Apakah Inhaler Membatalkan Puasa?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Kedudukan puasa

Puasa merupakan salah satu rukun Islam nan kudu dikerjakan setiap Muslim. Bahkan, seseorang nan tidak melakukan berpuasa dituntut untuk mengqadhanya dengan apa nan diwajibkan, baik dengan mengganti puasa di hari lain alias pun bayar fidyah. Seseorang nan tidak berpuasa dengan sengaja lantaran malas, maka dia melakukan dosa besar. Namun, jika dia tidak berpuasa lantaran mengingkari tanggungjawab puasa, maka dia telah kafir. Syekh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwaijiri berkata,

من ترك صوم رمضان جاحداً لوجوبه كفر، ومن ترك الصوم تهاوناً وكسلاً فلا يكفر وتصح صلاته، لكنه آثم إثماً عظيماً

“Barangsiapa nan meninggalkan puasa dengan pengingkaran terhadap kewajibannya, maka dia kafir. Adapun peralatan siapa nan meninggalkan puasa lantaran lalai alias malas, maka dia tidak kafir, tetap sah salatnya, namun dia berdosa dengan dosa nan sangat besar.” [1]

Berpuasa berarti menahan diri dari pembatal-pembatal puasa dari terbitnya fajar (subuh) hingga terbenam (magrib). Syekh Abu Hasan ar-Ramli mendefinisikan puasa sebagai,

التعبد لله بالإمساك عن المُفَطِّرات من طلوع الفجر الصادق إلى غروب الشمس

“Peribadatan kepada Allah dengan menahan diri dari pembatal-pembatal sejak munculnya fajar shadiq hingga tenggelamnya matahari.” [2]

Pembatal puasa nan disepakati

Termasuk nan kudu menjadi concern utama dalam berpuasa setelah mengikhlaskan niat adalah mengetahui pembatal-pembatalnya. Karena arti puasa itu sendiri adalah menahan diri dari pembatal-pembatalnya. Para ustadz salaf (pendahulu) bermufakat atas tiga perihal nan membatalkan puasa, sebagaimana nan dijelaskan oleh Ibnu Rusyd rahimahullah,

أجمعوا على أنه يجب على الصائم الإمساك زمان الصوم عن المطعوم والمشروب والجماع

“Para pendahulu bermufakat bahwa seorang Muslim wajib menahan diri pada saat dia berpuasa dari makanan, minuman, dan jimak (bersetubuh).” [3]

Meninjau penggunaan inhaler pada saat berpuasa

Dewasa ini, muncullah pembahasan-pembahasan turunan dari pembatal-pembatal tersebut, sebagai permasalahan-permasalahan kontemporer nan menjadi obrolan dan tidak jarang menjadi perbedaan pendapat antara ulama. Di antaranya adalah apakah penggunaan inhaler bagi nan memerlukan saat berpuasa dapat membatalkan puasanya?

Sebelum membahasnya lebih jauh, kita perlu tahu apa itu inhaler dan gimana fungsinya. Dikutip dari Cleveland Clinic, inhaler adalah perangkat genggam berukuran mini nan digunakan untuk mengantarkan obat langsung ke paru-paru melalui mulut. Inhaler tersedia dalam beberapa jenis, seperti metered-dose, dry powder, dan soft mist inhaler, dan umumnya digunakan untuk terapi asma dan COPD. [4]

Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, dengan meninjau dari arti dan teknis penggunaannya (mengantarkan obat melalui hirupan mulut), bahwa para ustadz melakukan takyif fiqh (penggambaran hukum) untuk penggunaan inhaler pada tiga corak norma persoalan [5]:

Terhukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan (yang kuat dan sengaja)

Pada pembahasan, jika inhaler dihukumi seperti menghirup uap makanan, asap, ataupun bau-bauan dengan sengaja, para ustadz terbagi menjadi dua pendapat:

Pendapat pertama: Membatalkan puasa

Pendapat ini merupakan pendapat para ustadz ajaran Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Dari kalangan ajaran Hanafi, Ibnu Abidin berkata,

ولو أدخل حلقه الدخان بأي صورة كان الإدخال، حتى لو تبخر بخور فآواه إلى نفسه واشتمه ذاكراً لصومه أفطر لإمكان التحرز عنه

“Jika seseorang memasukkan asap ke dalam tenggorokannya dengan langkah apapun, apalagi jika (asap itu) berasal dari uap dupa lampau dia sengaja menghirupnya, padahal dia ingat bahwa dirinya sedang berpuasa, maka puasanya batal, lantaran perihal tersebut tetap mungkin untuk dihindari.” [6]

Dari kalangan ajaran Maliki, ad-Dasuqi berkata,

متى وصل دخان البخور أو بخار القدر للحلق وجب القضاء; لأن دخان البخور وبخار كل منهما جسم يتكيف به الدماغ ويتقوى به، أي تحصل له قوة كالتي تحصل له من الأكل

“Apabila asap dupa alias uap dari panci sampai ke tenggorokan, maka wajib mengqadha (puasa); lantaran asap dupa dan uap tersebut masing-masing merupakan sesuatu nan berkarakter materi, nan dapat mempengaruhi otak dan menguatkannya, ialah memberikan kekuatan sebagaimana kekuatan nan diperoleh dari makanan.” [7]

Dari kalangan ajaran Hambali, al-Buhuti berkata,

ولا يفسد صومه إن طار إلى حلقه ذباب أو غبار طريق أو نخل نحو دقيق أو دخان بلا قصد لعدم إمكان التحرز منه

“Puasa seseorang tidak batal andaikan lalat, debu jalanan, serbuk lembut (seperti tepung), alias asap masuk ke tenggorokannya tanpa disengaja, lantaran perihal itu tidak mungkin dihindari.” [8] Dapat dipahami bahwa jika dimaksudkan secara sengaja, maka perihal tersebut membatalkan. [9]

Pendapat kedua: Tidak membatalkan puasa

Pendapat tidak batalnya puasa dengan menghirup hal-hal tersebut adalah pendapat ustadz ajaran Syafi’i. Dari kalangan Syafi’i, ar-Ramli berkata,

ووصول الدخان الذي فيه رائحة البخور أو غيره إلى الجوف لا يفطر به، وإن تعمَّد فتح فِيه لأجل ذلك وهو ظاهر لما تقرر أنّها ليست عيناً عرفاً إذ المدار هنا عليه

“Masuknya asap nan mengandung aroma dupa alias lainnya ke dalam rongga (tubuh) tidak membatalkan puasa, meskipun dia sengaja membuka mulut untuk perihal tersebut. Hal ini jelas, lantaran telah ditetapkan bahwa asap itu secara ‘urf (kebiasaan bahasa) tidak dianggap sebagai barang (‘ain). Dan patokan (dalam masalah ini) memang kembali kepada pengertian ‘urf.” [10]

Terhukumi seperti kategori makan dan minum

Pada pembahasan ini, jika inhaler dimasukkan ke dalam norma ini, maka dia membatalkan puasa. Karena makan dan minum merupakan pembatal puasa secara konsensus (ijmak). Pendapat ini merupakan pendapat keempat mazhab. [11] Allah berfirman,

فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْل

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa nan telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, ialah fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah Anda campuri mereka itu, sedang Anda beriktikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah Anda mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 187)

Terhukumi seperti sisa air nan tertinggal setelah berkumur

Pada pembahasan ini, andaikan penggunaan inhaler diturunkan hukumnya kepada kategori sisa air kumur (المتبقي من المضمضة), maka tidak membatalkan puasa. Hal ini lantaran air nan tersisa setelah berkumur termasuk perkara nan dimaafkan (معفو عنه), disebabkan sulitnya menghindari sisa air tersebut meskipun telah berhati-hati.

Para ustadz dari empat ajaran bermufakat bahwa sisa air nan tertinggal setelah berkumur saat berpuasa tidak membatalkan puasa, selama tidak disengaja untuk ditelan. Dengan demikian, jika inhaler dianalogikan pada kategori ini, maka norma asalnya tidak membatalkan puasa, lantaran unsur nan mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak disengaja, dan susah dihindari. [12]

Dari kalangan ajaran Hanafi, Imam as-Sarakhsi berkata,

ألا ترى أنَّ الصائم إذا تمضمض فإنّه يبقى في فمه بَلَّة، ثم تدخل بعد ذلك حلقه مع ريقه، وأحد لا يقول بأنّ ذلك يُفَطِّره

“Tidakkah engkau memandang bahwa andaikan orang nan berpuasa berkumur, maka bakal tersisa kelembaban air di dalam mulutnya, lampau kelembaban itu masuk ke tenggorokannya berbareng air liurnya, dan tidak seorang pun nan mengatakan bahwa perihal tersebut membatalkan puasa.” [13]

Dari kalangan ajaran Maliki, Imam al-’Abdari berkata,

قال ابن القاسم: ويجوز بلع ريقه إذا تمضمض

“Ibnu al-Qasim berkata, ‘Dibolehkan bagi orang nan berpuasa menelan air liurnya setelah dia berkumur’.” [14]

Dari kalangan ajaran Syafi’i, an-Nawawi berkata,

إذا تمضمض الصائم لزمه مَجُّ الماء, ولا يلزمه تنشيف فمه بخرقة ونحوها بلا خلاف

“Apabila orang nan berpuasa berkumur, maka dia wajib memuntahkan airnya. Namun, dia tidak diwajibkan untuk mengeringkan mulutnya dengan kain alias semisalnya. Hal ini disepakati tanpa adanya perbedaan pendapat.” [15]

Dari kalangan ajaran Hanbali, al-Buhuti berkata,

لو بلع ما بقي من أجزاء الماء بعد المضمضة لم يفسد

“Apabila dia menelan sisa-sisa bagian air nan tetap tertinggal setelah berkumur, maka puasanya tidak rusak (tidak batal).” [16]

Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat bahwa penentuan norma penggunaan inhaler sangat berjuntai pada gimana dia diturunkan ke dalam takyif fiqh nan digunakan oleh para ulama. Namun perlu dicatat bahwa penggambaran fikih tersebut merupakan pendekatan terhadap persoalan kontemporer nan belum dikenal secara rinci oleh para ustadz terdahulu.

Oleh lantaran itu, dalam masalah inhaler nan mempunyai karakter medis khusus, baik dari sisi tujuan penggunaan, langkah kerja, maupun kadar unsur nan masuk ke tubuh, diperlukan pendekatan fikih kontemporer dengan mempertimbangkan prinsip medisnya. Atas dasar inilah, banyak ustadz kontemporer kemudian mengkaji ulang norma inhaler dan condong beranggapan bahwa penggunaannya tidak membatalkan puasa.

Penggunaan inhaler tidak membatalkan puasa

Berdasarkan kajian medis dan fikih muqāran nan dilakukan oleh Syekh ‘Abd al-Razzāq al-Kindī, dapat disimpulkan bahwa penggunaan inhaler (بخاخ الربو) bagi orang nan berpuasa tidak membatalkan puasa. Hal ini dia dasari dengan beberapa pendapat ustadz dengan dalil-dalilnya. Sebagaimana nan beliau sebutkan dalam kitabnya al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah) [17],

Pertama,

قياس الواصل إلى الجوف من بخاخ الربو على المتبقي من المضمضة والاستنشاق، وذلك بأن الصائم له أن يتمضمض ويستنشق، إجماعاً

“Mengkiyaskan (menganalogikan) sesuatu nan sampai ke dalam rongga tubuh dari inhaler dengan sisa air nan tertinggal setelah berkumur dan beristinsyāq (menghirup air ke hidung). Hal itu lantaran orang nan berpuasa dibolehkan untuk berkumur dan beristinsyāq berasas ijmak (kesepakatan para ulama).”

Kedua,

قياس البخاخ على السواك في جواز استعماله للصائم مع وجود بعض المواد فيه والتي قد عفي عنها؛ لقلتها ولكونها غير مقصودة

“Mengqiyaskan inhaler dengan siwak dalam kebolehan menggunakannya bagi orang nan berpuasa, meskipun di dalamnya terdapat beberapa unsur (bahan) nan telah dimaafkan (tidak diperhitungkan), lantaran jumlahnya nan sangat sedikit dan tidak dimaksudkan.”

Ketiga,

أن ما يحصل من بخاخ الربو لا يعتبر أكلاً أو شربًا في العادة، فلا يحصل به الفطر

“Bahwa sesuatu nan dihasilkan dari penggunaan inhaler asma tidak dianggap sebagai makan alias minum menurut kebiasaan (‘urf), sehingga tidak menyebabkan batalnya puasa.”

Keempat,

أن دخول شيء إلى المعدة من بخاخ الربو ليس قطعيًا فقد

“Bahwa masuknya sesuatu ke dalam lambung dari inhaler asma bukanlah sesuatu nan pasti, lantaran bisa saja masuk dan bisa pula tidak masuk.”

Kelima,

بخاخ الربو يدخل مع مخرج النفس، لا مخرج الطعام والشراب

“Bahwa inhaler asma masuk melalui jalur pernapasan, bukan melalui jalur makanan dan minuman.”

Selain itu, kita juga bisa memberikan afinitas lainnya bahwa satu tabung inhaler asma hanya berisi sekitar 10 ml cairan nan dibagi menjadi kurang lebih 200 semprotan, sehingga setiap semprotan mengandung unsur nan sangat kecil, apalagi kurang dari satu tetes. Sebagian besar obat masuk ke saluran pernapasan, sebagian menempel di tenggorokan, dan hanya sisa nan sangat sedikit nan mungkin sampai ke lambung. Jumlah ini lebih mini daripada sisa air setelah berkumur, nan secara ijmak dimaafkan dalam puasa. Oleh lantaran itu, unsur nan mungkin masuk ke lambung dari inhaler termasuk perkara nan dimaafkan (معفو عنه) dan tidak membatalkan puasa.

Baca juga: Pembatal-Pembatal Puasa

Fatwa para ustadz kontemporer mengenai penggunaan inhaler

Syekh Bin Baz

س: ما حكم استعمال البخاخ في الفم للصائم نهاراً لمريض الربو ونحوه ؟

ج: حكمه الإباحة إذا اضطر إلى ذلك؛ لقول اللّٰه عز وجل: ( وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ)  ولأنه لا يشبه الأكل والشرب فأشبه سحب الدم للتحليل والإبر غير المغذية

Pertanyaan: Apa norma menggunakan inhaler melalui mulut bagi nan berpuasa ketika sakit asma dan semisalnya?

Jawaban: “Hukumnya mubah jika perihal tersebut merupakan perihal darurat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah Allah jelaskan untuk kalian apa nan Ia haramkan, selain nan kalian darurat membutuhkannya.” (QS. al-An`am: 119) Karena perihal tersebut berbeda dengan makan dan minum, dia lebih mirip dengan pengambilan darah untuk kajian alias suntikan nan tidak bernutrisi, sehingga tidak membatalkan puasa.” [18]

Syekh Utsaimin

سئل فضيلة الشيخ رحمه اللّٰه تعالى: في بعض الصيدليات بخاخ يستعمله بعض مرضى الربو فهل يجوز للصائم استعماله في نهار رمضان؟

فأجاب فضيلته بقوله : استعمال هذا البخاخ جائز للصائم، سواء كان صيامه في رمضان أم في غير رمضان، وذلك لأن هذا البخاخ لا يصل إلى المعدة، وإنما يصل إلى القصبات الهوائية فتنفتح لما فيه من خاصية، ويتنفس الإنسان تنفساً عادياً بعد ذلك ، فليس هو بمعنى الأكل ولا الشرب، ولا أكلاً ولا شرباً يصل إلى المعدة  ومعلوم أن الأصل صحة الصوم حتى يوجد دليل يدل على الفساد من كتاب، أو سنة، أو إجماع، أو قياس صحيح

Syekh Utsaimin rahimahullāhu Ta‘ala ditanya, “Di sebagian toko obat terdapat perangkat semprot (inhaler) nan digunakan oleh sebagian penderita asma. Apakah boleh bagi orang nan berpuasa menggunakannya di siang hari Ramadan?”

Beliau menjawab, “Penggunaan inhaler ini boleh bagi orang nan berpuasa, baik puasanya di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan. Hal ini lantaran inhaler tersebut tidak sampai ke lambung, melainkan hanya sampai ke saluran pernapasan, sehingga saluran itu terbuka lantaran sifat obat nan ada di dalamnya, lampau seseorang dapat bernapas secara normal setelah itu. Maka inhaler ini bukan termasuk makan dan minum, dan bukan pula sesuatu nan sampai ke lambung. Telah diketahui bahwa norma asal puasa adalah sah, sampai ada dalil nan menunjukkan batalnya puasa, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, ijmak, maupun qiyas nan sahih.” [19]

Syekh Ahmad bin Muḥammad al-Khalil

الذي يظهر والله أعلم أن بخاخ الربو لا يفطر، فإن ما ذكره القائلون بعدم التفطير وجيه، وقياسهم على المضمضة والسواك قياس صحيح

“Yang tampak (bagiku), wallahu a’lam, bahwa inhaler asma tidak membatalkan puasa. Karena argumen nan dikemukakan oleh para ustadz nan beranggapan tidak membatalkan adalah pendapat nan kuat, dan qiyas mereka dengan berkumur (المضمضة) dan bersiwak adalah qiyas nan sahih.” [20]

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan, setelah ditelaah dari sisi medis dan ditimbang dengan kaidah-kaidah fikih nan mu‘tabar, penggunaan inhaler asma pada siang hari Ramadan tidak membatalkan puasa. Zat obat nan disemprotkan melalui inhaler, baik dalam corak semprot maupun inhaler serbuk, pada hakikatnya diarahkan menuju saluran pernapasan, bukan ke lambung. Jumlah nan mungkin masuk ke tenggorokan sangat sedikit, tidak sengaja, dan secara medis susah dihindari. Terlebih lagi, penggunaan cerobong udara alias spacer semakin menguatkan konklusi ini lantaran secara ilmiah membantu obat langsung mencapai paru-paru dan meminimalkan sisa nan tertelan.

Berbeda dengan inhaler biasa, penggunaan nebulizer mempunyai karakter nan tidak sama. Dari sisi medis, nebulizer menggunakan dosis obat nan jauh lebih besar dengan lama pemakaian nan relatif lama, sehingga kesempatan masuknya obat ke saluran pencernaan menjadi lebih besar. Selain itu, tekanan uap nan dihasilkan memungkinkan sebagian cairan mencapai tenggorokan dan tertelan. Oleh lantaran itu, nebulizer tidak dapat diqiyaskan dengan inhaler biasa dan lebih dekat kepada perkara nan membatalkan puasa. [21]

Dengan penjelasan ini, diharapkan kaum Muslimin, khususnya penderita asma, dapat merasa tenang dalam menjalankan ibadah puasa. Menggunakan inhaler asma saat dibutuhkan tidak merusak puasa, dan hukum tidak dimaksudkan untuk memberatkan hamba, terlebih dalam kondisi sakit. Adapun bagi nan memerlukan nebulizer, hukum memberikan keringanan bagi orang sakit untuk berbuka dan mengganti puasanya di hari lain. Inilah corak kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, nan menjadikan hukum ini selaras antara ibadah dan penjagaan jiwa. Wallahu Ta’ala a’lam.

Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Muhammad Ibrahim at-Tuwaijiri, Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah, hal. 630.

[2] Abu al-Hasan Ali bin Mukhtar ar-Ramli, Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah, hal. 681.

[3] Ibnu Rusyd, Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid, 1: 211.

[4] Web Cleveland Clinic, Inhalers.

[5] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157-161.

[6] Muhammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz Ibn ‘Ābidīn, Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār, 2: 395.

[7] Muhammad ‘Arafah ad-Dasūqī, Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr, 1: 525.

[8] Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs al-Buhūtī, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 482.

[9] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.

[10] Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Hamzah ar-Ramlī (asy-Syāfi‘ī aṣ-Ṣaghīr), Nihāyat al-Muḥtāj ilā Syarḥ al-Minhāj, 3: 169.

[11] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 157.

[12] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 158.

[13] Imam as-Sarakhsī, Muḥammad bin Aḥmad bin Sahl, al-Mabsūṭ, 3: 142.

[14] Imam al-‘Abdarī, Muḥammad bin Yūsuf, at-Tāj wa al-Iklīl Syarḥ Mukhtaṣar Khalīl, 2: 426.

[15] Imam an-Nawawī, Yaḥyā bin Syaraf ad-Dīn, al-Majmū‘ Syarḥ al-Muhadzdzab, 6: 338.

[16] Imam al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs, Syarḥ Muntahā al-Irādāt, 1: 483.

[17] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 163-168.

[18] Syekh Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh bin Bāz, Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah, 15: 265.

[19] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn, 19: 210–211.

[20]  Aḥmad bin Muḥammad al-Khalīl, Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah, hal. 50–51.

[21] Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib al-Kindī, al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah (Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah), hal. 173.

Daftar Pustaka

ad-Dasūqī, Muḥammad ‘Arafah. Ḥāsyiyah ad-Dasūqī ‘alā asy-Syarḥ al-Kabīr. Beirut: Dār al-Fikr.

al-Buhūtī, Manṣūr bin Yūnus bin Idrīs. (1996). Syarḥ Muntahā al-Irādāt (Cet. ke-2). Beirut: ‘Ālam al-Kutub.

al-Khalīl, Aḥmad bin Muḥammad. (2005). Mufṭirāt aṣ-Ṣiyām al-Mu‘āṣirah. Cet. 1. Dammām: Dār Ibn al-Jawzī li an-Nasyr wa at-Tawzī‘.

al-Kindī, ‘Abd al-Razzāq bin ‘Abdullāh Ṣāliḥ bin Ghālib. (2014). al-Mufṭirāt al-Ṭibbiyyah al-Mu‘āṣirah: Dirāsah Fiqhiyyah Ṭibbiyyah Muqāranah (Cet. 1). Malaysia: Dār al-Ḥaqīqah al-Kauniyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

ar-Ramlī, Abū al-Ḥasan ‘Alī bin Mukhtār. Faḍl Rabb al-Bariyyah fī Sharḥ ad-Durar al-Bahiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ. Majmū‘ Fatāwā wa Rasā’il asy-Syaikh al-‘Utsaimīn. Riyadh: Dār al-Waṭan. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

at-Tuwaijirī, Muḥammad bin Ibrāhīm bin ‘Abdullāh. (2010). Mukhtaṣar al-Fiqh al-Islāmī fī Ḍaw’ al-Qur’ān wa as-Sunnah (Cet. 11). Riyadh: Dār Aṣdā’ al-Mujtama‘. Diakses melalui Maktabah Syamilah.

Cleveland Clinic. (2025). Inhalers. Diakses pada 5 Februari 2025, dari https://my.clevelandclinic.org/health/treatments/8694-inhalers

Ibn ‘Ābidīn, Muḥammad Amīn bin ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz. Ḥāsyiyah Radd al-Muḥtār ‘alā ad-Durr al-Mukhtār. Beirut: Dār al-Fikr.

Ibn Bāz, ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdullāh. (1420 H). Majmū‘ Fatāwā wa Maqālāt Mutanawwi‘ah. Riyadh: Ri’āsat Idārat al-Buḥūth al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’.

Ibn Rusyd, Muḥammad bin Aḥmad al-Qurṭubī. Bidāyat al-Mujtahid wa Nihāyat al-Muqtaṣid. Beirut: Dār al-Fikr.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info