ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Gelombang protes besar-besaran terjadi di sejumlah kota besar di seluruh 50 negara bagian Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (28/3/2026). Menurut penyelenggara, lebih dari 8 juta orang memprotes pemerintahan Trump dalam lebih dari 3.300 demonstrasi "No Kings" di seluruh AS, sebagaimana dilansir The Guardian. Aksi ini menjadi protes serentak terbesar dalam sejarah AS dalam satu hari.
Protes dengan jumlah massa terbesar terjadi di Twin Cities, Minnesota, meliputi Minneapolis dan St. Paul. Penyelenggara memperkirakan sebanyak 200.000 orang turun ke jalan di sekitar gedung parlemen negara bagian tersebut untuk menyuarakan perlawanan terhadap Presiden AS Donald J. Trump beserta kroni-kroninya.
Di Washington DC, para pengunjuk rasa memadati tangga Monumen Lincoln dan memenuhi National Mall. Seperti dalam tindakan "No Kings" sebelumnya, para demonstran mengangkat patung tiruan Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan sejumlah pejabat pemerintahan lainnya, seraya menyerukan pemecatan dan penangkapan mereka.
Berbagai kebijakan nan dijalankan Administrasi Trump pada periode kedua pemerintahannya memicu keresahan masyarakat AS, mulai dari penembakan fatal oleh ICE, perang di Iran, ancaman terhadap kewenangan suara, hingga kenaikan nilai bensin dan bahan makanan. Manuver Trump nan disebut sebagai America First justru dinilai sebagian besar masyarakat membahayakan kerakyatan di Amerika.
"Trump mau memerintah kita sebagai seorang tiran. Tetapi ini Amerika, dan kekuasaan adalah milik rakyat, bukan milik calon raja alias kroni-kroni miliarder mereka," kata para penyelenggara dikutip dari BBC.
“Pemerintahan ini tidak melayani kita. Pemerintahan ini melayani para miliarder,” ujar Kent Miller dari Monrovia, nan ikut serta dalam protes di Pasadena, dilansir Los Angeles Times.
“Perang dengan Iran hanya mempersulit kehidupan kaum pekerja,” imbuhnya.
Sementara itu, Gedung Putih menanggapi unjuk rasa terbesar ini dengan pernyataan nan meremehkan.
"Sesi terapi gangguan Trump," demikian kata ahli bicara Abigail Jackson, sebagaimana dikutip USA Today. Ia menyebut unjuk rasa ini hanyalah tindakan nan menarik minat "para reporter nan dibayar untuk meliputnya."
Juru bicara Komite Kongres Republik Nasional, Mike Marinella, menyebutnya sebagai "unjuk rasa kebencian terhadap Amerika."
No Kings: Rangkaian Unjuk Rasa Menentang Periode Kedua Trump
Unjuk rasa "No Kings" telah berjalan sebanyak tiga kali. Putaran pertama digelar pada 14 Juni 2025, bertepatan dengan ulang tahun Presiden Trump dan parade militer di Washington DC untuk memperingati ulang tahun ke-250 Angkatan Darat AS.
Putaran kedua terjadi pada 18 Oktober 2025, dengan jumlah massa nan lebih besar. Putaran ketiga berjalan pada Sabtu (28/3/2026) dan menjadi nan terbesar. Demonstrasi ini merupakan salah satu protes satu hari terbesar dalam sejarah AS, dengan lebih dari lima juta demonstran pada Juni, nyaris tujuh juta pada Oktober, dan lebih dari delapan juta pada Maret 2026.
Menurut Britannica, tindakan protes tersebut dinamai "No Kings" sebagai corak penolakan terhadap kebijakan-kebijakan keras nan dipromosikan Presiden Trump dari bagian eksekutif.
“Presiden mengira kekuasaannya mutlak. Tetapi di Amerika, kita tidak mempunyai raja, dan kita tidak bakal mundur melawan kekacauan, korupsi, dan kekejaman,” demikian pernyataan penyelenggara di situs web demonstrasi tersebut.
Aksi protes "No Kings" sebagian besar diorganisir oleh organisasi-organisasi liberal di Amerika Serikat, seperti 50501 Movement, Indivisible, dan MoveOn. Kelompok-kelompok nonpartisan seperti American Civil Liberties Union (ACLU) juga turut memfasilitasi jalannya protes.
Julukan "No Kings" diciptakan oleh Gerakan 50501, nan di situs webnya menekankan "aturan 3,5%" ialah pendapat bahwa jika 3,5 persen dari suatu populasi terlibat dalam suatu gerakan, perubahan politik nan signifikan dapat dicapai.
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·