ARTICLE AD BOX
Hukum dan kaffarat orang nan berjimak di siang hari bulan Ramadan
Bukan lagi menjadi perihal nan tabu mengenai hukum jimak (berhubungan suami istri) di bulan Ramadan. Selain puasanya batal, seseorang nan melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan wajib untuk mengqadha puasanya dan sekaligus bayar kaffarat. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Sebagaimana nan dinukil oleh Al-Imam Ibnu Rusyd dalam Bidaayatul Mujtahid. [1]
Sehingga, seseorang nan berjimak di siang hari bulan Ramadan setidaknya terkena tiga akibat [2]:
– Puasanya batal;
– Mengqadha puasanya;
– Membayar kaffarat.
Jumhur ustadz beralasan dengan sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
بينَما نَحنُ جُلوسٌ عِندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذ جاءَه رَجُلٌ فقال: يا رَسولَ اللهِ، هَلَكتُ. قال: ما لَكَ؟ قال: وقَعتُ على امرَأتي وأنا صائِمٌ، فقال رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: هل تَجِدُ رَقَبةً تُعتِقُها؟ قال: لا، قال: فهل تَستَطيعُ أن تَصومَ شَهرَينِ مُتَتابِعَينِ، قال: لا، فقال: فهل تَجِدُ إطعامَ سِتِّينَ مِسكينًا. قال: لا، قال: فمَكَثَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فبينا نَحنُ على ذلك أُتيَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بعَرَقٍ فيها تَمرٌ -والعَرَقُ المِكتَلُ- قال: أينَ السَّائِلُ؟ فقال: أنا، قال: خُذْها، فتَصَدَّقْ به، فقال الرَّجُلُ: أعَلى أفقَرَ مِنِّي يا رَسولَ اللهِ؟ فواللهِ ما بينَ لابَتَيها -يُريدُ الحَرَّتَينِ- أهلُ بَيتٍ أفقَرُ مِن أهلِ بَيتي، فضَحِكَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم حتَّى بَدَت أنيابُه، ثُمَّ قال: أطعِمْه أهلَكَ
“Ketika kami sedang duduk berbareng Nabi ﷺ, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki, lampau berkata, ‘Wahai Rasulullah, celakalah aku!’ Beliau bertanya, ‘Apa nan terjadi padamu?’ Ia menjawab, ‘Aku berasosiasi badan dengan istriku, padahal saya sedang berpuasa.’ Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apakah engkau mempunyai seorang budak untuk dimerdekakan?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau bisa berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau mempunyai makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’
Lalu Nabi ﷺ tak bersuara sejenak. Ketika kami dalam kondisi seperti itu, Nabi ﷺ dibawakan sebuah ’araq berisi kurma —’araq adalah keranjang besar. Beliau bertanya, ‘Mana orang nan bertanya tadi?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya.’ Laki-laki itu bertanya, ‘Apakah kepada orang nan lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di antara dua bukit berbatu (di Madinah) ini family nan lebih miskin daripada keluargaku.’ Nabi ﷺ pun tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau bersabda, ‘Berikanlah makan keluargamu (dengan kurma ini).'” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalil di atas adalah dalil nan jelas mengenai dengan norma dan kaffarat orang nan berjimak di siang hari bulan Ramadan. Kendati sebagian dari para ustadz berbeda mengenai permasalahan, “Apakah wajib mengqadha puasanya alias tidak.”
Di antara nan beranggapan tidak wajib qadha adalah sebagian dari pendapat ajaran Syafi’i. Mereka berpandangan tidak adanya dalil kuat nan menunjukkan bakal wajibnya mengqadha puasa bagi orang nan berjimak di siang hari bulan Ramadan. Namun dihukumi oleh Al-Imam Ibnu Rusyd rahimahullah bahwa pendapat ini adalah pendapat nan menyelisihi jumhur ulama. [3]
Begitu pula Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah, beliau beranggapan tidak wajib mengqadha puasa selain pada orang nan sengaja muntah.
أَنَّ وُجُوبَ الْقَضَاءِ فِي تَعَمُّدِ الْقَيْءِ قَدْ صَحَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا ذَكَرْنَا قَبْلَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ بِمَسْأَلَتَيْنِ؛ وَلَمْ يَأْتِ فِي فَسَادِ الصَّوْمِ بِالتَّعَمُّدِ لِلْأَكْلِ أَوْ الشُّرْبِ أَوْ الْوَطْءِ: نَصٌّ بِإِيجَابِ الْقَضَاءِ
“Bahwasanya wajib mengqadha (mengganti puasa) bagi orang nan sengaja muntah telah sah ketetapannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, -sebagaimana nan kami telah sebutkan pada dua masalah sebelum pembahasan ini-. Namun, mengenai batalnya puasa lantaran sengaja makan, minum, ataupun berasosiasi suami istri, tidak ada nash (dalil) nan mewajibkan qadha.” [4]
Kami sebutkan perihal ini sebagai maklumat bakal adanya perselisihan di kalangan para ustadz tentang wajib mengqadha puasa alias tidaknya. Dalam perihal ini, pendapat jumhur ustadz dengan mengqadha puasa lebih dekat kepada dalil.
Terlepas dari pembahasan di atas, para ustadz sepakat bakal wajibnya bayar kaffarat. Bahkan disebutkan bahwasanya para ustadz empat ajaran bermufakat bakal wajibnya bayar kaffarat berasas sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas.
Bagaimana jika seseorang wafat terlebih dulu sebelum bayar kaffarat?
Yang perlu diketahui terlebih dahulu, bahwasanya kaffarat tidaklah gugur dengan wafatnya seseorang. Ia tetap menjadi utang nan kudu ditunaikan dan wajib untuk dibayarkan. Terlebih kaffarat dalam perihal ini berangkaian dengan utang kepada Allah Ta’ala, sehingga utang tersebut kudu diselesaikan serta ditunaikan.
Sebagaimana dalam sabda ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tatkala ada seorang wanita nan menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal ibunya nan wafat dan meninggalkan utang puasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
فَقالَ: أَرَأَيْتِ لو كانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ؟ قالَتْ: نَعَمْ، قالَ: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ بالقَضَاءِ
“Beliau bersabda, tidakkah engkau memandang jika ibumu mempunyai utang, bukankah engkau bantu untuk melunasinya? Wanita tersebut berkata, ‘Iya.’ Beliau bersabda, ‘Maka utang kepada Allah lebih berkuasa untuk dilunasi.” (Muttafaqun ‘alaih)
Siapakah nan bayar utang kaffarat?
Dalam perihal ini, nan membayarkan adalah walinya. Berdasarkan sabda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ
“Barangsiapa nan wafat, sedangkan dia mempunyai utang puasa, maka walinya-lah nan (menggantikan) puasanya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Maksud dari wali di sini adalah mahir waris mayit. [5] Sehingga, mahir warislah nan berkuasa untuk membayarkan utang kaffarat dari mayit, bukan nan lainnya.
Bagaimana langkah menunaikan utang kaffarat?
Sebelum berbincang tentang menunaikan utang kaffarat, perlu diketahui bahwasanya dalam bayar kaffarat itu diharuskan membayarnya secara berurut dan bukan berasas pilihan.
Jika dilihat, dalam kaffarat jimak di siang hari bulan Ramadan ada beberapa kategori:
– Memerdekakan budak;
– Berpuasa dua bulan berturut-turut;
– Memberi makan enam puluh orang miskin.
Dalam perihal ini, jumhur ustadz beranggapan wajib bayar kaffarat secara berurut-turut. [6] Artinya, dimulai terlebih dulu dari memerdekakan budak; jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.
Sehingga langkah menunaikannya adalah dengan berurutan, dalam perihal ini tidak bisa bebas memilih sebelum betul-betul percaya perihal tersebut tidak bisa untuk dilakukan.
Setelah mengetahui bahwasanya bayar kaffarat wajib berurutan, maka selanjutnya wali dari mayit membayarkan sesuai dengan kategori nan dia bisa untuk mengerjakannya.
Jika dia mampu, maka boleh baginya untuk berpusa dua bulan berturut-turut sekaligus dengan mengqadha puasa nan dia batalkan dengan karena jimak. Dengan langkah cukup satu orang dari walinya nan berpuasa. Demikian pendapat dari Syekh Al-Utsaimin rahimahullah. [7] Dikarenakan syarat dari penunaian puasa tersebut kudu dua bulan berturut-turut. Dari sini, tidak diperbolehkan jika ada beberapa wali mayit nan bermufakat untuk bergantian menggantikan puasanya.
Jika memang para wali alias mahir waris tidak bisa untuk menggantikan puasanya dua bulan berturut-turut, maka boleh untuk pindah ke kategori setelahnya. Yaitu, memberi makan enam puluh orang miskin.
Sebaiknya, sebelum pembagian kekayaan waris, mahir waris memisahkan terlebih dulu kekayaan mayit untuk pembayaran utang. Baik utang kepada Allah Ta’ala ataupun utang kepada sesama manusia. Utang kepada Allah seperti pembayaran kaffarat misalnya, inilah nan kudu didahulukan sebelum pembagian waris.
Oleh lantaran itu, memberi makan enam puluh orang miskin baiknya ditunaikan dengan menggunakan kekayaan mayit. Jika memang kekayaan mayit tidak ada untuk membayarnya, maka diperbolehkan bagi mahir waris untuk memberi makan enam puluh orang miskin. [8]
Wallahu a’lam.
***
Depok, 14 Ramadan 1447H / 3 Maret 2026
Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Bidaayatul Mujtahid, 2: 587.
[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Shahih Fiqih Sunnah, 2: 107.
[3] Al-Jadaawil Al-Fiqhiyyah lil Masaa’il Al-Khilaafiyah fi Kitabi Bidaayatil Mujtahid, hal. 636.
[4] Al-Muhalla bil Atsar, Masalah 735, 4: 308.
[5] Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 6: 451-452.
[6] Al-Jadaawil Al-Fiqhiyyah lil Masaa’il Al-Khilaafiyah fi Kitabi Bidaayatil Mujtahid, hal. 641; Fiqhus Sunnah, 1: 346; dan Shahih Fiqih Sunnah, 2: 109.
[7] Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 6: 452-453.
[8] https://islamqa.info/ar/answers/131660
Referensi:
– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.
– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.
– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.
– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
– Al-Imam Abul Walid Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd Al-Qurtubi, Tahqiq: Majid Al-Hamwi, Cetakan 1, Dar Ibnu Hazm Jilid 2, 1416 H.
– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 2 .Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.
– Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi, Al-Muhalla bil Atsar, Tahqiq: Dr. Abdul Ghaffar Sulaiman Al-Bandari. Cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah beirut 1408 H. Jilid 4 (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
– Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Asy-Syarhul Mumti’ ‘alaa Zaadil Mustaqni’, Dar Ibnul Jauzi, cet.1 th.1422H. Jilid 6 (Diakses melalui Maktabah Syamilah).
– Al-Jadaawil Al-Fiqhiyyah lil Masaa’il Al-Khilaafiyah fi Kitabi Bidaayatil Mujtahid, Prof. Dr. Dzahir bin Fakhri Adz-Dzohir, th. 1446 H.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·