ARTICLE AD BOX
Ramadan menjadi bulan penuh motivasi beramal. Semua corak motivasi terkumpul di dalamnya:
- Motivasi ganjaran dari Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ;
- Keadaan lingkungan nan mendorong untuk beramal;
- Rentang waktu ringkas nan membikin alokasi tenaga terukur;
- Waktu bingkisan dan spesial seperti 10 hari terakhir dan lailatul qadar;
- Predikat takwa nan disematkan kepada lulusan madrasah Ramadan.
Semua perihal tersebut memotivasi kita untuk meningkatkan jumlah dan kualitas amalan. Namun, banyaknya pintu kebaikan justru menuntut kita untuk menentukan skala prioritas dalam beramal. Energi kita terbatas, waktu kita terbatas, maka kita perlu mengalokasikan kapabilitas diri kita kepada ibadah nan paling berfaedah bagi diri kita. Maka, pertanyaan nan sangat relevan adalah, “Apa ibadah terbaik di bulan Ramadan?”
Sejatinya, jawaban dari pertanyaan tersebut tidaklah tunggal. Amalan terbaik di bulan Ramadan bisa beragam bagi semua orang. Sebagaimana Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan ibadah paling utama dengan banyak pilihan jawaban. Nabi ﷺ menjawab sesuai kapabilitas dan potensi orang nan bertanya. Sehingga ibadah utama tidak kudu sama antara satu sama lain. Sebagaimana jawaban Imam Malik rahimahullah ketika dikritisi tentang dirinya nan sibuk dengan pengetahuan dibandingkan ibadah mahdhah, beliau berkata,
أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَسَّمَ الْأَعْمَالَ كَمَا قَسَّمَ الْأَرْزَاقَ
“Sesungguhnya Allah ﷻ itu membagi kebaikan (ibadah) sebagaimana Allah membagi rezeki.” (Siyar A’laam An-Nubalaa’, 8: 114)
Maka, ibadah terbaik adalah ibadah nan paling bisa kita maksimalkan sesuai potensi diri kita.
Amalan terbaik tentu saja dapat kita klasifikasikan berasas level perintahnya. Amalan wajib lebih utama dari ibadah sunah. As-Suyuthi rahimahullah membawakan norma dalam masalah ini,
الفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفْلِ
“Amalan wajib lebih utama daripada ibadah sunah.”
Jangan sampai kita tertipu dengan ibadah nan tidak lebih utama daripada nan lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,
مَنْ شَغَلَهُ الْفَرْضُ عَنْ النَّفْلِ فَهُوَ مَعْذُورٌ وَمَنْ شَغَلَهُ النَّفْلُ عَنْ الْفَرْضِ فَهُوَ مَغْرُورٌ
“Siapa saja nan tersibukkan dengan kebaikan nan wajib dari nan sunah, dialah orang nan patut diberi uzur. Sedangkan siapa saja nan tersibukkan dengan nan sunah sehingga melalaikan nan wajib, maka dialah orang nan betul-betul tertipu.” (Fath Al-Bari, 11: 343)
Syekh Al-Utsaimin rahimahullah menerangkan bahwa salah satu jebakan setan adalah menyibukkan manusia kepada kebaikan nan sunah daripada nan wajib. Hal ini bersesuaian dengan keterangan Ibnul Qayyim rahimahullah. Syekh Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Menjadi tanggungjawab seorang muslim untuk memulai dengan melakukan tanggungjawab nan mesti dijalankan oleh dirinya. Baru kemudian, dia melakukan nan sunah nan dia inginkan. Karena setan mau sekali manusia melakukan ibadah sunah dan membuatnya meremehkan ibadah nan wajib.” (Syarh Riyadhish Shalihin, 1: 678)
Tidak meninggalkan ibadah sosial
Sebagian orang di bulan Ramadan mempunyai syubhat bahwasanya ibadah nan utama di Ramadan adalah ibadah nan konsentrasi kepada diri sendiri. Landasannya adalah praktik para salaf nan katanya betul-betul berfokus pada tiga ibadah pribadi, seperti salat, membaca Al-Quran, dan tafakur.
Nabi ﷺ justru menjadi orang nan paling murah hati di bulan Ramadan. Kedermawanan Nabi ﷺ atas segala kebaikan, artinya bukan hanya kekayaan saja, tetapi segala perbuatan berfaedah bagi orang lain. Terlalu banyak riwayat nan menjelaskan bahwa baginda Nabi ﷺ justru semakin semangat beramal sosial di bulan Ramadan.
كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ
“Rasulullah ﷺ adalah orang nan paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berhujung ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril berjumpa dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu murah hati melampaui hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Begitupula perihal ini menjadi pendapat fikih dari para ustadz dan merekomendasikannya kepada umat, salah satunya Imam Asy-Syafii rahimahullah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Rajab rahimahullah.
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,
أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم
“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ dikarenakan manusia pada bulan tersebut mempunyai banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat sehingga tidak konsentrasi terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)
Baca juga: Tanda Diterimanya Amal di Bulan Ramadan
Kombinasi ibadah istimewa
Teladan nan bisa menjadi solusi atas pertanyaan “apa ibadah terbaik di Ramadan?” adalah menggabungkan keseluruhan kebaikan utama di dalamnya. Nabi ﷺ sendiri melaksanakan salat tahajud dengan referensi Al-Quran secara tartil, bermohon setiap menjumpai ayat rahmat dan azab, sehingga beliau menggabungkan antara salat, membaca Al-Quran, doa, dan tafakur.
كان النبي صلى الله عليه وسلم يتهجد في ليالي رمضان ويقرأ قراءة مرتلة لا يمر بآية فيها رحمة إلا سأل ولا بآية فيها عذاب إلا تعوذ فيجمع بين الصلاة والقراءة والدعاء والتفكر وهذا أفضل الأعمال وأكملها في ليالي العشر وغيرها والله أعلم
Nabi ﷺ pun biasa salat pada malam-malam bulan Ramadan, membaca Al-Quran dengan tartil (tenang penuh penghayatan). Beliau tidak melewatkan ayat rahmat, selain memohon rahmatnya; dan tidaklah beliau melewatkan ayat tentang azab, selain beliau memohon perlindungan darinya. Dengan demikian, beliau menggabungkan salat, referensi Al-Quran, berdoa, dan tafakur. Inilah ibadah terbaik dan paling sempurna selama sepuluh malam terakhir Ramadan dan pada waktu-waktu lainnya. Wallahu a’lam. (Lathaiful Maarif, hal. 204)
Dan perkara-perkara ini dapat berkumpul semuanya di bulan Ramadan. Pada bulan tersebut, seorang mukmin sedang berpuasa, malamnya melaksanakan salat malam. Mereka juga bersedekah dan berkata kata baik, karena orang nan sedang berpuasa dilarang mengucapkan perkataan nan sia-sia dan kotor.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ الله ِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :قَالَ الله ُعَزَّ وَجَلَّ : وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Apabila seseorang di antara Anda berpuasa, janganlah berbicara kotor/keji/cabul dan berteriak-teriak. Apabila ada orang nan mencaci makinya alias membujuk bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya saya sedang berpuasa.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Kombinasi puasa, salat, dan infak dapat mengantarkan pelakunya ke surga
Seorang salaf berkata,
الصلاة توصل صاحبها إلى نصف الطريق والصيام يوصله إلى باب الملك والصدقة تأخذ بيده فتدخله على الملك
“Salat mengantarkan pelakunya hingga pertengahan jalan. Puasa mengantarkannya ke pintu Sang Raja. Dan infak nan menarik tangannya masuk menemui Sang Raja.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)
Tiga kombinasi kebaikan ini adalah karakter dari sahabat utama Nabi ﷺ, ialah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian nan pagi ini berpuasa?” Abu Bakar lantas berkata, “Saya.” “Siapa di antara kalian nan hari ini ikut mengantar jenazah?”, tanya beliau kemudian. Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau lanjut bertanya, “Siapa di antara kalian nan sudah memberi makan orang miskin?” Abu Bakar kembali berkata, “Saya.” Beliau berbicara lagi, “Siapa di antara kalian nan sudah menjenguk orang sakit?” Lagi-lagi Abu Bakar berkata, “Saya.” Rasulullah kemudian bersabda, “Tidaklah semua kebaikan itu berkumpul pada diri seseorang, selain dia pasti masuk surga.” (HR. Muslim no. 1028)
Kombinasi ibadah ini lebih efektif melindungi dari neraka jahanam
Menggabungkan puasa dan infak lebih efektif dalam menghapuskan dosa, melindungi diri, serta menjauhkannya dari neraka jahanam, terlebih andaikan ditambah salat malam. Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,
الصيام جنة
“Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari no. 1894)
Dalam sabda Muadz, Nabi ﷺ bersabda,
الصدقة تطفىء الخطيئة كما يطفىء الماء النار وقيام الرجل من جوف الليل
“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api. Begitu juga salatnya seseorang di pertengahan malam.” (HR. Tirmidzi no. 2619, sabda hasan shahih)
Maksudnya adalah salat malam juga dapat memadamkan dosa seseorang, sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ahmad.
Dalam sebuah sabda sahih, disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
اتقوا النار ولو بشق تمرة
“Lindungilah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan bersedekah separuh buah kurma.” (HR. Bukhari no. 1417)
Abu Darda radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,
صلوا في ظلمة الليل ركعتين لظلمة القبور صوموا يوما شديدا حره لحر يوم النشور تصدقوا بصدقة لشر يوم عسير
“Salatlah dua rekaat di tengah kegelapan malam untuk menghadapi kegelapan kubur; berpuasalah di hari nan sangat panas untuk menghadapi panasnya hari kiamat; berikanlah infak untuk menghadapi kesulitan di hari nan berat itu.” (Lathaiful Maarif, hal. 167)
Mutiara hikmah
Riwayat di atas menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ dan para salaf tidak membatasi diri dengan satu dua ibadah selama bulan Ramadan. Mereka mengkombinasikan ibadah spesial di bulan Ramadan, apalagi mendorong untuk lebih maksimal berkontribusi kebaikan kepada orang lain. Pandangan nan membatasi bahwa ibadah utama di bulan Ramadan hanyalah ibadah pribadi adalah pandangan nan kurang tepat. Banyak riwayat nan menunjukkan justru Nabi ﷺ semakin aktif menebar kebaikan di bulan Ramadan. Belum lagi praktik para salaf nan justru banyak tilawah Al-Quran dan mengajarkannya.
Di satu sisi, semua ibadah tersebut dikombinasikan dengan ibadah pribadi nan kudu ditekankan juga. Jangan sampai lantaran sibuk berkontribusi sosial, sehingga tidak ada waktu untuk menepi bermohon dan salat malam. Padahal, ini adalah momentum bagi kita untuk semakin dekat kepada Allah Ta’ala.
Semoga risalah nan singkat ini dapat menjawab pertanyaan tersebut. Semoga Allah Ta’ala jadikan kita hamba-Nya nan sukses meraih predikat takwa pasca Ramadan.
Baca juga: Ringkasan Fikih Puasa Ramadan
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Artikel ini banyak diambil dari kitab Lathaiful Maarif karya ustadz besar Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah nan telah mengumpulkan riwayat sebagai pedoman memaksimalkan bulan Ramadan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·