Bagaimana Rasulullah Minum?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Minum merupakan suatu kebutuhan manusia nan kudu dipenuhi setiap harinya. Akan tetapi, pernahkah kita terpikirkan gimana Rasulullah minum? Sebagai seorang muslim, tentunya kita perlu untuk mengenal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dekat dan mencontoh beliau nan merupakan teladan bagi kaum muslimin. Pada tulisan ini, bakal kita telaah gimana Rasulullah minum.

Rasulullah minum sembari duduk alias berdiri?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sembari duduk. Hal tersebut sebagaimana terdapat dalam banyak sabda nan menyebut bahwa beliau melarang untuk minum sembari berdiri. Salah satu sabda tersebut adalah,

أَنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا قَالَ قَتَادَةُ فَقُلْنَا فَالْأَكْلُ فَقَالَ ذَاكَ أَشَرُّ أَوْ أَخْبَثُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang minum sembari berdiri. Qatadah berkata, ‘Maka kami tanyakan, gimana dengan makan?’ Anas menjawab, ‘Apalagi makan, itu lebih buruk, alias lebih jelek.’” (HR. Muslim)

Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Rasulullah minum sembari duduk, bukan berdiri. Hal tersebut tentunya lantaran beliau tidak mungkin melarang perihal nan beliau lakukan sendiri lantaran beliau merupakan teladan nan terbaik. Ketika melarang sesuatu, tentunya beliau nan terdepan untuk menjauhinya.

Akan tetapi, selain larangan untuk minum sembari duduk, rupanya ada juga sabda nan menunjukkan Rasulullah minum sembari berdiri. Salah satunya adalah sabda dari Abdullah bin Abbas nan menyebut bahwa Rasulullah minum air zam-zam sembari berdiri,

سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ

“Aku memberi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari air zamzam, lampau beliau minum sembari berdiri.” (HR. Muslim)

Selain itu, ada juga sabda lain nan menyebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam minum dari sebuah qirbah (kantong air) sembari berdiri sebagaimana dalam sebuah sabda nan diriwayatkan oleh Khabsyah Al-Anshariyyah,

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل عليها وعندها قربة معلقة فشرب منها وهو قائم

“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam masuk menemuinya, dan di sisinya ada qirbah (kantong air) nan tergantung, lalu beliau minum darinya dalam keadaan berdiri.“ (HR. Tirmidzi)

Lalu mana nan benar, apakah Rasululllah minum sembari duduk alias minum sembari berdiri? Mengapa Rasullullah melarang para sahabat minum sembari berdiri, tapi beliau sendiri juga minum sembari berdiri? Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Zaadul Ma’aad mengatakan,

وكان من هديه لله الشُّربُ قاعدًا، هذا كان هديه المعتاد، وصح عنه أنَّه نهى عن الشرب قائما، وصح عنه أنَّه أمر الذي شرب قائما أن يَسْتَقيءَ، وصَحَّ عنه أنه شرب قائما فقالت طائفة: هذا ناسخ للنهي، وقالت طائفة: بل مبين أنَّ النهي ليس للتحريم، بل للإرشاد وترك الأولى، وقالت طائفة: لا تعارض بينهما أصلًا؛ فإِنَّه إِنَّما شَرِبَ قائما للحاجة، فإنَّه جاء إلى زمزم، وهُم يَستَقُون منها، فاستَقَى فناولُوه الدَّلو، فشرب وهو قائم، وهذا كان موضع حاجة

“Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah minum sembari duduk dan itu perihal nan terbiasa beliau lakukan. Hadis nan melarang minum sembari duduk adalah sabda sahih, sabda nan memerintahkan orang nan minum sembari berdiri unuk memuntahkannya juga sahih, dan sabda nan menyebut beliau minum sembari berdiri juga sahih.

Sebagian ustadz menyatakan sabda tersebut naasikh untuk larangan, sebagian ustadz menyatakan sabda tersebut adalah mubayyin. Hadis tersebut menunjukkan bahwa larangan tersebut bukan untuk mengharamkan, bakal tetapi sebagai pengarahan dan juga menunjukkan mana nan lebih utama.

Ada juga nan beranggapan bahwa hadis-hadis tersebut sejatinya tidak bertentangan. Hal tersebut dikarenakan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sembari berdiri lantaran ada kebutuhan. Beliau ketika itu mendatangi zamzam dan orang-orang mengambil air dari sana, lampau mereka memberikan ember air kepada beliau, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sembari berdiri. Kondisi tersebut lantaran beliau perlu berdiri.”

Dari penjelasan tersebut bisa kita simpulkan bahwa nan paling utama adalah kita minum sembari duduk. Akan tetapi, ketika duduk itu menyulitkan dan kita perlu minum sembari berdiri kita minum sembari berdiri meniru perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak minum sekali tegukan

Kebiasaan Rasulullah minum adalah tidak minum air dalam suatu wadah lenyap dalam satu tegukan. Beliau biasanya bernafas tiga kali ketika minum sebagaima dalam sebuah hadis,

كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ يَتَنَفَّسُ في الشَّرَابِ ثَلَاثًا، ويقولُ: إنَّه أَرْوَى وَأَبْرَأُ وَأَمْرَأُ

“Ketika Rasulullah minum dalam suatu wadah, (beliau tidak menghabiskannya sekaligus dalam satu kali nafas), tetapi bernafas tiga kali hingga selesai minum.”

Mengapa demikian? Beliau menjelaskan bawa perihal tersebut (أَرْوَى), ialah lebih mudah ditelan ketika minum dan (أَمْرَأُ), nan artinya lebih memuaskan dahaga orang nan sangat kehausan.

Baca juga: Bagaimanakah Tidurnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Minuman nan disukai Rasulullah

Sebagaimana manusia lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempunyai minuman nan disukai. Apa minuman nan Rasulullah sukai? Dari Aisyah radiyallahu ‘anha beliau berkata,

كانَ أحبُّ الشرابِ إلى رسولِ الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم الحُلْوَ البارِدَ

“Minuman nan paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah nan manis juga dingin.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah menyukai minuman nan mempunyai dua sifat: manis dan juga dingin. Rasulullah menyukai minuman-minuman nan manis seperti air nan beliau kombinasi dengan madu. Beliau juga terbiasa untuk membikin nabidz, ialah air perasan kismis alias kurma nan beliau biasanya buang jika sudah lebih dari 3 hari lantaran bisa menjadi minuman nan memabukkan. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah sabda dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُنْبَذُ لَهُ الزَّبِيبُ فِي السِّقَاءِ فَيَشْرَبُهُ يَوْمَهُ وَالْغَدَ وَبَعْدَ الْغَدِ فَإِذَا كَانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ أَهَرَاقَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan perasan zabib dalam wadah air minum, kemudian beliau meminumnya pada hari itu, besok harinya, dan lusa. Pada waktu sore di hari ketiga, beliau tetap menuangkan dan meminumnya; tapi jika tetap juga tersisa, beliau menumpahkannya.” (HR Muslim)

Rasulullah juga suka air nan dingin nan tentunya dulu tidak ada kulkas. Lalu gimana beliau mendapatkan air dingin? Biasanya orang Arab dulu mendinginkan air dengan mendiamkannya di malam hari sebagaimana dalam sebuah hadis, beliau meminta air nan diinapkan dalam sebuah wadah,

إِنْ كَانَ عِنْدَكَ مَاءٌ بَاتَ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فِي شَنَّةٍ

”Apakah Anda mempunyai air nan telah diinapkan dalam bajan kulit?”

Dari hadis-hadis di atas, kita bisa simpulkan bahwa minuman nan Rasulullah sukai adalah nan manis juga dingin. Tentunya minuman dengan sifat seperti ini, apalagi dihasilkan dari bahan alami, mempunyai faedah bagi tubuh dan lebih menghilangkan dahaga dan mengembalikan tenaga.

Penutup

Itulah pembahasan secara ringkas tentang gimana Rasulullah minum. Semoga dengan mengenal kebiasaan kebiasaan Rasulullah sehari-hari, bisa membikin kita lebih antusias lagi untuk meneladani beliau nan merupakan sebaik-baiknya teladan. Setelah mengetahui kebiasaan beliau minum, kita bisa niatkan tata langkah minum dan juga minuman nan kita sukai lantaran meniru beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Baca juga: Perlengkapan Jihad Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam

*** 

Penulis: Firdian Ikhwanysah

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Syarah Syamail Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info