ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Di tengah bergulirnya program unggulan pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG), banyak mendapatkan penolakan dari masyarakat. Salah satu penolakan itu datang dari Muhammad Rafif Arsya Maulidi, seorang siswa kelas XI Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nahdlatul Ulama (NU) Miftahul Falah Kudus, Jawa Tengah, nan menulis surat terbuka untuk Presiden Prabowo.
Menurutnya, di kembali berjalannya program MBG nan memerlukan anggaran sangat besar, ada realitas tragis nan dialami para pembimbing lantaran belum mendapat kesejahteraan nan layak.
"Namun, saya memandang tetap banyak guru, termasuk di SMK Miftahul Falah tempat saya belajar, nan mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh kesejahteraan nan layak. Di sisi lain, pemerintah mengalokasikan anggaran besar untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ungkapnya dalam surat terbuka tersebut, dikutip NU Online pada Ahad (5/4/2025).
Ia menolak menjadi penerima faedah program MBG tersebut. Bahkan, dia dengan sukarela bersedia andaikan jatah duit MBG untuk dirinya dialokasikan untuk tambahan tunjangan kesejahteraan guru-gurunya.
"Melalui surat ini, saya menyampaikan aspirasi pribadi. Saya menyatakan menolak untuk menerima MBG untuk diri saya," tegasnya.
"Jika memungkinkan, biaya nan semestinya dialokasikan untuk saya kiranya dapat dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru saya," lanjutnya.
Secara tegas, Arsya bersedia untuk mengalihkan jatah alokasi duit MBG dirinya untuk guru-gurunya. Saat ini dia tetap mempunyai masa pendidikan sekolah selama 1,5 tahun.
Menurutnya, andaikan jatah anggaran MBG untuk dirinya diuangkan dan dirinci, terakumulasi sebesar Rp6.750.000. Dengan rasionalisasi, 18 bulan x 25 hari x Rp15.000.
"Bagi saya pribadi, nomor tersebut mungkin tidak mengubah banyak hal, tetapi dapat menjadi corak penghargaan atas dedikasi guru. Saya minta alihkan jatah saya untuk kesejahteraan pembimbing saja," paparnya.
Ia juga membujuk para pelajar lain di Indonesia untuk bersuara agar pemerintah memprioritaskan kesejahteraan pembimbing dengan mengesampingkan program MBG. Menurutnya, surat terbuka tersebut merupakan corak kritik kepada pemerintah dan bentuk kepedulian seorang pelajar terhadap guru.
"Besar angan saya agar aspirasi ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam kebijakan pendidikan ke depan," harapnya.
Meskipun menolak MBG, Arsya mengaku bukan berasal dari family nan bergelimang harta. Ayahnya bekerja sebagai pekerja dan ibunya seorang ibu rumah tangga.
Ia mengatakan bahwa pembimbing merupakan orang nan dia hormati setelah orang tua. Karena guru, termasuk ustadz dan ustad mempunyai peran besar dalam kehidupannya ialah dalam membentuk adab dan mengajarkan ilmu.
"Sejak kecil, saya diajarkan untuk menghormati orang-orang nan berjasa dalam membentuk diri saya menjadi pribadi nan lebih baik, lebih cerdas, dan lebih beradab," ungkapnya.
Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nasiruddin mengapresiasi dan mendukung sikap kritis Arsya tersebut. Ia menyoroti soal kesejahteraan pembimbing nan belum merata dan belum layak. Padahal peran pembimbing sangat vital bagi generasi penerus bangsa ke depan.
"Ini bukan sekadar penolakan terhadap sebuah program, melainkan rayuan lembut agar kita menata ulang prioritas bahwa penghargaan kepada pembimbing bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam kebijakan nyata," ujarnya.
Menurut Nasir, sikap hormat dan empati Arsya terhadap pembimbing tersebut patut didukung. Ia membujuk beragam komponen masyarakat, pendidik, dan pemerintah, agar sadar terhadap ketimpangan dalam realitas pendidikan tersebut.
"Semoga bunyi sederhana ini menjadi pengingat berbareng bahwa kemajuan bangsa tidak hanya dibangun dari program nan tampak, tetapi juga dari kesejahteraan mereka nan mendidik dengan tulus," terangnya.
"Dari sini, kita diajak untuk bergerak, bukan dengan mempertentangkan kepentingan, tetapi dengan mencari jalan agar semua bisa melangkah beriringan demi kebaikan bersama," tambahnya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) Edi Subkhan juga mengapresiasi sikap kritis Arsya. Edi menyebut, siswa tersebut bisa menangkap dan menalar ketimpangan nan ada di bumi pendidikan. Anggaran untuk program MBG sebenarnya bisa direalokasikan untuk pendidikan terutama kesejahteraan guru.
"Ini patut kita syukuri," ungkapnya.
Ia juga memperingatkan mengenai kemungkinan tekanan terhadap sikap kritis Arsya dari pihak-pihak tertentu, seperti dinas pendidikan, pemda setempat hingga militer.
"Saya percaya guru-gurunya bakal melindungi, mereka sayang pada ananda Maulidi. Namun mungkin merasa anak didiknya bakal terancam, maka barangkali bakal mencoba menenangkannya," ungkapnya.
Ia mengungkapkan, andaikan dalam beberapa hari ke depan muncul ucapan permintaan maaf dari Arsya alias postingan surat bersuara kritik tersebut dihapus, berfaedah telah ada semacam intimidasi. Ia meyakini, intimidasi tersebut bukan berasal dari guru-guru Arsya, namun dari pihak lain nan berkepentingan.
"Kalau ini betul terjadi, publik sudah tahu siapa nan patut dicurigai membungkam bunyi kritis siswa, mencoba membungkam kajian bening siswa," paparnya.
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·