Ketua PBNU Dorong Tokoh Agama Tenangkan Masyarakat di Tengah Krisis Energi

Sedang Trending 3 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil) mendorong tokoh agama untuk hadir menenangkan masyarakat di tengah krisis energi.


Ia menilai situasi publik saat ini penuh emosi akibat kesulitan ekonomi dan bentrok global. Tokoh kepercayaan perlu berkedudukan meredam kepanikan agar tidak menimbulkan pengaruh domino nan panjang.


“Tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh kepercayaan juga punya peran krusial untuk ngedem-ngedemi alias mendinginkan suasana. Karena kita tahu situasi publik sekarang ini memang emosional sekali,” Ujar Gus Ulil, saat ditemui NU Online usai obrolan Ngopi Kerukunan di Gedung PGI, Jakarta, Rabu (1/4/2026).


Lebih lanjut, dia menyerukan agar negara-negara Muslim berasosiasi dan menolak segala corak serangan maupun intervensi antarnegara Islam.


“Apa pun alasannya, serangan dari satu negara Muslim ke negara Muslim lain tidak bisa diterima. Jalan tenteram dan diplomasi kudu dikedepankan,” tambahnya.


Gus Ulil menyoroti tindakan sepihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran nan dinilainya ugal-ugalan dan melanggar norma internasional. Menurutnya, perihal ini menambah emosi publik nan sudah sensitif.


“Situasi emosional ini perlu didinginkan, lantaran jika tidak, bisa membakar banyak hal,” tegasnya.


Di sisi lain, Gus Ulil mengapresiasi langkah pemerintah nan tidak meningkatkan nilai minyak pada 1 April. Menurutnya, kebijakan tersebut membantu meredam kepanikan publik di tengah tekanan fiskal akibat lonjakan nilai minyak dunia.


“Itu perlu kita apresiasi lantaran sekurang-kurangnya kebijakan itu tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat,” jelasnya.


Sebagai corak nyata, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) telah melakukan kunjungan diplomasi dengan Duta Besar Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat di Jakarta.


"Langkah ini sebagai upaya NU untuk mendorong perdamaian dan penghormatan terhadap tatanan internasional," kata Gus Ulil.


Konflik dipicu faktor ekonomi

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI, Bunyan Saptomo, menambahkan bahwa bumi saat ini berada dalam kondisi disorder dengan melemahnya lembaga dan norma internasional. Ia menilai bentrok dunia lebih banyak dipicu oleh aspek ekonomi, terutama perebutan sumber daya migas.


“Amerika menjadi satu-satunya negara super power dengan julukan American order, mempunyai 800 pangkalan militer di seluruh dunia. Ambisi menguasai minyak dari Venezuela hingga Iran berakibat besar terhadap ekonomi global,” ujarnya.


Ia menambahkan, perang nan terjadi sangat merugikan dari sisi ekonomi, politik, maupun sosial.


"Kekuatan militer, ekonomi, termasuk petrodollar dan perdagangan, menjadi aspek utama dalam bentrok Iran dan Amerika," katanya.


Kontributor: Ahmad Syafiq S

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE