ARTICLE AD BOX
Allah menjadikan bumi sebagai tempat mencari rezeki. Manusia dapat menjadikan apa nan ada di bumi menjadi rezekinya untuk menopang kebutuhan peribadatannya di dunia. Allah berfirman,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Dan carilah (pahala) negeri alambaka dengan apa nan telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah Anda lupakan bagianmu di dunia.” (QS. al-Qasas: 77)
Bahkan, Allah juga menjadikan bumi ini mudah untuk diambil rezekinya. Maka, manusia diperintahkan untuk berupaya mencari rezeki tersebut. Allah berfirman,
هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ
“Dia-lah nan menjadikan bumi ini mudah (untuk dijelajahi). Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya Anda (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. al-Mulk: 15)
Ayat tersebut menjelaskan bahwa kita diperintahkan mencari dan menyantap rezeki Allah. Pertanyaannya, apa nan dimaksud dengan rezeki dan rezeki Allah? Para ustadz berbeda pendapat, apa nan dimaksud dengan rezeki. Apakah rezeki hanya berupa perihal nan legal ataukah juga dapat berupa perihal nan haram. Hasan al-Bashri rahimahullah menyebutkan arti rezeki dengan,
الرزق هو تمكين الحيوان من الانتفاع بالشيء، والحظر على غيره؛ أن يمنعه من الانتفاع به
“Rezeki adalah nan dapat diambil manfaatnya oleh nan bernyawa, serta dilarang untuk selain dirinya mengambil manfaat.” [1]
Dari arti tersebut, didapatkan bahwa rezeki adalah sesuatu nan dapat dimanfaatkan seseorang nan memilikinya, namun tidak diperkenankan bagi orang lain nan tidak memilikinya. Hal ini berangkaian dengan perihal nan legal dan nan haram. Oleh lantaran itu, Allah memberikan batas legal dan haram. Allah hanya mengizinkan kita mengambil rezeki nan legal saja. Di antaranya adalah makanan. Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا
“Wahai orang-orang nan beriman, makanlah dari apa-apa nan ada di bumi dengan makanan nan legal dan baik.” (QS. al-Baqarah: 168)
Ayat ini menegaskan bahwa kita diizinkan mengkonsumsi apa nan ada dari bumi, selama itu legal dan baik untuk kita.
Allah mengizinkan manusia untuk memanfaatkan rezeki-rezeki nan Allah halalkan. Bentuk pemanfaatan tersebut bermacam-macam. Makan dan minum termasuk bagian dari pemanfaatan rezeki Allah. Namun, pemanfaatan itu terbatas hanya perkara-perkara nan legal saja.
Hukum minuman nabidz
Seorang muslim kudu memperhatikan makanan dan minumannya. Makanan dan minuman nan dia konsumsi haruslah makanan nan legal dan baik. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau tidak makan dengan sembarangan.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga mempunyai makanan dan minuman favorit alias nan biasa dimakan. Di antara nan diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengkonsumsinya adalah minuman nabidz yang umurnya tidak lebih dari 3 hari. Sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dari jalur Muslim,
انَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُنْبَذُ له الزَّبِيبُ في السِّقَاءِ، فَيَشْرَبُهُ يَومَهُ، وَالْغَدَ، وَبَعْدَ الغَدِ، فَإِذَا كانَ مَسَاءُ الثَّالِثَةِ شَرِبَهُ وَسَقَاهُ، فإنْ فَضَلَ شيءٌ أَهَرَاقَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan rendaman kurma kering (nabidz) di dalam kantong air. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya. Jika sudah masuk sore hari ketiga, beliau tetap meminumnya dan memberikannya kepada orang lain. Namun jika tetap ada sisa setelah itu, beliau membuangnya.” [2]
Sebelum membahas faidah nan terkandung dalam sabda ini, kita kudu tahu dulu, apa itu nabidz. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam at-Thib an-Nabawi menjelaskan,
هُوَ مَا يُطْرَحُ فِيهِ تَمْرٌ يُحَلِّيهِ، وَهُوَ يَدْخُلُ فِي الْغِذَاءِ وَالشَّرَابِ، وَلَهُ نَفْعٌ عَظِيمٌ فِي زِيَادَةِ الْقُوَّةِ، وَحِفْظِ الصِّحَّةِ
“Air nan diberi kurma sehingga rasanya menjadi manis. Minuman ini termasuk makanan sekaligus minuman, lantaran mengandung unsur gizi dan bisa mengenyangkan. Ia juga mempunyai faedah nan besar dalam menambah tenaga dan membantu menjaga kesehatan tubuh.” [3]
Secara bahasa, nabidz juga dapat disebut rendaman sari buah nan didiamkan beberapa hari. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Utsman al-Khamis dalam Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at,
النبيذ هو ما يلقى ويترك، فكل عصير أو لبن ترك مدة يقال له نبيذ
“Nabidz adalah nan didiamkan dan ditinggalkan. Maka, setiap sari buah/sirup alias susu nan dibiarkan beberapa waktu disebut nabidz” [4]
Dari sabda tersebut, para ustadz menyebut beberapa faidah krusial mengenai minuman nabidz. Di antaranya adalah bahwa nabidz pada asalnya merupakan minuman nan legal selama belum mengalami perubahan nan menjadikannya memabukkan. Hal ini lantaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri meminumnya.
Akan tetapi, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya meminum nabidz tersebut tidak lebih dari tiga hari. Hal ini menunjukkan bahwa setelah beberapa waktu, minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan nan dapat menyebabkan timbulnya sifat memabukkan. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan,
وَلَمْ يَكُنْ يَشْرَبُهُ بَعْدَ ثَلَاثٍ خَوْفًا مِنْ تَغَيُّرِهِ إِلَى الْإِسْكَارِ
“Nabi tidak meminumnya setelah 3 hari lantaran ditakutkan nabidz ini mempunyai potensi memabukkan.” [5]
Oleh lantaran itu, ketika minuman tersebut telah melewati pemisah waktu nan dikhawatirkan terjadi fermentasi nan kuat, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk membuangnya. Ini menunjukkan kehati-hatian beliau dalam menghindari sesuatu nan dapat mengantarkan kepada perkara nan diharamkan.
Bahkan, terdapat sabda nan menjelaskan kehati-hatian Nabi Muhammad dalam perkara ini. Diriwayatkan oleh sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,
أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ يُنْبَذُ لهُ في تَوْرٍ مِن حجارةٍ، فيشربُهُ مِن يومِهِ، ومِنَ الغَدِ، وبَعدَ الغَدِ إلى نِصفِ النَّهارِ، ثُمَّ يأمُرُ أنْ يُهْراقَ، وإمَّا أنْ يشربَهُ بعضُ الخَدَمِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa dibuatkan nabidz dalam sebuah wadah dari batu. Beliau meminumnya pada hari itu, keesokan harinya, dan hari setelahnya hingga sekitar pertengahan siang. Setelah itu, beliau memerintahkan agar minuman tersebut dibuang. Terkadang juga diberikan kepada sebagian pelayan untuk diminum.” [6]
Hadis nan diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah menjelaskan sikap kehati-hatian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap sesuatu nan berpotensi memabukkan. Dalam banyak riwayat dan penjelasan ustadz dijelaskan bahwa nabidz umumnya mulai berubah dan berpotensi memabukkan setelah melewati tiga hari. Namun dalam riwayat Jabir, Nabi tidak lagi meminumnya ketika telah masuk siang pada hari ketiga. Sikap ini menunjukkan kehati-hatian beliau agar minuman tersebut tidak sampai berubah menjadi khamr, sesuatu nan memabukkan.
Baca juga: Hukum Minum Khamr (Minuman Keras), Meskipun Tidak Mabuk
Apa itu khamr?
Untuk memahami pembagian nabidz secara tepat, krusial untuk mengetahui terlebih dulu apa nan dimaksud dengan khamr dalam hukum Islam. Sebab, sebagian orang mengira bahwa nabidz termasuk khamr, padahal keduanya tidak selalu sama.
Secara definisi, khamr telah dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ، وكُلُّ مُسْكِرٍ حَرامٌ، ومَن شَرِبَ الخَمْرَ في الدُّنْيا فَماتَ وهو يُدْمِنُها لَمْ يَتُبْ، لَمْ يَشْرَبْها في الآخِرَةِ
“Setiap nan memabukkan adalah khamr. Setiap nan memabukkan hukumnya haram. Barangsiapa nan meminum khamr di bumi dan mati, kemudian dia tidak bertobat, maka dia tidak bakal meminumnya di akhirat.” [7]
Hadis ini merupakan norma dasar penentuan arti khamr. Setiap nan memabukkan dan difungsikan untuk memabukkan adalah khamr. Pembatasan khamr bukan hanya pada wine alias minuman beralkohol, melainkan setiap nan dapat menghilangkan logika pikiran.
Sebagaimana disebutkan dalam Fatwa Lajnah Daimah,
أن الخمر هو المادة التي تغطي العقل بالسكر، فكل مادة حصل بها الإسكار فهي خمر محرمة، وإن لم تسم خمر
“Yang dimaksud dengan khamr adalah segala unsur nan menutup alias menghilangkan kegunaan logika lantaran pengaruh memabukkan. Maka, segala sesuatu nan menimbulkan mabuk termasuk khamr dan hukumnya haram, meskipun tidak disebut dengan nama khamr.” [8]
Oleh lantaran itu, nabidz yang lama rendamannya lebih dari tiga hari lantaran dikhawatirkan memabukkan, maka perihal tersebut bisa disebut khamr.
Keharaman khamr
Islam adalah kepercayaan kemaslahatan. Syariat-syariat nan Islam atur adalah untuk memberikan kemaslahatan untuk pribadinya dan lingkungannya. Sebaliknya, apa nan Islam larang pastilah mempunyai kemudaratan. Di antara nan Islam haramkan adalah khamr.
Khamr sendiri diharamkan oleh Islam lantaran khamr memiliki mudarat nan sangat besar. Allah berfirman,
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا
“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, ‘Pada keduanya terdapat dosa nan besar dan ada pula beberapa faedah bagi manusia. Namun, dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219)
Allah juga mensifatinya dengan sebuah perihal tersebut merupakan ibadah setan dan menjijikkan. Allah berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْخَمْرُ وَٱلْمَيْسِرُ وَٱلْأَنصَابُ وَٱلْأَزْلَٰمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَٱجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Wahai orang-orang nan beriman, sesungguhnya khamr, perjudian, pesugihan, dan undian sangatlah menjijikkan serta merupakan ibadah setan. Maka jauhilah, agar kalian beruntung.” (QS. al-Maidah: 90)
Nabi Muhammad juga menyebutkan,
أتاني جِبْرِيلُ عليه السلامُ فقال: يا محمَّدُ، إنَّ اللهَ لعَنَ الخمرَ، وعاصِرَها، ومعتصِرَها، وشاربَها، وحاملَها، والمحمولةَ إليه، وبائعَها، ومبتاعَها، وساقيَها، ومستقاها
“Jibril ‘alaihis salam datang kepadanya lampau berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah melaknat khamr: orang nan memerasnya, nan meminta agar diperas untuknya, nan meminumnya, nan membawanya, nan dibawakan kepadanya, nan menjualnya, nan membelinya, nan menuangkannya, dan nan memintanya untuk dituangkan.’” [9]
Islam dengan tegas menjadikan khamr sebagai minuman nan haram untuk dikonsumsi. Bukan hanya konsumsinya saja nan Islam larang, melainkan seluruh nan berangkaian dengan khamr.
Oleh lantaran itu, Nabi Muhammad menghindari nabidz yang sangat berpotensi memabukkan lantaran itu bakal dihukumi sebagai khamr.
Perbedaan nabidz dan khamr
Maka, tidak semua khamr dihasilkan dari nabidz dan tidak semua nabidz adalah khamr. Sebagaimana nan dijelaskan oleh al-Jahiz,
ان النبيذ غير الخمر. والشارع حرم الخمر فقط ولم يحرم النبيذ
“Sesungguhnya nabidz tidak selalu khamr. Islam mengharamkan khamr dan tidak langsung mengharamkan nabidz.” [10]
Nabidz yang berpotensi memabukkan, maka hukumnya bakal menjadi khamr. Umumnya orang-orang dulu menjadikan khamr dari perendaman kurma selama lebih dari 3 hari. Jika nabidz memabukkan, maka dia termasuk khamr.
Kesimpulan
Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghindari meminum nabidz pada hari keempat lantaran minuman tersebut berpotensi mengalami perubahan dan fermentasi nan dapat menimbulkan sifat memabukkan. Apabila minuman tersebut telah memabukkan, maka dia termasuk khamr nan diharamkan. Hal ini berasas norma nan disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ
“Apa saja nan jika banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) [11]
Kedua, nabidz pada asalnya adalah minuman nan halal, ialah air nan direndam dengan kurma, kismis, alias buah lainnya selama belum berubah menjadi minuman nan memabukkan.
Ketiga, praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam nan hanya meminum nabidz hingga hari ketiga menunjukkan sikap kehati-hatian beliau dalam menjauhi sesuatu nan dapat mengantarkan kepada perkara nan haram.
Keempat, tidak semua nabidz adalah khamr; tetapi setiap nabidz nan telah memabukkan, maka hukumnya berubah menjadi khamr nan diharamkan dalam hukum Islam.
Baca juga: Tahapan-Tahapan Larangan Khamr dalam Al-Qur’an
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Muhammad bin ‘Ali bin Adam al-Ityubi al-Walawi, al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj, 41: 377.
[2] Muslim, Shahih Muslim, no. 2004.
[3] Ibn al-Qayyim, ath-Tibb an-Nabawi, hal. 176.
[4] Ustman al-Khamis, Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at, hal. 32.
[5] Ibn al-Qayyim, ath-Thibb an-Nabawi, hal. 176.
[6] Shu‘ayb al-Arna’ut, Takhrij Sharh as-Sunnah, no. 3023.
[7] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 5575; Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 2003 (Muttafaq ‘alaih).
[8] Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta’, Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 22: 105.
[9] Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 3674, Ibnu Majah no. 3380, dan Ahmad dalam Musnad-nya no. 5716; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
[10] Al-Jahiz, ar-Rasa’il al-Adabiyyah, hal. 50.
[11] An-Nasa’i, Sunan an-Nasa’i, no. 5623; dinilai hasan shahih oleh Syekh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i.
Daftar Pustaka
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan an-Nasa’i. Maktabah Syamilah.
Al-Arna’ut, Shu‘ayb. Takhrij Sharh as-Sunnah. Maktabah Syamilah.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Maktabah Syamilah.
Al-Ityubi al-Walawi, Muhammad bin Ali bin Adam. al-Bahr al-Muhit ats-Tsajjaj fi Sharh Shahih al-Imam Muslim bin al-Hajjaj. Riyadh: Dar Ibn al-Jawzi. Al-Jahiz,
Abu Utsman Amr bin Bahr. ar-Rasa’il al-Adabiyyah. Beirut: Dar wa Maktabah al-Hilal, 1423 H.
Al-Khamis, Utsman. Waqafat ma‘a Kitab al-Muraja‘at. Maktabah Syamilah.
Al-Lajnah ad-Da’imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta. Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah. Riyadh: Riasah Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Maktabah Syamilah.
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. Maktabah Syamilah.
Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Maktabah Syamilah.
Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Maktabah Syamilah.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah. ath-Tibb an-Nabawi. Maktabah Syamilah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·