Yenny Wahid soal Krisis Energi: Dampaknya Langsung ke Dapur, Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan

Sedang Trending 2 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Direktur Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) menyoroti akibat krisis daya dunia terhadap kehidupan rumah tangga, khususnya bagi perempuan.


Ia menegaskan bahwa gejolak daya bumi tidak hanya berakibat pada sektor makro, tetapi langsung terasa hingga ke dapur masyarakat dan wanita menjadi golongan paling rentan dari akibat tersebut.


“Krisis energi, walaupun tempatnya jauh di Selat Hormus, tapi dampaknya langsung ke dapur ibu-ibu. Ibu-ibu tentu sangat lekat dengan urusan dapur, urusan rumah tangga, tentu berakibat semua,” ujar Yenny saat ditemui NU Online di kediamannya, Ciganjur, Jakarta, pada Kamis (2/4/2026).


Ia menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz memberikan pengaruh signifikan terhadap pasokan daya global. Jalur tersebut selama ini menjadi penghubung utama pengedaran daya dunia.


“Setelah Selat Hormuz ditutup, efeknya langsung ke dapur masyarakat. Kenapa? Karena 20 persen pasokan daya bumi mengalirnya lewat Selat Hormuz,” ujarnya.


“Otomatis, minyak nan tersendat pasokannya, minyak jadi langka, harganya jadi mahal. Begitu BBM mahal, semuanya ikut mahal,” lanjutnya.


Menurut Yenny, kenaikan nilai bahan bakar minyak (BBM) mempunyai akibat berantai terhadap nilai kebutuhan pokok. Hal ini menjadi persoalan serius lantaran kebutuhan dapur merupakan kebutuhan dasar nan tidak bisa ditunda.


“Harga BBM buat kita tentu sangat signifikan lantaran ini berakibat besar pada harga-harga peralatan pokok, harga-harga semua kebutuhan, dan tentunya kebutuhan dapur nan paling utama,” katanya.


Lebih lanjut, dia menegaskan pemerintah kudu bertindak tegas dalam merespons situasi ini agar tidak berkembang menjadi krisis nan lebih luas. Yenny menyinggung contoh negara lain nan telah mengambil langkah ekstrem akibat tekanan daya global.


“Karena kita lihat, ketika tidak ada intervensi pemerintah nan terjadi seperti di Filipina, langsung ada keadaan darurat diterapkan. Kita tentu tidak mau ada kondisi semacam itu diterapkan di Indonesia,” tegasnya.


Di tengah situasi tersebut, Yenny juga menekankan pentingnya peran wanita dalam menghadapi akibat krisis.


“Perempuan-perempuan bisa bergerak bersama-sama, misalnya apa? Misalnya kita bisa bersinergi dengan pemerintah untuk memberikan masukan mengenai solusi-solusi nan kudu dihadapi, solusi-solusi nan kudu diambil untuk memastikan bahwa akibat dari Perang Iran dan Amerika ini, serangan Amerika ke Iran, tidak kemudian dampaknya terasa begitu besar untuk Indonesia,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE