengucapkan ‘alhamdulillah’, andaikan memakai busana mengucapkan ‘alhamdulillah’, dan andaikan menaiki tunggangan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Oleh lantaran itu, Allah menamainya dengan hamba nan banyak bersyukur.” (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd hal. 50, Ibnu Abi ad-Dunya no. 207, dan Al-Baihaqi dalam Syu‘abul Iman no. 4473)

Bahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam bukan hanya terkenal dengan hamba nan pandai bersyukur, tetapi kesabaran panjang dalam dakwah selama ratusan tahun, tanpa pernah mengeluh kepada Rabb-nya.

Ibrahim: Imamnya orang-orang nan bersabar

Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lampau Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku bakal menjadikanmu pemimpin bagi seluruh manusia.” (QS. Al-Baqarah: 124)

Ayat ini bukan sekadar cerita sejarah. Ini adalah potret gimana kesabaran dapat mengangkat manusia ke derajat nan tidak pernah dia bayangkan. Ibrahim diuji dengan ujian nan berat dan berkali-kali dari segala sisi, dia diusir dari negeri nan dia dibesarkan di sana, berpisah dari keluarga, apalagi mengorbankan anak tercinta nan telah lama dia damba. Tetapi, setiap ujian itu disambut dengan hati nan tunduk dan jiwa nan percaya bahwa pertolongan Allah pasti bakal hadir.

Tips agar lebih mudah bersabar

Lihatlah orang lain nan diuji lebih berat

Ketika musibah mengetuk pintu hidupmu, jangan biarkan hatimu terbenam dalam kesedihan nan membuatmu lupa sungguh banyak orang lain nan diuji jauh lebih berat. Melihat keadaan mereka bukan untuk mengecilkan rasa sakitmu, tetapi agar engkau sadar bahwa Allah tetap menjagamu, tetap melindungimu, dan tetap memberimu ruang untuk berbenah dan bersyukur.

Itu membikin hati lebih tenang dan sadar bahwa musibah kita tetap ringan. Dari Mush’ab bin Sa’id (seorang tabi’in) dari ayahnya, dia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah nan paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Para Nabi, kemudian nan semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang bakal diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka dia bakal diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa bakal mendapatkan ujian hingga dia melangkah di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad 1: 185. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3402)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Lihatlah orang nan berada di bawahmu dan jangan memandang orang nan berada di atasmu, lantaran nan demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah nan telah diberikan kepadamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah bahwa kita tidak sendirian

Ketahuilah, kita tidak pernah betul-betul sendirian. Setiap senyapnya malam nan membikin kita merasa paling terluka, setiap detik nan membikin dada terasa sesak oleh ujian, sebenarnya sedang dialami oleh banyak hati lain di luar sana. Ujian adalah sunnatullah bagi setiap hamba beriman; tanda bahwa Allah tetap memperhatikan, tetap menginginkan kita tumbuh dan semakin dekat kepada-Nya.

Ketika kita diuji dengan kekurangan harta, ingatlah bahwa di luar sana ada nan berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan paling dasar. Saat kita merasakan pedihnya perlakuan nan kurang baik dari anak, pasangan, orang tua, tetangga, alias rekan kerja, ketahuilah bahwa banyak hati lain nan merasakan luka nan serupa.

Ayat-Nya pun menguatkan, bahwa setiap musibah terjadi dengan izin Allah dan tidak bakal melampaui pemisah keahlian hamba-Nya,

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al Baqarah: 286)

Ingat pahala tanpa batas

Allah Ta’ala berfirman bahwa pahala orang sabar diberikan tanpa perhitungan,

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang nan bersabarlah nan dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Setiap sabar nan kita genggam, meski hanya seukuran degub jantung, sedang ditabung oleh Allah dalam timbangan kebaikan nan tak terhitung.

Tips agar menjadi hamba nan bersyukur

Hargai nikmat nan sering kita anggap sepele

Bersyukur atas nikmat-nikmat nan sering kita anggap sepele, seperti nafas nan kita hirup, kesehatan, alias family nan tetap bisa kita peluk dan ajak bercengkrama setiap hari. Nikmat-nikmat itu begitu dekat hingga kita lupa bahwa suatu hari bisa saja Allah menariknya kembali. Setiap detik nan tetap diberikan kepada kita adalah hidayah nan tak ternilai, bingkisan nan sering kita sadari hanya setelah lenyap dari genggaman.

Allah Ta’ala berfirman,

وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah Anda tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

“Barangsiapa di antara kalian nan pada pagi harinya merasa kondusif di tempat tinggalnya, sehat tubuhnya, dan mempunyai makanan nan cukup untuk hari itu, maka seolah-olah bumi dan segala isinya telah diberikan kepadanya.” (HR. Tirmizi)

Anggap nikmat mini sebagai sesuatu nan besar

Anggaplah setiap nikmat mini sebagai sesuatu nan besar, lantaran tidak ada nikmat nan betul-betul kecil. Seteguk air nan meredakan dahaga, rehat nan cukup setelah hari nan melelahkan, alias satu angan nan Allah kabulkan tanpa kita sadari, semuanya adalah karunia nan layak disyukuri dengan sepenuh hati.

Sering kali kita menunggu datangnya nikmat besar untuk merasa bahagia, padahal kebahagiaan itu terselip di hal-hal sederhana nan kita temui setiap hari. Mungkin justru pada nikmat-nikmat mini itulah Allah mau mengajarkan bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir, apalagi tanpa kita minta.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa nan tidak mensyukuri nan sedikit, maka dia tidak bakal bisa mensyukuri sesuatu nan banyak.” (HR. Ahmad, 4: 278. Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah no. 667)

Sabar dan syukur ibaratkan dua sayap

Hidup ini bukan tentang apa nan menimpa kita, tetapi gimana kita menghadapinya. Syukur dan sabar adalah dua sayap nan saling melengkapi nan membikin seorang mukmin bisa terbang lebih tinggi melintasi ujian kehidupan. Ketika sabar menopang kita di saat angin besar datang, syukur menerangi hati kita di tengah kegelapan. Dengan sabar, kita belajar menerima ketetapan Allah, dengan syukur, kita belajar memandang keelokan di baliknya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba nan bisa naik ke level ketaatan nan lebih tinggi dengan: bersabar dalam kelapangan, berterima kasih dalam kesempitan.

Baca juga: Mengapa Harus Sabar Kalau Bisa Marah?

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info