ARTICLE AD BOX
Setelah melewati Idul Fitri, krusial bagi umat Islam untuk mengevaluasi serta muhasabah dalam aspek kondisi keuangan. Banyak pengeluaran biaya besar saat hari raya, apalagi tidak sedikit terjebak dalam pemborosan. Maka, perlu dievaluasi serta langkah strategis selanjutnya untuk menstabilkan kondisi finansial sesuai prinsip Islam.
Naskah khutbah Jumat kali ini berjudul “Evaluasi Keuangan Setelah Hari Raya“ Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas alias bawah tulisan ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat.
Khutbah I
أَلْحَمْدُ لِلَّهِ، أَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَفْضَلَنَا بِالصَّلَاةِ وَيَأْمُرُنَا بِالْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالطَّاعَةِ، وَالَّذِيْ نَسْتَهْدِيْ فِيْ كُلِّ اْلأُمُوْرِ وَالْمَظْلَمَةِ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الْمِيْعَادِ.
اَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ .قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
Jamaah shalat Jumat nan dirahmati Allah
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan istiqamah menunaikan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya secara teguh. Ketakwaan bukan sekadar ibadah-ibadah ritual semata, melainkan juga terpancar nyata dalam pengelolaan kehidupan sehari-hari, termasuk gimana kita mengelola kekayaan nan Allah titipkan kepada kita.
Setelah melewati hari raya Idul Fitri, inilah momentum tepat untuk muhasabah, bukan hanya soal ibadah semata, melainkan juga pengelolaan keuangan. banyak dari kita nan menggelontorkan biaya besar saat hari raya. untuk mudik, berwisata, kebutuhan busana dan makanan, serta beragam keperluan lainnya. hingga sebagian nekat berutang untuk memenuhi beragam keperluan dan keinginan.
Hal ini nan kudu dikendalikan setelah periode lebaran berakhir, dengan bermuhasabah dan pertimbangan finansial baik itu pribadi maupun keluarga. Pada dasarnya kekayaan nan kita miliki adalah amanah nan kudu dipertanggungjawabkan secara hukum Islam.
Dalam konteks pengelolaan keuangan, Allah Swt telah mengingatkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 67 ;
وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
Artinya : “Dan, orang-orang nan andaikan membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara nan demikian.”
Ayat ini mengingatkan serta sebagai tanda pertimbangan finansial kita, bahwa Allah memberi petunjuk dalam mengelola finansial agar seimbang dengan tidak boros, tidak kikir dan kudu dikelola secara bijak serta sesuai syariat.
Imam At-Thabari menjelaskan ayat ini dalam Kitab Tafsir Jami’ul Bayan fi Tafsiril Qur’an, Jilid XVII laman 501, bahwa ‘berlebih-lebihan’ dalam shopping nan dimaksud Allah dalam konteks ayat ini adalah shopping nan tidak melampaui batas, nan diperbolehkan Allah bagi hamba-hamba-Nya, lampau kikir nan dimaksud adalah mengurangi apa nan Allah perintahkan serta mengeluarkan nafkah secara setara dan baik.
Jamaah shalat Jumat nan dirahmati Allah
Melakukan pertimbangan finansial setelah hari raya adalah bagian esensial dari muhasabah nan sangat dianjurkan dalam aliran Islam. Muhasabah tidak terbatas pada ibadah ritual semata, melainkan meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk pengelolaan kekayaan benda. Jika dianalogikan dalam sebuah perdagangan, seorang pedagang bakal menghitung modal, keuntungan, dan kerugian secara teliti di akhir tahun, bulan, alias apalagi setiap hari.
Seperti nan disampaikan oleh Imam Ghazali dalam Kitab Ma'idzatul Mu'minin karya Jamaludin Al-Qasimi laman 308;
إِذَا عَلِمْتَ هَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ لِلْمَرْءِ فِي آخِرِ النَّهَارِ سَاعَةٌ يُطَالِبُ فِيهَا النَّفْسَ وَيُحَاسِبُهَا عَلَى جَمِيعِ حَرَكَاتِهَا وَسَكَنَاتِهَا كَمَا يَفْعَلُ التُّجَّارُ فِي الدُّنْيَا مَعَ الشُّرَكَاءِ فِي آخِرِ كُلِّ سَنَةٍ أَوْ شَهْرٍ أَوْ يَوْمٍ حِرْصًا مِنْهُمْ عَلَى الدُّنْيَا، وَكَيْفَ لَا يُحَاسِبُ الْعَاقِلُ نَفْسَهُ فِيمَا يَتَعَلَّقُ بِهِ خَطَرُ الشَّقَاوَةِ وَالسَّعَادَةِ أَبَدَ الْآبَادِ؟
Artinya: “Jika Anda sudah memahami perihal ini, sebaiknya setiap orang meluangkan waktu di akhir hari untuk mengevaluasi diri, menilai apa nan telah dilakukan dan apa nan tidak dilakukan sepanjang hari. Sama seperti pedagang nan menghitung untung-rugi berbareng rekan upaya mereka di akhir tahun, bulan, alias apalagi setiap hari demi menjaga untung duniawi. Lalu, gimana mungkin seseorang nan bijak tidak mengevaluasi dirinya dalam hal-hal nan menentukan kebahagiaan alias kesengsaraan nan abadi?.”
Berdasarkan penjelasan Imam Ghazali, kita bisa mengetahui posisi finansial dengan jelas, seseorang setidaknya teliti dalam menghitung apa nan sudah mereka keluarkan dan dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk memperbaiki kekurangan di hari raya ini. Karena dari evaluasi, kita senantiasa bisa bertanggungjawab atas hidayah nan Allah diberikan.
Maka perlu beberapa langkah pertimbangan finansial di hari raya berasas prinsip Islam sebagai berikut :
Pertama, mencatat pengelolaan keuangan.
Salah satu langkah antisipasi nan diajarkan kepercayaan adalah mencatat setiap pengelolaan kekayaan dan transaksi, terutama saat hari raya. Dalam Tafsir At-Tabari (hlm. 48), Imam Ibnu Jarir At-Tabari meriwayatkan dari sahabat Ibnu Juraih dalam penjelasan surat Al-Baqarah ayat 282:
عَنْ ابْنِ جَرِيْج قَوْلُهُ (يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوْهُ) قَالَ : فَمَنْ اَدَانَ دَيِّناَ فَلْيَكْتَبَ , وَمَنْ بَاعَ فَلْيَشْهَدُ
Artinya: “Dari Ibnu Juraih, Firman Allah: “Wahai orang-orang nan beriman, ketika kalian saling berhutang sampai pemisah suatu tempo tertentu, maka catatlah”. Maksud dari ayat ini adalah barangsiapa nan menghutangkan suatu aset (kepada orang lain), maka sebaiknya dia mencatat, dan barangsiapa melakukan jual beli, maka sebaiknya mengambil saksi.”
Kedua, memastikan ada simpanan finansial alias tabungan.
Demi keberlangsungan perputaran ekonomi dalam family setelah hari raya, adanya tabungan merupakan langkah mendasar untuk menjaga kestabilan finansial keluarga. Uang nan disisihkan bukan hanya sebagai persediaan saat darurat, tetapi juga pelindung dari musibah tak terduga. Dalam pandangan Islam, menabung bukan sekadar budaya biasa, melainkan bentuk tanggung jawab syar'i atas rezeki Allah Swt.
Seperti Sabda Nabi Muhammad Saw dalam sabda nan diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahihul Bukhari, juz 4, laman 7 :
أَمْسِكْ عَلَيْكَ بَعْضَ مَالِكَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ
Artinya, “Simpanlah sebahagian daripada hartamu untuk kebaikan masa depan kamu, lantaran itu jauh lebih baik bagimu.”
Ketiga, belanja atau pengeluaran sesuai kebutuhan.
Salah satu kekeliruan nan sering terjadi menjelang Idul Fitri adalah tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal dalam aliran Islam, kita diperintahkan untuk mengutamakan hal-hal nan wajib dan lebih utama. Maka, pengeluaran finansial dimulai dari memahami kebutuhan prioritas dalam keluarga, baik itu berkarakter pokok (ḍarūriyyāt), pelengkap (ḥājiyyāt) maupun kebutuhan tersier (taḥsīniyyāt).
Dalam perihal tersebut, Nabi Muhammad Saw memberi contoh agar segala kebutuhan nan berasosiasi dengan nafkah family itu sebaiknya dikeluarkan sesuai prioritasnya, paling utama untuk mencukupi diri sendiri jangan sampai meminta- minta. Setelah itu baru ke keluarga, kerabat dan lain sebagainya.
Nabi Muhammad Saw berfirman :
ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا
Artinya : “Mulailah dengan dirimu, maka sedekahlah untuk dirimu! Jika ada kelebihan dari kebutuhan dirimu, maka untuk keluargamu. Dan jika ada kelebihan dari kebutuhan keluargamu, maka untuk kerabatmu. Jika ada kelebihan dari kebutuhan kerabatmu, maka untuk nan lainnya dan untuk nan lainnya seterusnya.” (HR. Muslim)
Keempat, hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam pengeluaran.
Kebanyakan kita selalu melewati pemisah serta berlebihan dalam membelanjakan kebutuhan di hari raya, jangan sampai kita hidup untuk memamerkan style hidup mewah, kekayaan, untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan. Perlu adanya kesederhanaan dalam membelanjakan harta, tidak berlebih-lebihan nan tidak sesuai kebutuhan melainkan hanya kemauan nafsu sesaat.
Imam Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin Jilid II, laman 47 sebagai berikut:
السَّادِسُ الِاعْتِدَالُ فِي النَّفَقَةِ فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَتِّرَ عَلَيْهِنَّ فِي الْإِنْفَاقِ وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُسْرِفَ بَلْ يَقْتَصِدَ
Artinya: “Adab keenam ialah kesederhanaan dalam membelanjakan harta. Janganlah para suami mempersempit shopping nan dibutuhkan oleh kaum wanita (para istri), bakal tetapi juga jangan terlalu melebih-lebihkan. Berikanlah kepada para istri shopping untuk memenuhi kebutuhan nan sewajarnya.”
Jamaah Shalat Jumat nan dirahmati Allah
Demikian khutbah Jumat ini disampaikan, Semoga kita semua tetap dibimbing Allah Swt untuk senantiasa bisa amanah dalam pengelolaan keuangan, menjauhkan kita dari sikap royal dan berlebih-lebihan, serta menganugrahkan keberkahan dalam setiap rezeki nan kita miliki, sehingga Idul Fitri menjadikan hati nan bersih, tenang, dan penuh ketakwaan. Amin ya rabbal ’alamin
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الإِسْلاَمَ دِيْنًا قَيْمًا ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ الْرَحْمَانُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ الْهَادِي اِلَي دَارِ الْخَلْدِ وَالْجِنَانِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَولَانَا مُحَمَّدٍ خَيْرَ الْأِنْسَانِ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ الْكَرَامِ أُصِيكُمْ وَاِيّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاعْلَمُوْا أَنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَي،قَالَ اللهُ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِىِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُم بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْاهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
------
Muhammad Syaf'ul Iktafi, Alumni Pondok Pesantren Tarbiyatul Islam Al-Falah Salatiga
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·