ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Warga di sejumlah wilayah pesisir Kota Bitung, Sulawesi Utara, tetap memperkuat di posko pengungsian usai gempa berkekuatan sekitar 7,6 magnitudo nan sempat memicu peringatan tsunami, Kamis (2/4/2026).
Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Bitung Aliyandi Langelo mengatakan bahwa sebagian masyarakat di kelurahan pesisir seperti Candi, Kecamatan Maesa, memilih mengungsi ke wilayah nan lebih tinggi. Selain itu, ada pula penduduk nan tinggal sementara di rumah kerabat di area dataran tinggi demi keamanan.
"Untuk saat ini, penduduk di pesisir tetap ada nan memperkuat di posko-posko pengungsian. Ada juga nan mengungsi ke rumah kerabat di wilayah nan lebih tinggi,” ujarnya saat dihubungi NU Online.
Ali menjelaskan, sesaat setelah gempa terjadi, air laut di sejumlah titik pesisir sempat mengalami kenaikan. Namun, ketinggiannya relatif rendah dan tidak menimbulkan akibat besar.
"Sekitar lima menit setelah gempa, air laut sempat naik di pesisir, tapi hanya sampai mata kaki dan tidak jauh masuk ke daratan. Setelah itu langsung surut,” katanya.
Meski demikian, kondisi tersebut sempat memicu kepanikan penduduk nan tinggal di area dekat pantai. Apalagi, sebagian wilayah Bitung berhadapan langsung dengan laut lepas, sehingga meningkatkan kekhawatiran bakal potensi tsunami.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mencabut peringatan awal tsunami sekitar pukul 15.00 WITA. Meski status sudah dinyatakan aman, sebagian penduduk tetap memilih memperkuat di letak pengungsian lantaran cemas bakal gempa susulan.
"Memang sudah dicabut peringatan tsunami, kondisi mulai kondusif. Tapi tetap ada penduduk nan memperkuat di pengungsian lantaran takut gempa susulan,” ungkap Ali.
Ali menceritakan setelah kejadian gempa utama, terjadi beberapa kali gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil. Namun, intensitasnya tidak sebesar gempa pertama.
Hingga saat ini, situasi di Kota Bitung berangsur kondusif, meski kewaspadaan penduduk tetap tinggi, terutama bagi mereka nan tinggal di wilayah pesisir.
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bitung Narto Pakaya mengatakan guncangan gempa bumi nan terjadi di wilayah Kota Bitung terasa sangat kuat dengan lama sekitar 10 hingga 20 detik. Kondisi tersebut sempat memicu kepanikan penduduk nan berceceran keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
"Warga diminta menjauhi area pantai dan muara sungai, serta segera melakukan pemindahan ke tempat nan lebih tinggi andaikan merasakan gempa kuat alias menerima peringatan resmi dari pihak berwenang," jelasnya.
Sebelumnya, Wali Kota Bitung Hengky Honandar mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat, khususnya nan berada di wilayah pesisir, untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
"Masyarakat diharapkan tidak panik. Tetap tenang agar dapat berpikir jernih, lantaran kepanikan dapat menyebabkan cedera maupun pengambilan keputusan nan salah,” imbaunya.
Pemerintah juga mengingatkan agar penduduk selalu mengikuti info resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta lembaga mengenai lainnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ada 93 aktivitas gempa bumi susulan di Sulawesi Utara pagi ini, Kamis (2/4/2026).
“Ini adalah hasil monitoring kami hingga pukul 12.00, itu telah terjadi 93 aktivitas gempa bumi susulan Bapak Ibu sekalian dengan magnitudo 2,8 hingga 5,8,” kata Kepala BMKG Prof. Teuku Faisal Fathani dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Sulawesi Utara.
Faisal mengungkap bahwa akibat getaran seperti ini terjadi di Kota Ternate dan Kota Manado, sehingga dirasakan oleh nyaris semua masyarakat. Kemudian, intensitas akibat getaran 2 sampai 3 dirasakan di beberapa titik, seperti Gorontalo, Gorontalo Utara, Bone Bolango, Bone Selatan, dan Pohuwato.
Faisal juga mengatakan bahwa pihaknya sudah mendapatkan laporan keaktifan dari gunung api aktif di wilayah Malukuk Utara. Kondisi ini diakibatkan adanya pergeseran pada gempa pagi ini.
"Kami mengimbau agar tetap memastikan info resmi nan berasal dari BMKG," tegasnya.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·