ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Momen liburan berbareng family menjadi pengalaman nan menyenangkan, terlebih saat diisi dengan kunjungan ke beragam destinasi wisata. Namun, di kembali itu, kejadian post holiday blues alias post holiday syndrome kian banyak dibicarakan setelah libur panjang Lebaran.
Bagi pelajar, mahasiswa, maupun pekerja, euforia Lebaran nan identik dengan kebersamaan, kelonggaran waktu, dan suasana hangat family perlahan memudar ketika aktivitas kembali melangkah normal. Di tengah arus kembali nan padat, tidak sedikit nan mengalami emosi hampa, kehilangan motivasi, hingga kesulitan fokus.
Dosen Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Maryam Alatas, mengatakan bahwa pencegahan post holiday syndrome krusial dilakukan, terutama bagi pekerja dan pelajar, agar kondisi emosional tetap stabil setelah liburan usai.
Pada umumnya, kondisi ini hanya berjalan beberapa hari hingga seseorang kembali beradaptasi dengan rutinitas.
“Satu alias dua hari sebelum liburan berakhir, sebaiknya mulai mempersiapkan diri, misalnya dengan mengatur kembali pola tidur. Lalu, mulai aktivitas secara bertahap, dari nan ringan hingga lebih berat,” ujar Maryam kepada NU Online, Kamis (2/4/2026).
Ia juga menekankan pentingnya memulai aktivitas ringan serta mengatur prioritas sejak di rumah. Misalnya, bagi pelajar, hari pertama sekolah biasanya diisi aktivitas ringan seperti legal bihalal.
“Persiapan bisa dimulai beberapa hari sebelum liburan usai, seperti mengatur pola tidur dan mulai membujuk anak membuka kembali kitab pelajaran agar tidak kaget saat masuk sekolah,” imbuhnya.
Menurutnya, memulai rutinitas secara berjenjang dan merencanakan aktivitas menyenangkan di masa mendatang dapat membantu menjaga stabilitas mental pascaliburan.
Senada, psikolog klinis lulusan Magister Universitas Islam Indonesia (UII), Alifa Fadia Ainaya, menjelaskan bahwa post holiday syndrome merupakan respons psikologis sementara ketika seseorang mengalami kesulitan beradaptasi kembali ke rutinitas setelah masa liburan.
“Kondisi ini bukan gangguan klinis, melainkan reaksi emosional dan kognitif akibat perubahan ritme hidup, dari suasana santuy dan elastis kembali ke tuntutan dan tanggung jawab sehari-hari,” ujarnya.
Ia menambahkan, kejadian ini cukup umum terjadi, terutama setelah libur panjang seperti Lebaran nan diisi dengan kebersamaan dan aktivitas berbeda dari keseharian.
“Ketika kembali ke rutinitas, muncul kontras nan cukup tajam sehingga tubuh dan pikiran memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri,” jelasnya.
Adapun tanda-tanda nan kerap muncul antara lain rasa malas, kehilangan motivasi, susah fokus, kelelahan meski aktivitas bentuk tidak berat, penurunan suasana hati, hingga kemauan kembali ke suasana liburan.
“Pada beberapa orang juga bisa muncul kekhawatiran ringan saat menghadapi kembali tuntutan pekerjaan alias tanggung jawab,” tambahnya.
Selain itu, perubahan mendadak dari kondisi santuy ke situasi nan penuh struktur dan ekspektasi menjadi aspek utama. Kelelahan sosial akibat intensitas hubungan selama Lebaran, perubahan pola tidur, serta ekspektasi diri nan tinggi juga dapat memperkuat kondisi ini.
Di sisi lain, perubahan rutinitas turut memengaruhi kondisi psikologis lantaran tubuh bekerja berasas pola nan berulang.
“Ketika rutinitas berubah, seperti jam tidur, pola makan, hingga aktivitas harian, ritme biologis dan mental ikut terganggu. Saat kudu kembali ke pola lama secara tiba-tiba, tubuh dan pikiran memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri,” pungkasnya.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·