Kisah Ibnu Shayyad (Bag. 2): Apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal?

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Sosok Abdullah bin Shayyad sejak kemunculannya terus menjadi misteri. Kematiannya pun menjadi polemik. Ada nan mengatakan dia meninggal saat peristiwa Harrah; ada nan mengatakan dia meninggal di Madinah dan disaksikan kaum muslimin; sementara nan lain mengatakan dia tidak mati, tetapi menghilang entah kemana.

Dalam pembahasan sebelumnya tentang keadaan Ibnu Shayyad dan ujian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapnya, terlihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menunda dalam menetapkan status Ibnu Sayyad lantaran beliau tidak diberi wahyu apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal alias bukan.

Namun, Umar رضي الله عنه berjanji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menegur alias menyangkal sumpahnya itu. Beberapa sahabat lain juga sependapat dengan Umar dan berjanji bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal, seperti nan diriwayatkan dari Jabir, Ibnu Umar, dan Abu Dzar.

Dalam sabda nan diriwayatkan oleh Muhammad bin Al-Munkadir disebutkan,

رأيتُ جابر بن عبد الله يحلف بالله إن ابن صياد هو الدَّجّال. قلتُ: تحلف بالله؟! قال: إنِّي سمعتُ عمر يحلف على ذلك عند النّبيّ صلى الله عليه وسلم، فلم ينكره النّبيّ صلى الله عليه وسلم

“Aku memandang Jabir bin Abdullah berjanji dengan Allah bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal. Aku bertanya, ‘Kamu berjanji dengan Allah?’ Ia menjawab, ‘Aku mendengar Umar berjanji di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Nabi tidak menegurnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nafi’ meriwayatkan,

كان ابن عمر يقول: والله ما أشكُّ أن المسيح الدَّجّال ابن صياد

“Ibnu Umar berkata, ‘Demi Allah, saya tidak meragukan bahwa Al-Masih ad-Dajjal adalah Ibnu Sayyad.’” (HR. Abu Daud)

Zaid bin Wahb meriwayatkan bahwa Abu Dzar رضي الله عنه berkata,

لأنَّ أحلف عشر مرات أن ابن صائد هو الدَّجّال أحبُّ إليَّ من أن أحلف مرّة واحدة أنّه ليس به

“Lebih saya sukai berjanji sepuluh kali bahwa Ibnu Shayyad adalah Dajjal daripada sekali berjanji bahwa dia bukan Dajjal.” (HR. Ahmad)

Nafi’ juga meriwayatkan bahwa Ibnu Umar pernah berjumpa Ibnu Shayyad di salah satu jalan di Madinah dan mengatakan sebuah perkataan kepadanya. Ibnu Shayyad sangat marah atas perkataan Ibnu Umar hingga membikin keributan di jalan. Kemudian Ibnu Umar masuk menemui Hafsah dan memberitahukan kejadian itu. Hafsah berkata,

“Semoga Allah merahmatimu! Apa nan engkau inginkan dari Ibnu Shaid?! Apakah engkau tidak mengetahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Sesungguhnya dia hanya keluar lantaran kemarahan nan dibencinya?!’” (HR. Muslim)

Dalam sebuah riwayat dari Nafi’, dia berbicara bahwa Ibnu Umar رضي الله عنه berkata,

“Aku telah menemuinya sebanyak dua kali. (Pada pertemuan pertama) saya menemuinya, lampau saya berbicara kepada sebagian mereka (sahabat Ibnu Shayyad), “Apakah kalian mengatakan bahwa dia Dajjal?” Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah.” Nafi berkata, Ibnu Umar mengatakan, “Engkau telah mendusta kepadaku, demi Allah. Sebagian dari kalian telah mengabarkan kepadaku sesungguhnya dia tidak bakal meninggal hingga dia menjadi orang nan paling banyak kekayaan dan anaknya di antara kalian, demikianlah dugaan tentangnya sampai hari ini.”

Dia berkata, “Kami pun berbincang-bincang, kemudian meninggalkannya.” Dia berkata, “Aku berjumpa dengannya pada kesempatan nan lain sementara matanya telah membengkak.” Aku bertanya, “Sejak kapan matamu seperti nan saya lihat sekarang ini?” Dia menjawab, “Tidak tahu.” Aku menyanggah, “Engkau tidak tahu sementara dia berada di kepalamu sendiri?” Dia berkata, “Jika Allah menghendaki, niscaya Dia bakal menjadikan perihal ini pada tongkatmu ini.” Beliau berkata, “Lalu dia mendengus seperti dengusan keledai nan paling keras nan pernah saya dengar.” Beliau berkata, “Lalu sebagian sahabatnya mengira bahwa saya telah memukulnya dengan tongkatku hingga matanya cidera. Demi Allah, padahal saya sama sekali tidak merasakan (berbuat seperti itu).”

Dia (Nafi) berkata, “Dan dia datang kepada Ummul Mukminin (Hafshah), lampau menceritakannya, beliau bertanya, ‘Apa nan engkau inginkan darinya?! Tidakkah engkau tahu bahwasanya beliau (Nabi) pernah bersabda,

ما تُريد إليه؟! ألم تعلم أنّه قد قال: “إن أول ما يبعثه على النَّاس غضبٌ يغضبه

‘Sesungguhnya penyebab awal nan mendorongnya keluar kepada manusia adalah kemarahan nan menyebabkan dia marah.’” (HR. Muslim)

Ibnu Sayyad sering mendengar apa nan orang katakan tentangnya dan merasa tersinggung. Ia memihak diri dengan mengatakan bahwa dia bukan Dajjal, dan membuktikan perihal itu dengan menyatakan bahwa ciri-ciri Dajjal nan disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ada padanya.

Dalam sabda dari Abu Sa’id al-Khudri رضي الله عنه disebutkan,

“Kami pernah keluar untuk melakukan haji alias umrah dan Ibnu Shaid ikut berbareng kami, kemudian kami singgah. Selanjutnya, orang-orang berpisah sementara saya bersamanya. Aku merasa sangat takut lantaran apa nan dikatakan manusia tentangnya.” Abu Sa’id berkata, “Dia datang dengan perbekalannya, lampau dia meletakkannya berbareng perbekalanku.” Aku berbicara kepadanya, “Udara sangat panas, sebaiknya engkau meletakkannya di bawah pohon itu,” Abu Sa’id berkata, “Akhirnya dia melakukannya.”

Kemudian kami diberikan satu ekor kambing, lampau dia pergi dan kembali dengan membawa satu wadah besar. Dia berkata, “Minumlah, wahai Abu Sa’id!” Aku berkata, “Sesungguhnya udara sekarang ini panas sekali, dan susu itu juga panas,” sebenarnya tidak ada masalah bagiku, hanya saja saya tidak mau meminum sesuatu nan berasal dari tangannya, (atau dia berkata) mengambil dari tangannya.”

Lalu dia berkata, “Wahai Abu Sa’id, sebelumnya saya hendak mengambil tali, lampau menggantungkannya di pohon, kemudian saya ikat leherku lantaran (merasa sakit hati) terhadap segala perihal nan dikatakan oleh manusia. Wahai Abu Sa’id, siapakah nan tidak mengetahui sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada sesuatu nan tersembunyi dari kalian, wahai orang-orang Anshar. Bukankah engkau orang nan paling mengetahui sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Dia (Dajjal) adalah orang kafir,’ sementara saya adalah seorang muslim? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berfirman bahwa dia (Dajjal) adalah orang nan tidak mempunyai anak, sementara saya telah meninggalkan anak-anakku di Madinah? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berfirman bahwa dia (Dajjal) tidak bakal pernah memasuki Madinah dan Makkah, sementara saya datang dari Madinah menuju Makkah?”

Abu Sa’id al-Khudri berkata, “Hampir saja saya menerima alasannya,” kemudian dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya saya mengenalnya dan mengetahui tempat kelahirannya, dan di mana dia sekarang.” Abu Sa’id berkata, “Aku berbicara kepadanya, ‘Celakalah engkau pada hari-harimu.’” (HR. Muslim)

Ibnu Sayyad berbicara dalam riwayat lain, “Demi Allah, sesungguhnya saya mengetahui di mana dia (Dajjal) sekarang, dan mengenal bapak juga ibunya.” (Perawi berkata) dikatakan kepadanya, “Apakah engkau senang jika engkau adalah dia?” Dia menjawab, “Jika ditawarkan kepadaku, maka saya tidak bakal membencinya.” (HR. Muslim)

Para ustadz merasa bingung dan rancu dengan hal-hal nan berangkaian dengan Ibnu Sayyad, sehingga urusannya menjadi susah dipahami. Sebagian orang beranggapan bahwa dia adalah Dajjal. Mereka mendasarkan pendapatnya pada kebenaran bahwa beberapa sahabat رضي الله عنهم berjanji bahwa Ibnu Sayyad adalah Dajjal, serta berasas hubungan dan kejadian nan menimpa Ibnu Sayyad berbareng Ibnu Umar dan Abu Sa’id رضي الله عنهم.

Namun, sebagian ustadz lainnya beranggapan bahwa Ibnu Sayyad bukanlah Dajjal. Mereka beralasan dengan merujuk pada sabda Tamim ad-Dariy رضي الله عنه.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info