Perang Jamal dan Lahirnya Polarisasi Politik dalam Umat Islam

Sedang Trending 2 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Perang Jamal merupakan salah satu peristiwa paling krusial dalam sejarah Islam awal. Tragedi ini adalah momentum ketika perbedaan politik berubah menjadi bentrok besar nan melibatkan para sahabat senior. Peristiwa ini pecah setelah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, sebuah tragedi nan sukses mengguncang stabilitas politik, moral, dan sosial umat Islam.

Setelah Utsman terbunuh, Ali bin Abi Thalib dibaiat sebagai khalifah dalam situasi nan sangat tidak stabil. Baiat itu terjadi ketika para pembunuh Utsman tetap berada di tengah masyarakat dan belum dapat segera ditindak. 


Sayyidina Ali menerima amanah kepemimpinan dalam keadaan negara belum pulih, sementara sebagian tokoh Muslim menilai bahwa penegakan keadilan atas darah Utsman kudu menjadi prioritas pertama sebelum situasi politik dianggap normal kembali.

Di Makkah, Aisyah, Talhah, dan Zubair berbareng sejumlah tokoh lain mulai menghimpun dukungan. Mereka menyerukan penuntutan darah Utsman dan menilai pembunuhan itu sebagai pelanggaran besar terhadap kehormatan umat. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Aisyah tampil mendorong masyarakat agar tidak membiarkan pembunuhan khalifah berlalu tanpa penyelesaian. 


Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menyampaikan:


فقامت عائشة رضي الله عنها في الناس تخطبهم وتحثهم على القيام بطلب دم عثمان، وذكرت ما افتات به أولئك من قتله في بلد حرام وشهر حرام، ولم يراقبوا جوار رسول الله ﷺ وقد سفكوا الدماء.

Artinya, “Maka Aisyah berdiri di hadapan orang banyak, lampau berkhutbah kepada mereka dan mendorong mereka untuk bangkit menuntut darah Utsman. Ia menyebut tindakan lancang nan telah dilakukan oleh mereka itu dengan membunuhnya di negeri nan suci dan pada bulan nan suci. Mereka juga tidak menghormati kedudukan bertetangga dengan Rasulullah ; mereka telah menumpahkan darah.” (Ibnu Katsir, al-Bidayah wan Nihayah, Juz 10, (Kairo: Daru ‘Alamil Kutub, 2003), hlm. 432).

Teks ini menjadi bukti bahwa sebenarnya tuntutan terhadap pembunuh Utsman dibingkai sebagai rumor moral-keagamaan, bukan sebatas ambisi politik.

Dari Tuntutan Keadilan ke Perang Saudara
 
 

Meskipun sama-sama menginginkan perbaikan keadaan, para tokoh saat itu berbeda dalam menentukan langkah. Ada nan mengusulkan bergerak ke Syam, ada nan mau ke Madinah, dan ada nan memilih Bashrah. 


Akhirnya Bashrah dipilih sebagai pedoman gerakan. Pilihan ini menunjukkan bahwa sejak awal bentrok ini menyangkut strategi politik, support militer, dan perebutan pengaruh di wilayah-wilayah krusial bumi Islam saat itu.

Dalam perjalanan ke Bashrah, rombongan Aisyah melewati area Haw’ab. Di tempat itu, anjing-anjing menggonggong hingga Aisyah terkenang sabda Nabi tentang salah satu istrinya nan bakal disambut gonggongan anjing di suatu tempat.

Riwayat ini sering dipahami sebagai isyarat kegelisahan dan keraguan moral nan menyelimuti perjalanan tersebut. Artinya, apalagi sebelum perang terjadi, bayang-bayang tuduhan dan kekacauan sudah sangat terasa di kalangan para pelaku sejarah sendiri.

Ibnul Atsir mengutip gimana saat Aisyah merasa sangat resah ketika melintasi Haw’ab, dan sempat meminta untuk berbalik arah pulang. Berikut kutipannya:

وَقَالَتْ: رُدُّونِي، أَنَا وَاللَّهِ صَاحِبَةُ مَاءِ الْحَوْأَبِ. فَأَنَاخُوا حَوْلَهَا يَوْمًا وَلَيْلَةً.

Artinya, “Aisyah berkata: “Kembalikan aku! Demi Allah, akulah wanita nan dimaksud di tempat air Haw’ab itu.” Maka mereka pun berakhir dan tinggal di sekitarnya selama sehari semalam.” (Ibnul Atsir, al-Kamil fit Tarikh, Juz 2, (Damaskus: Darul Kitab al-Arabi, 1997), hlm. 569).

Setibanya di Bashrah, ketegangan sigap meningkat. Dialog sempat terjadi antara kubu Aisyah, Talhah, dan Zubair dengan pihak nan mewakili pemerintahan Ali. Mereka sama-sama berbincang tentang keadilan dan kemaslahatan umat. Namun, realitas di lapangan jauh lebih rumit. 


Di Bashrah terdapat kelompok-kelompok nan saling mencurigai, termasuk unsur-unsur nan diduga terlibat dalam pembunuhan Utsman. Akibatnya, kota itu berubah menjadi arena perebutan legitimasi.

Bentrokan mini pun mulai pecah. Ketegangan politik berkembang menjadi bentrok sosial ketika massa ikut terlibat. Pidato-pidato, pengerahan pasukan, dan perebutan kendali atas ruang publik membikin masyarakat Bashrah terbelah.

Sebagian mendukung kubu Aisyah, sebagian tetap setia kepada pemerintahan Ali. Perbedaan ijtihad para elite ini berubah menjadi polarisasi umat. Konflik nan semula terjadi di lingkungan tokoh-tokoh besar semakin runyam lantaran melibatkan publik lebih luas.

Di sisi lain, Ali sendiri sebenarnya berupaya menghindari perang. Saat bergerak dari Madinah menuju Irak, dia berulang kali menegaskan bahwa tujuannya adalah ishlah (rekonsiliasi). Di Kufah pun muncul perbedaan sikap. Sebagian mendukung Ali, sebagian memilih netral, dan sebagian lain menilai bahwa tuduhan sebaiknya dihindari dengan tidak ikut bertempur. 


Berikut adalah quote seruan Ali nan mengindikasikan bahwa dia berupaya menghindari terjadinya perang:


وَقَالَ لَهُمْ: سَأَصْبِرُ مَا لَمْ أَخَفْ عَلَى جَمَاعَتِكُمْ، وَأَكُفُّ إِنْ كَفُّوا، وَأَقْتَصِرُ عَلَى مَا بَلَغَنِي.

Artinya, “Dan dia (Ali) berbicara kepada mereka: Aku bakal bersabar selama saya belum mengkhawatirkan keselamatan kesatuan kalian. Aku juga bakal menahan diri jika mereka menahan diri, dan saya bakal membatasi tindakan hanya pada apa nan sampai kepadaku.” (Ibnul Atsir, al-Kamil fit Tarikh, hlm. 569).

Salah satu perihal paling tragis dalam kisah Perang Jamal adalah realita bahwa perdamaian sebenarnya nyaris tercapai. Ketika utusan Ali, ialah al-Qa’qa’ bin ‘Amr, berjumpa dengan Aisyah, Talhah, dan Zubair, terbuka kesempatan besar untuk islah. 


Semua pihak sepakat bahwa persoalan pembunuhan Utsman kudu diselesaikan dengan hati-hati. Hanya saja, pihak nan paling takut pada perdamaian adalah golongan pembunuh Utsman dan para pendukungnya, karena rekonsiliasi berfaedah ancaman langsung bagi posisi mereka.

Ibnu Khaldun dalam kitab Tarikh Ibn Khaldun cukup jelas menyebut adanya upaya sabotase tersebut, dengan mengutip provokasi Ibnu Sauda kepada para pelaku pembunuh Utsman. Berikut quote ucapan Ibnu Sauda tersebut:

ثم تكلم ابن السوداء فقال: يا قوم إن عزّكم في خلطة الناس فصانعوهم وإذا التقى الناس غدا فانشبوا القتال فلا يجدون بدّا منه ويشغلهم الله عما تكرهون، وافترقوا على ذلك.

Artinya, “Ibnu Sauda berseru: ‘Kekuatan kalian terletak pada keberadaan kalian di tengah orang banyak. Karena itu, berbaurlah dengan mereka. Apabila besok orang-orang telah saling berhadapan, maka nyalakanlah pertempuran, sehingga mereka tidak mempunyai pilihan selain terlibat di dalamnya.” (Ibnu Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun, Juz 2, (Beirut: Darul Fikr, 1981), hlm. 616).

Sebab itu, mereka disebut memicu serangan mendadak pada malam hari agar kedua kubu saling menuduh berkhianat. Perang besar pun pecah. Dengan kata lain, Perang Jamal bukan hanya lahir dari niat awal para pemimpin Islam untuk saling menghancurkan, tetapi juga lantaran sabotase politik. Ketika kepercayaan sudah rusak dan senjata sudah terhunus, satu provokasi mini saja cukup untuk menyalakan perang besar nan susah dihentikan.

Perang itu berhujung dengan sangat tragis. Talhah wafat, Zubair mundur tetapi kemudian terbunuh di luar medan utama, dan ribuan Muslim tewas dari kedua pihak. Aisyah berada di atas unta dalam haudaj nan menjadi pusat konsentrasi pasukan.

Setelah pertempuran selesai, Ali melarang penjarahan, pengejaran terhadap nan lari, dan pembunuhan terhadap nan terluka. Ia juga memperlakukan Aisyah dengan hormat dan mengantarkannya kembali dengan pengawalan nan layak.

Walhasil, Perang Jamal meninggalkan pelajaran sejarah nan sangat mahal. Umat Islam dapat terpecah lantaran tumbukan prioritas politik, kegagalan mengelola krisis, penyelundupan kepentingan, dan rusaknya kepercayaan antarkelompok.

Dari tragedi inilah lahir polarisasi politik nan kelak membentuk sejarah Islam berikutnya. Tragedi ini memberi ibrah sungguh mahalnya nilai nan kudu dibayar ketika bentrok umat kandas dikelola dengan hikmah dan ketegasan. Wallahu a’lam.


---------- 
Muhamad Abror, pengajar filologi dan sejarah Islam Ma'had Aly Sa'iidusshiddiqiyah Jakarta.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE