Obat Hati Ketika Dicela

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Dicela merupakan perihal nan menyakitkan, terutama jika kita dicela bukan lantaran keburukan kita, bukan pula lantaran kita melakukan kesalahan. Terkadang kita dicela sekedar lantaran kebencian orang lain, dituduh melakukan perihal nan tidak kita lakukan, apalagi terkadang kita dicela ketika berupaya melakukan kebaikan. Hal tersebut memang sangat menyakiti hati kita. Lalu, adakah obat hati ketika dicela?

Ketika hati kita merasa sakit tatkala dicela, rupanya ada orang nan mengalami hinaan nan luar biasa dari para pembencinya. Siapakah dia? Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau mendakwahkan Islam di Makkah, banyak orang Quraisy nan menentang dan melakukan jahat kepada Rasulullah. Di antara mereka terus-menerus menyakiti Rasulullah dengan mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut tentunya menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlebih lagi nan mau beliau harapkan dalam berceramah tentunya kebaikan bagi nan didakwahi. Ketika celaan-celaan dari kaum Quraisy tersebut sangat menyakiti hati Rasulullah, rupanya Allah menurunkan ayat nan menghibur Rasulullah nan menjadi obat hati ketika dicela.

Allah berfirman dalam surah Al-Hijir ayat 97,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ  وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ

“Kami sungguh sangat mengetahui bahwa dadamu terasa sesak lantaran apa nan mereka ucapkan. Maka, bertasbihlah sembari memuji Tuhanmu dan jadilah bagian dari orang-orang nan bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepercayaan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 97-99)

Ketika Hati Rasulullah tersakiti akibat hinaan kaum Quraisy, Allah turunkan ayat tersebut sebagai intermezo dan memberikan solusi untuk dada Rasulullah nan terasa sesak. Apa itu? Bukan membalas celaan, bukan juga kabur dari ujian, tapi bertasbih memuji Allah dan bersujud (salat). Dua perihal tersebut lah obat hati ketika dicela nan Allah resepkan kepada Rasulullah.

Celaan terhadap Rasulullah

Sudah menjadi bagian dari ketetapan Allah bahwa para Nabi dan orang-orang saleh merupakan orang-orang nan paling berat ujiannya. Oleh lantaran itu, Rasulullah mengalami banyak ujian, di antaranya celaan-celaan nan dilontarkan oleh kaum Quraisy terhadap Rasulullah.

Di antara hinaan kaum Quraisy terhadap Rasulullah adalah:

Dijuluki mudzammam (yang tercela)

Di antara hinaan kaum Quraisy adalah menjuluki Rasulullah sebagai mudzammam, nan artinya adalah orang nan tercela. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah sabda nan diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ألَا تَعْجَبُونَ كيفَ يَصْرِفُ اللَّهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ ولَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا ويَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا، وأنا مُحَمَّدٌ

“Tidakkah kalian merasa heran, gimana Allah memalingkan dariku celaan dan laknat kaum Quraisy? Mereka mencaci ‘mudhammam’ (orang nan tercela) dan melaknat ‘mudhammam’, padahal saya adalah Muhammad (orang nan terpuji).” (HR. Bukhari)

Dituduh sebagai penyair, penyihir, dan orang gila

Di antara hinaan kaum Quraisy adalah menuduh Rasulullah sebagai penyair, penyihir, dan orang gila. Hal tersebut sebagaimana tuduhan-tuduhan para penentang Rasul sebelumnya; mereka menjuluki para Rasul dan Nabi sebelumnya juga dengan julukan demikian untuk merendahkan dan menolak dakwah Islam. Allah Ta’ala berfirman,

كَذٰلِكَ مَآ اَتَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا قَالُوْا سَاحِرٌ اَوْ مَجْنُوْنٌ

“Demikianlah setiap kali ada seorang Rasul nan datang kepada orang-orang sebelumnya, mereka pasti mengatakan, “Dia itu adalah penyihir alias orang gila.” (QS. Adz-Dzariyat: 52)

Dua obat hati ketika dicela

Di antara langkah mengobati hati kita nan tersakiti ketika dicela adalah sebagaimana nan disebutkan dalam surah Al-Hijr ayat 97-99, ialah bertasbih (berzikir) dan bersujud (salat). Lalu, kenapa kedua perihal tersebut bisa mengobati hati nan sakit ketika dicela?

Bertasbih dan bertahmid (berzikir)

Obat hati ketika dicela nan pertama adalah bertasbih dan bertahmid. Dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Adh-Dhahak menyatakan bahwa maksud dari firman Allah, يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ  adalah mengucapkan, سبحان الله وبحمده (‘SUBHANALLAHU WABIHAMDIH’).

Mengapa berzikir bisa mengobati hati ketika dicela? Dalam menafsirkan ayat ke-98 dari surah Al-Hijr, At-Thabari menyampaikan bahwa perihal tersebut lantaran ketika kita menghadapi perkara nan kita tidak suka dari orang-orang nan mencela kita, segeralah mengadu kepada Allah dengan memuji-Nya, dan mendirikan salat; niscaya Allah bakal mencukupkan bagimu apa nan menyusahkanmu dari perihal tersebut.

Ingat, zikir juga merupakan salah satu kunci tentramnya hati sebagaimana firman Allah Ta’ala,

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang nan beragama dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Zikir juga merupakan ibadah nan Allah dan Rasul-Nya ajarkan ketika kesusahan dan musibah melanda. Oleh lantaran itu, salah satu langkah untuk mengobati hati ketika dicela adalah dengan berzikir dengan menyucikan nama Allah dan memuji-Nya. Ketika kita mengetahui kebesaran dan kuasa-Nya, niscaya masalah kita bakal menjadi kecil.

Salat

Obat hati ketika dicela nan selanjutnya adalah salat. Ketika membahas firman Allah Ta’ala, فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ, para ustadz tafsir menyebut bahwa nan dimaksud dari ayat tersebut adalah mendirikan salat. Adapun bertasbih dan memuji Allah adalah permulaan untuk melaksanakan salat dan salat adalah puncak dari kebaikan kita untuk menyucikan dan memuji Allah.

Salat merupakan ibadah nan posisi seorang hamba paling dekat dengan Allah Ta’ala. Salat merupakan kondisi nan paling utama untuk kita mengadu kepada Allah Ta’ala. Dengan salat juga, Allah bakal cukupkan urusan kita di hari tersebut, Allah Ta’ala berfirman dalam sebuah sabda qudsi,

يقولُ اللَّهُ عزَّ وجلَّ يا ابنَ آدمَ لاَ تعجزني من أربعِ رَكعاتٍ في أوَّلِ نَهارِكَ أَكفِكَ آخرَهُ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah (enggan) untuk beragama kepada-Ku dengan empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku bakal mencukupimu di akhir harimu itu.'” (HR. Abu Dawud)

Salat juga merupakan kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau mengalami perkara nan menyedihkan. Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, dia berkata,

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ علَيهِ وسلَّمَ إذا حزَبه أمرٌ صلَّى

“Dahulu, andaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertimpa suatu perkara nan menyedihkan (berat), beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud)

Penutup

Itulah dua obat hati ketika dicela nan bisa kita amalkan nan Allah ajarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada surah Al-Hijr ayat ke-97-99; ialah bertasbih dan bertahmid, lampau mengerjakan salat.

Mari kita contoh apa nan dilakukan oleh Rasulullah, agar hati kita bisa lebih lapang ketika dicela, juga bisa jadi arena untuk introspesksi dan perbaikan diri. Karena kita bukan Rasul nan ketika melakukan kesalahan, Allah langsung mengingatkan. Bisa jadi argumen kita dicela adalah kejelekan pribadi kita, tapi kita tidak pernah menyadari

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info