Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan (Bag. 13): Bertakwa Kepada Allah dan Ikhlas

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Urusan dakwah adalah urusan nan besar sekali. Ini adalah perkara nan diemban amanahnya oleh orang-orang terbaik di setiap kurun, ialah para Nabi dan Rasul, kemudian para pewarisnya, ialah para ustadz nan mulia. Namun, bukan berfaedah kaum muslimin secara umum tidak mendapatkan jatah pahala nan besar ini. Akan tetapi, jelas porsinya bakal sangat berbeda dengan porsinya para mahir ilmu.

Oleh lantaran itu, pondasi berceramah wajib di atas pengetahuan nan kokoh dan bersih dari noda kebatilan. Dan pondasi nan paling inti adalah pondasi ketakwaan kepada Allah ﷻ. Tidak ada landasan kebaikan nan paling asasi melainkan argumen untuk meraih takwa dan memurnikan persembahan kebaikan hanya untuk Allah ﷻ.

Takwa dan tulus adalah kunci diterimanya amal

Pekerjaan besar dakwah nan kompleks dan banyak pengorbanannya bakal menjadi sia-sia, jika seseorang tidak menjalaninya dengan ketakwaan. Bukankah Allah ﷻ hanya menerima sesuatu nan baik dan murni ditujukan untuk-Nya saja?! Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarij As-Salikin [1] berkata,

لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا لِوَجْهِهِ عَلَى مُتَابَعَةِ أَمْرِهِ

“Allah tidak menerima ibadah selain jika ibadah tersebut tulus lantaran mencari wajah-Nya dan ibadah tersebut sesuai dengan sunah Nabi ﷺ.”

Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا

“Barangsiapa menuntut pengetahuan nan semestinya untuk mencari wajah Allah ﷻ, tetapi dia tidak mempelajari pengetahuan itu selain untuk mendapatkan kekayaan barang dunia, maka dia tidak bakal mendapatkan aroma surga pada hari hariakhir kelak.” (HR. Abu Dawud no. 3664)

Jika ketidakikhlasan dalam proses belajarnya saja membikin ibadah menuntut pengetahuan sia-sia, maka apalagi jika seorang berdakwah?! Maka, urgensi ketakwaan dan keikhlasan dalam berceramah dan menghadapi perselisihan sudah sangat jelas.

Ketahuilah, para berilmu terdahulu menilai kebaikan nan tulus seumpama mutiara nan sangat langka dan begitu susah digapai. Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata,

لِأَنْ أَسْتَيْقِنَ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَقَبَّلَ مِنِّي صَلَاةً وَاحِدَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Seandainya saya mengetahui dengan percaya bahwa Allah menerima satu salatku, maka itu lebih kusukai daripada bumi dan seisinya, lantaran Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang nan bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)”

Hikmah takwa dan tulus dalam dakwah dan perselisihan

Menghasilkan pribadi nan kokoh dan merdeka

Hikmah dari bertakwa dan tulus dalam berceramah adalah seorang muttaqin dan mukhlis, orientasinya hanya Allah ﷻ, bukan penilaian manusia alias perkara duniawi lainnya. Sehingga orang nan demikian murninya tujuan dakwahnya, tidak bakal silau dengan bujukan dunia. Hal itu bakal menghasilkan pribadi nan kokoh dalam medan dakwah serta merdeka dalam menyampaikan kebenaran. Kami mengingat sebuah nasihat nan beberapa kali diulang oleh Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, bahwa keistimewaan seorang penuntut pengetahuan adalah kemerdekaannya. Seorang penuntut pengetahuan nan tidak terbelenggu dengan kejumudan nan tiada dasarnya. Dan kemerdekaan ini digapai dari seorang tulus tujuannya hanya kepada Allah ﷻ.

Seorang nan bertakwa dan tulus dalam dakwahnya juga tidak bakal sungkan menyampaikan kebenaran, lantaran tidak ada wajah manusia nan hendak diharapkan. Tentu perihal ini tidak menafikan strategi dalam dakwah, sebagaimana nan sudah kita kaji dari tulisan sebelumnya, tetapi perihal ini bakal membikin kemerdekaan seorang dai semakin hakiki.

Cepat rujuk dari kesalahan

Seorang nan bertakwa dan tulus juga bakal sigap rujuk dari kesalahan, tidak pula membesarkan perselisihan, lantaran orientasi dakwahnya adalah agar kalimat tauhid menjadi tinggi. Ingatlah bahwa metode dakwah apapun bermaksud kepada menyeru kepada kalimat tauhid nan menjadi pondasi seluruh umat Islam, apalagi asalnya mahir kitab,

قُلْ يَٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَٰبِ تَعَالَوْا۟ إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَآءٍۭ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) nan tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah selain Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian nan lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang nan bertawakal diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)

Semua asas nan telah kita pelajari mesti berasal dari pondasi paling utama: bertakwa kepada Allah ﷻ dan tulus dalam beramal.

Mendapatkan hidayah

Ketahuilah! Banyak perselisihan terjadi lantaran adanya bentrok kepentingan nan berangkaian dengan makhluk. Maka, seorang nan tulus dalam dakwahnya, bakal terbebas dari kepentingan untung dari manusia. Ketahuilah! Kita sangat butuh hidayah dalam kehidupan, apalagi dalam berdakwah! Kita sangat butuh obat dalam kegundahan, apalagi dalam perselisihan! Hidayah dan obat itu sejatinya telah Allah ﷻ turunkan, tetapi dia hanya berfaedah bagi orang nan beriman. Adapun bagi orang-orang nan menyelisihi keimanan, justru bakal mendapatkan kerugian darinya. Allah ﷻ berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu nan menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang nan beragama dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang nan kejam selain kerugian.” (QS. Al-Isra: 82)

Marilah kita terus mengevaluasi niat dan langkah ibadah kita. Sudah benarkah niat kita beramal? Sudah benarkah corak ibadah kita? Jangan sampai Al-Quran dan Sunnah nan kita dakwahkan justru menjadi bumerang nan mematikan kita. Maka, tiada bekal nan lebih berbobot dalam berceramah di dunia, apalagi pula ketika kita meniti jalan akhirat, melainkan bekal ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Tidak sombong dan jumawa dengan pencapaiannya

Dengan seorang bertakwa, dia tidak menjadi jumawa dengan keberhasilan dakwahnya. Sebagaimana para salaf dengan ketakwaannya selalu memandang amalannya mini di sisi Allah ﷻ dan belum tentu diterima. Sehingga mereka terus bekerja keras dalam amalnya, memperbaiki, dan memperindahnya terus-menerus. Para salaf sangat cemas amalannya tidak diterima, merekalah nan disebutkan dalam firman Allah,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang nan memberikan apa nan telah mereka berikan, dengan hati nan takut.” (QS. Al-Mu’minun: 60)

Sehingga mereka terbiasa beramal dengan maksimal dan tidak berbesar hati dengan amalannya. Sebagian salaf meriwayatkan bahwa mereka terbiasa bermohon mengharapkan Ramadan sejak enam bulan sebelumnya. Kemudian mereka memaksimalkan bulan Ramadan, lampau selanjutnya mereka bermohon sebanyak kurang lebih enam bulan agar ibadah mereka diterima.

Satu-satunya motivasi dalam dakwah

Ingatlah, bahwasanya satu-satunya motivasi nan diterima dalam berceramah dan berbeda adalah untuk menegakkan kalimat Allah ﷻ dan mencari kebenaran. Semua pergerakan nan tidak didasari oleh perihal ini bakal menjadi pekerjaan nan sia-sia. Cukuplah riwayat berikut membuktikan bakal perihal ini. Dalam sebuah sabda sahih dikisahkan,

وسئل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عن الرجل يقاتل رياءً، ويقاتل شجاعةً، ويقاتل حميَّةً، فأيُّ ذلك في سبيل الله؟ فقال:من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله

“Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh seorang laki-laki tentang bertempur lantaran riya, bertempur lantaran keberanian, dan bertempur lantaran nilai ksatria; motivasi perang apa nan menunjukkan dia di jalan Allah ﷻ? Lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Barangsiapa nan bertempur lantaran hendak meninggikan kalimat Allah ﷻ, maka dia berada di jalan Allah ﷻ.” (HR. Bukhari no. 7458) [2]

Dan ingatlah tentang ancaman bagi orang nan tidak tulus dalam niat dakwahnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda,

وأخبر عن أوَّل ثلاثةٍ تسعَّر بهم النار: قارئ القرآن، والمجاهد، والمتصدِّق بماله، الذين فعلوا ذلك ليقال: فلانٌ قارئ، وشجاع، ومتصدِّق؛ لم تكن أعمالهم لله

“Beliau ﷺ mengabarkan tentang tiga orang nan pertama kali mencicipi api neraka: (1) qari Al-Quran, (2) mujahid, dan (3) mahir sedekah; nan mana mereka melakukan dengan motivasi untuk disebut-sebut “fulan itu seorang qari”, “fulan itu seorang pemberani”, “fulan itu seorang dermawan”, mereka beramal bukan tulus lantaran Allah ﷻ.” (HR. Muslim no. 1905) [3]

Mutiara hikmah

Alhamdulillah, Allah ﷻ telah memberikan kita kesempatan untuk mempelajari asas dalam dakwah dan menghadapi perselisihan. Telah terkumpul tiga puluh asas nan kami nilai diperlukan dalam tema ini nan tersebar dalam serial tulisan ini. Tentu ini adalah hasil penelaahan para ustadz nan kami pilih berasas kesanggupan kami menuliskan dan membahasnya. Kesemua asas ini saling berangkaian satu sama lain, serta mempunyai peran dan prioritasnya masing-masing. Maka, asas ini tidak disusun berasas prioritasnya alias fungsinya, bakal tetapi kami kumpulkan setidaknya berurutan dari apa nan telah kami bahaskan dalam setiap artikel.

  1. Mengutamakan dialog
  2. Menguatkan argumentasi
  3. Mengalah dan tidak saling bersikeras
  4. Melapangkan dada dengan pondasi ketaatan dan kebaikan saleh
  5. Mengetahui prinsip manusia nan tolol dan zalim
  6. Memaafkan manusia
  7. Jangan ikutan bodoh
  8. Menyadari kelebihan orang lain dalam hubungan manusia
  9. Sikap setara adalah dengan memperinci suatu perkara
  10. Kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah tatkala berselisih
  11. Tidak menjadikan ajaran dan organisasi sebagai standar kebenaran
  12. Kita sangat butuh hidayah ketika berselisih
  13. Berilmu dan berkapasitas mufti
  14. Kapabilitas dalam bahasa Arab
  15. Tawaduk (Tidak mengesankan diri dahsyat melampaui realita kapasitas)
  16. Moderat
  17. Tidak melampaui batas
  18. Jujur
  19. Menjauh sejenak dari titik perselisihan
  20. Meredam perselisihan dengan mengingat kekerabatan
  21. Tujuan muslim berbeda adalah mencari kebenaran
  22. Menyebutkan keistimewaan diri sendiri
  23. Melepaskan diri dari tuduhan
  24. Mengarahkan perselisihan kepada ranah ilmiah nan kontekstual
  25. Tidak merekomendasikan alias mentazkiyah hati, batin, ataupun kebaikan gaib
  26. At-Tatsabbut
  27. At-Tabayyun
  28. Siap mengakui kesalahan
  29. Ikhlas
  30. Bertakwa kepada Allah ﷻ

Tidaklah semua asas ini dapat dijadikan pegangan untuk melahirkan metode dakwah nan baik, melainkan dengan bertakwa kepada Allah ﷻ dan memohon pertolongan kepadanya. Semoga Allah ﷻ gunakan kita sebagai corong-corong kebaikan nan mengantarkan ke surga, serta mengampuni kesalahan-kesalahan kita.

[Selesai]

Kembali ke bagian 12 Mulai dari bagian 1

***

Penulis: Glenshah Fauzi 

Artikel Muslim.or.id

Referensi serial tulisan ini:

  • Adab Al-Ikhtilaf baina Ash-Shahabah wa Atsaruhu ‘ala Waqi’ Al-Islami Al-Muashir, karya Syekh Sa’ad bin As-Sayyid Quthb Asy-Syal hafizhahullahu Ta’ala, cet. Dar Ibadirrahman.
  • (Terjemahan) Adab Ikhtilaf Para Sahabat, cet. Pustaka Al-Kautsar.
  • dorar.net
  • islamweb.net
  • Madarij As-Salikin, cet. Dar Alamiyah.
  • Mausuah Akhlak wa As-Suluk, terbitan dorar.net ketua Syekh Ali bin Abdul Qadir As-Saqqaf.

Catatan kaki:

[1] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 79; cet. Dar Alamiyah.

[2] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.

[3] Dinukil dalam Madarijus Salikin, hal. 467; cet. Dar Alamiyah.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info