ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Semangat kebangkitan perfilman nasional mewarnai peringatan Hari Film Nasional ke-76 nan digelar di CGV Grand Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Acara nan sempat tertunda akibat masa libur Idul Fitri ini diisi dengan nonton bareng (nobar) Film Darah dan Doa (The Long March) karya Bapak Perfilman Indonesia H Usmar Ismail.
Acara ini dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) RI Naswardi, serta sutradara kenamaan Joko Anwar.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya movie sebagai arsip sejarah bangsa. Ia mengapresiasi restorasi Darah dan Doa, movie pertama nan diproduksi sepenuhnya oleh orang Indonesia pada 30 Maret 1950, nan sekarang menjadi tonggak Hari Film Nasional.
"Film bukan sekadar tontonan, tapi juga tuntunan. Lewat Darah dan Doa, kita bisa memandang realitas perjuangan tahun 1948-1949 dengan sangat jujur. Ke depan, pemerintah berkomitmen memperbanyak restorasi film-film klasik nasional agar identitas budaya kita tetap terjaga," katanya.
Fadli Zon juga mengatakan bahwa Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan skema pendanaan melalui Dana Indonesian untuk mendukung pengembangan naskah dan pascaproduksi bagi para sineas.
Pemerintah juga menyoroti tantangan infrastruktur. Saat ini Indonesia baru mempunyai sekitar 2.300-2.500 layar bioskop, padahal idealnya dibutuhkan 10.000 layar untuk menjangkau 280 juta penduduk.
Fadli Zon berambisi sinergi antara pemerintah, LSF, dan sineas dapat memperkuat ekosistem industri imajinatif (CCI) agar budaya Indonesia menjadi soft power yangu disegani dunia, layaknya Korea Selatan dengan K-Pop dan filmnya.
Motivasi generasi muda untuk berkarya
Sutradara Joko Anwar, nan datang memberikan paparan mengenai potensi perfilman Indonesia, mengingatkan para mahasiswa dan organisasi movie bahwa kunci menembus pasar dunia adalah orisinalitas.
"Kita tidak bakal bisa maju jika tidak tahu titik awal kita. Kekuatan bercerita nan relevan dan autentik adalah satu-satunya langkah movie Indonesia punya kaki di peta dunia," tegas Joko.
Ia mencontohkan kesuksesan filmnya, Grave Torture (Siksa Kubur), nan telah dibeli di 86 negara lantaran mengangkat keresahan dan perspektif lokal nan unik.
Joko juga menyoroti pentingnya agunan kebebasan imajinatif dan peran LSF nan sekarang lebih kondusif melalui kampanye Budaya Sensor Mandiri. Ketua LSF RI, Naswardi, menjelaskan bahwa LSF sekarang terus mengupayakan peningkatan literasi tontonan.
"Kami memastikan proses penyensoran melangkah akuntabel. Melalui Budaya Sensor Mandiri, kita mau masyarakat menonton sesuai pengelompokkan usia. Ini adalah bagian dari kepintaran kolektif dalam mengonsumsi karya seni," jelasnya.
Antusiasme tidak hanya datang dari pejabat dan sineas senior, tetapi juga dari kalangan mahasiswa nan memadati studio. Deva Naufal Fadila, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Satya Negara Indonesia (USNI), mengungkapkan bahwa menonton karya restorasi ini memberikan pengalaman jiwa nan kuat bagi generasinya.
"Perasaannya seru, lantaran ini pertama kalinya saya menonton film jadul yang merupakan salah satu karya pertama di Indonesia. Perjuangannya sangat terasa, ditambah komponen peperangan nan perincian seperti aslinya," ungkap Deva saat ditemui usai pemutaran film.
Meski sebelumnya hanya mengenal nama Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman tanpa pernah memandang karyanya, Deva mengaku terkesan dengan pesan moral nan disampaikan.
“Film ini memberikan banyak motivasi, terutama memandang gimana beratnya perjuangan tumpah darah para pahlawan revolusi kita dulu," tambahnya
Peringatan ini ditutup dengan sesi obrolan dan angan besar agar generasi baru sineas Indonesia terus melahirkan karya berkualitas, membuka arena perlombaan penulisan naskah dan berhadiah sampai puluhan juta rupiah. Bahkan sampai terbentuk bank naskah. Di situ, Naskah-naskah terbaik bakal dikumpulkan kemudian dipilih untuk dijadikan film-film nan relevan bagi masyarakat Indonesia.
Kontributor: Ilham Risdianto
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·