Kayu Hanyutan Dimanfaatkan untuk Huntara, PWNU Aceh Tekankan Aspek Keamanan bagi Warga

Sedang Trending 1 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Banda Aceh, NU Online

Kayu hanyutan nan terbawa arus banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh mulai dimanfaatkan sebagai material pembangunan kediaman sementara (huntara) bagi penduduk terdampak bencana. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari strategi percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.


Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Tito Karnavian, mengatakan pemanfaatan kayu hanyutan tersebut dirancang untuk membantu pembangunan kediaman masyarakat serta kebutuhan lainnya.


“Kayu ini bisa dimanfaatkan masyarakat untuk membangun kediaman sendiri maupun kebutuhan lainnya,” ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (3/4/2026).


Berdasarkan info Satgas PRR per 2 April 2026, di Kabupaten Aceh Utara tercatat sebanyak 2.112,11 meter kubik kayu telah dimanfaatkan untuk pembangunan huntara. Sementara di Kabupaten Aceh Tamiang, sekitar 572,4 meter kubik kayu tetap menunggu penetapan peruntukan dari pemerintah daerah.


Selain Aceh, pemanfaatan kayu hanyutan juga dilakukan di sejumlah wilayah lain seperti Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 329,24 meter kubik kayu dimanfaatkan untuk pembangunan huntara, akomodasi sosial, dan akomodasi umum. Sementara di Kota Padang, Sumatera Barat, volume kayu hanyutan mencapai 1.996,58 meter kubik.


Tito menjelaskan, pemanfaatan kayu hanyutan ini merujuk pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 191 Tahun 2026 nan mengatur pemanfaatan sumber daya kayu akibat musibah untuk mendukung penanganan darurat dan pemulihan.


Ia menambahkan, kayu berukuran mini nan tidak ekonomis dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain, seperti bahan baku industri alias sumber daya nan dapat mendukung pendapatan original wilayah (PAD). “Mekanismenya melalui kerja sama, dan hasilnya bisa menjadi PAD,” katanya.


Warga Manfaatkan Kayu Hanyutan

Berdasarkan pantauan NU Online di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, kayu gelondongan nan terbawa banjir dan menumpuk di area Krueng Mati mulai dimanfaatkan langsung oleh warga.


Sejumlah penduduk terlihat mengambil dan mengolah kayu hanyutan tersebut untuk dijadikan bahan gedung rumah sederhana, terutama bagi mereka nan kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang beberapa bulan lalu.


Kayu nan sebelumnya menjadi simbol kerusakan sekarang berubah menjadi angan baru. Warga secara gotong royong memanfaatkan material tersebut untuk membangun kembali rumah dengan keahlian seadanya.


“Kayu-kayu ini sangat membantu kami. Daripada dibiarkan, lebih baik kami gunakan untuk membangun rumah kembali,” ujar Rasyidin, salah seorang penduduk setempat.


Namun, sebagian besar pembangunan tetap berkarakter sementara dan dilakukan secara mandiri, mengingat keterbatasan support nan diterima penduduk hingga saat ini.


Rasyidin menilai pemanfaatan kayu hanyutan sebagai langkah sigap dan efisien dalam membantu masyarakat nan kehilangan tempat tinggal. Dengan kesiapan material di lokasi, pembangunan huntara dapat dilakukan lebih sigap tanpa kudu menunggu pengedaran bahan dari luar daerah.


Menurutnya, sebagian besar kayu hanyutan di wilayah terdampak telah ditangani, sementara sisanya tetap berada di wilayah pedalaman nan susah dijangkau.


“Langkah ini juga membantu mengurangi penumpukan kayu di sungai nan berpotensi menghalang aliran air dan memicu musibah lanjutan,” lanjutnya.


Perlu Perhatian Aspek Keberlanjutan

Menanggapi perihal tersebut, Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menilai kebijakan pemanfaatan kayu hanyutan merupakan langkah positif dalam kondisi darurat. Namun, dia mengingatkan pentingnya aspek keberlanjutan dan tata kelola nan baik.


“Ini solusi sigap nan patut diapresiasi lantaran membantu masyarakat membangun kembali tempat tinggal. Namun, tetap kudu dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan baru,” ujarnya.


Ia menekankan pentingnya pengawasan agar pemanfaatan kayu tidak disalahgunakan, serta memastikan pengedaran material betul-betul sampai kepada masyarakat nan membutuhkan.


“Harus ada transparansi dan pengawasan. Jangan sampai ada pihak nan mengambil untung di tengah situasi bencana,” katanya.


Selain itu, dia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas gedung huntara agar tetap layak huni dan kondusif bagi masyarakat.


“Yang dibangun bukan hanya cepat, tetapi juga kudu kondusif dan layak. Ini krusial agar masyarakat tidak kembali terdampak ketika terjadi cuaca ekstrem,” tambahnya.


Dorong Sinergi Pemulihan Pascabencana

Tgk Iskandar juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.


Menurutnya, pemulihan tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga kudu menyentuh aspek sosial dan ekonomi masyarakat.


“Pascabencana ini bukan hanya soal membangun rumah, tetapi juga memulihkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh,” ujarnya.


Ia berambisi pemanfaatan kayu hanyutan dapat menjadi solusi jangka pendek nan diikuti dengan perencanaan jangka panjang nan lebih matang dalam penanganan bencana.


Dengan demikian, proses pemulihan tidak hanya berjalan cepat, tetapi juga berkepanjangan serta bisa meningkatkan ketahanan masyarakat dalam menghadapi musibah di masa mendatang.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE