Jual Beli Emas Digital dalam Tinjauan Syariat (Bag. 1)

Sedang Trending 8 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Islam datang tidak hanya mengatur persoalan ibadah mahdhah nan berkarakter penghambaan kepada Allah semata. Syariat Islam juga datang dengan seperangkat patokan dalam bagian muamalah, ialah beragam corak hubungan sosial dan ekonomi di antara manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan kepercayaan nan sempurna, nan tidak hanya mengarahkan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Allah Ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Hal itu dikarenakan mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba.’ Padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam perkara muamalah terdapat hal-hal nan Allah jadikan legal dan ada pula nan Allah jadikan haram. Seluruh ketentuan tersebut ditetapkan oleh Allah demi mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan mencegah beragam corak kezaliman dalam hubungan mereka. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Tidaklah kami utus Anda (Muhammad) selain merupakan rahmat untuk alam semesta.” (QS. al-Anbiya’: 107)

Syekh Abdul Karim Zaidan mengatakan ketika beralasan dengan ayat di atas,

إنما كانت رسالته -عليه الصلاة والسلام- رحمة للعالمين؛ لأنها تتضمن تحقيق المصالح للعباد في دنياهم وآخرتهم، وتدرأ عنهم المفاسد والأضرار.

“Sesungguhnya risalah nan dibawa oleh Nabi ﷺ disebut sebagai rahmat bagi seluruh alam. Hal itu lantaran aliran nan beliau sampaikan mengandung penerapan beragam kebaikan bagi manusia, baik untuk kehidupan mereka di bumi maupun untuk keselamatan mereka di akhirat. Selain itu, risalah tersebut juga bermaksud menjauhkan manusia dari beragam kerusakan serta ancaman nan dapat menimpa mereka.” [1]

Emas digital

Dewasa ini, salah satu corak muamalah nan cukup trendy adalah jual-beli emas. Kemudian muncul jenis baru dalam corak jual-beli emas ini, ialah jual-beli emas digital. Sebelum membahas lebih dalam, kita kudu tahu dulu apa itu emas digital?

Emas digital adalah corak kepemilikan emas nan dicatat secara digital alias elektronik, di mana transaksi jual beli dilakukan melalui platform daring. Dalam sistem ini, seseorang membeli emas melalui aplikasi alias jasa tertentu, kemudian jumlah emas nan dimiliki bakal tercatat dalam akun pengguna sebagai saldo emas digital. Meskipun kepemilikannya dicatat secara elektronik, emas nan diperdagangkan tetap merujuk pada emas bentuk dengan kadar tinggi (umumnya minimal 99,9%) nan disimpan oleh penyedia jasa pada tempat penyimpanan unik alias vault. [2]

Dengan sistem ini, pengguna tidak perlu menyimpan emas secara langsung lantaran penyimpanan dilakukan oleh pihak pengelola nan bekerja sama dengan penyedia platform. Emas digital umumnya digunakan sebagai sarana investasi lantaran memungkinkan transaksi secara lebih praktis dan fleksibel, apalagi dalam jumlah nan sangat kecil. Selain itu, pada beberapa layanan, emas digital nan dimiliki juga dapat dikonversi alias dicetak menjadi emas bentuk sesuai ketentuan nan berlaku. [3]

Islam memandang transaksi emas

Jual beli emas sudah menjadi salah satu corak muamalah sejak era Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, dengan tegas Rasulullah memberikan patokan terhadap transaksi emas. Beliau bersabda,

الذَّهَبُ بِالذَّهَبِ، وَالْفِضَّةُ بِالْفِضَّةِ، وَالْبُرُّ بِالْبُرِّ، وَالشَّعِيرُ بِالشَّعِيرِ، وَالتَّمْرُ بِالتَّمْرِ، وَالْمِلْحُ بِالْمِلْحِ، مِثْلًا بِمِثْلٍ، سَوَاءً بِسَوَاءٍ، يَدًا بِيَدٍ، فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

“Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam kudu dengan ukuran nan sama, seimbang, serta dilakukan secara tunai. Jika jenis peralatan tersebut berbeda, maka kalian boleh memperjualbelikannya dengan langkah nan kalian kehendaki selama transaksi itu dilakukan secara tunai.” [4]

Dari sabda ini, Syekh Muhammad at-Tuwaijiri dalam kitabnya, Mausu’ah al-Fiqh al-Islami, mengklasifikasikan barang-barang di atas dengan,

أصول الأموال الربوية ستة: الأول: الأثمان: وهما الذهب والفضة. الثاني: المطعومات: وهي: البر، والتمر، والشعير، والملح

“Pokok kekayaan barang nan termasuk dalam kategori riba ada enam macam. (Dengan pembagian 2 kelompok): Pertama, peralatan nan berfaedah sebagai perangkat tukar berharga, ialah emas dan perak. Kedua, bahan makanan, ialah gandum, kurma, jelai, dan garam.” [5]

Dalam perihal ini, disebutkan bahwa emas termasuk kekayaan barang ribawi nan dalam praktik transaksinya ada aturannya.

Potensi riba pada kekayaan barang ribawi

Para ustadz menjelaskan bahwa pada kekayaan ribawi terdapat potensi terjadinya riba dalam dua golongan utama, jika terjadi pada 1 jenis peralatan nan sama. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam arti riba pada pertukaran kekayaan ribawi oleh Syekh Abdul Karim bin Muhammad al-Lahim dalam kitab al-Mathla` `ala Daqa`iq Zad al-Mustaqni` (al-Mu‘amalat al-Maliyyah),

زيادة أحد العوضين الربويين من جنس واحد على الآخر، وتأجيل أحد الربويين وليس أحدهما نقدًا

“Penambahan pada salah satu dari dua peralatan ribawi nan sejenis atas nan lainnya, serta adanya penundaan pada salah satu dari dua peralatan ribawi sehingga keduanya tidak diserahkan secara tunai.” [6]

Maka, riba bakal terjadi jika terdapat penambahan takaran alias jumlah alias dilakukan tidak tunai (langsung/saat itu) pada jenis peralatan nan sama pada dua golongan utama, Dari arti tersebut terdapat 2 macam riba. Sebagaimana disebutkan oleh at-Tuwaijiri,

الربا في البيوع: وهو قسمان

١ – ربا الفضل: وهو بيع المال الربوي بجنسه متفاضلاً كأن يبيعه جراماً من الذهب بجرامين منه مع التسليم في الحال. وهذا البيع محرم؛ لأنه وسيلة إلى ربا النسيئة

٢ – ربا النسيئة: وهو الزيادة التي يأخذها البائع من المشتري مقابل التأجيل. كأن يعطيه ألفاً نقداً على أن يرده بعد سنة ألفاً وخمسمائة مثلاً، أو يقلب الدين على المعسر مقابل التأجيل. وهذا أخطر وأعظم أنواع الربا

Terdapat dua macam riba:

Pertama, riba fadhl, ialah menjual kekayaan ribawi dengan jenis nan sama tetapi dengan kadar nan berbeda. Misalnya, seseorang menjual satu gram emas dengan dua gram emas, meskipun penyerahannya dilakukan saat itu juga (tunai). Jual beli seperti ini diharamkan lantaran menjadi jalan nan dapat mengantarkan kepada riba nasi’ah.

Kedua, riba nasi’ah, ialah tambahan nan diambil penjual dari pembeli sebagai hadiah atas penundaan pembayaran. Contohnya, seseorang memberikan duit seribu secara tunai dengan syarat dikembalikan setelah satu tahun menjadi seribu lima ratus, alias menambah utang orang nan kesulitan bayar sebagai hadiah atas penundaan waktu pembayaran. Jenis ini merupakan corak riba nan paling rawan dan paling besar dosanya.

Syarat jual beli emas dengan mata uang

Setelah mengetahui bahwa riba ini terjadi pada jenis kekayaan barang nan sama. Rasul juga memberikan aturan, jika penukaran tersebut berbeda dalam golongan nan sama, seperti emas dengan uang. Dalam transaksi emas digital, nan terjadi pada umumnya adalah jual beli emas dengan mata duit (rupiah). Emas dan mata duit merupakan dua jenis peralatan ribawi nan berbeda jenisnya. Berdasarkan sabda di atas,

فَإِذَا اخْتَلَفَتْ هَذِهِ الْأَصْنَافُ فَبِيعُوا كَيْفَ شِئْتُمْ إِذَا كَانَ يَدًا بِيَدٍ

(Jika jenis peralatan tersebut berbeda, maka kalian boleh memperjualbelikannya dengan langkah nan kalian kehendaki selama transaksi itu dilakukan secara tunai), jual beli antara dua kekayaan barang ribawi nan berbeda jenis dibolehkan dengan syarat dilakukan secara tunai dan serah terima langsung (yadan bi yadin). Boleh berbeda kadarnya, namun tidak boleh ada penundaan dalam serah terima. Hal ini juga ditegaskan oleh Rasulullah,

نَهانا رسولُ اللهِ صلَّى الله عليْهِ وسلَّمَ عن بيعِ الورقِ بالورقِ، والذَّهبِ بالذَّهبِ، والبرِّ بالبرِّ، والشَّعيرِ بالشَّعيرِ، والتَّمرِ بالتَّمرِ ، قالَ أحدُهما: والملحِ بالملحِ، ولم يقلْهُ الآخرُ، وأمرنا أن نبيعَ البرَّ بالشَّعيرِ، والشَّعيرَ بالبرِّ، يدًا بيدٍ، كيفَ شئنا

“Rasulullah ﷺ melarang kami menjual perak dengan perak, emas dengan emas, gandum dengan gandum, jelai dengan jelai, dan kurma dengan kurma. Salah seorang perawi menambahkan garam dengan garam, sedangkan nan lain tidak menyebutkannya. Beliau juga memerintahkan kami untuk menjual gandum dengan jelai dan jelai dengan gandum secara tunai, dengan langkah nan kami kehendaki.” [7]

الورِقُ بالذَّهبِ ربًا إلَّا هاءَ وَهاءَ

“Perak dengan emas termasuk riba selain ‘haa` (ini) dan haa (ini) (yakni serah terima langsung).” [8]

Penukaran kekayaan barang ribawi dengan jenis nan berbeda pada golongan nan sama dibolehkan selama perihal tersebut dilakukan secara tunai. Maksud dari penggalan إلَّا هاءَ وَهاءَ adalah,

كل واحد من متولي عقد الصرف يقول لصاحبه: خذ، فيتقابضان قبل التفرق عن المجلس، فهو حالٌ بتقدير القول، تقديره: إلا مقولًا عنده من المتبايعين هاء وهاء، أي: إلا حال التقابض

Masing-masing pihak nan melakukan janji sharf (transaksi perbedaan jenis pada satu kelompok) mengatakan kepada rekannya “ambil ini”, lampau keduanya saling melakukan serah terima sebelum berpisah dari majelis transaksi. Dengan demikian, janji tersebut dianggap tunai berasas perkataan tersebut. Maksudnya, transaksi itu diperkirakan disertai ucapan dari kedua pihak nan berjual beli “haa’ (ini) dan haa’ (ini)”, ialah sebagai isyarat terjadinya serah terima secara langsung.

Maka, pada jenis transaksi sharf ini disyaratkan adanya qabdh (serah terima langsung) alias taqabudh (saling serah terima) dalam sekali transaksi di satu majlis.

Apakah serah terima digital terhitung taqaabudh?

Di sinilah letak persoalan utama dalam norma emas digital. Ketika seseorang membeli emas melalui platform digital, dia bayar dengan duit (rupiah) nan langsung terpotong dari saldonya, dan emas tercatat dalam akunnya secara digital. Namun, emas bentuk tidak beranjak tangan secara langsung kepada pembeli. Emas tersebut tetap tersimpan di vault (tempat penyimpanan) milik penyedia layanan.

Maka, pertanyaan nan muncul, apakah pencatatan digital dan pemotongan saldo secara otomatis sudah termasuk taqabudh (serah terima) nan sah secara syar’i? Ataukah kudu ada perpindahan emas secara bentuk (qabdh haqiqi)?

Untuk menjawab pertanyaan ini, para ustadz membahas konsep al-qabdh (serah terima) dan membedakannya menjadi dua bentuk:

Pertama, al-qabdh al-haqiqi (serah terima secara fisik), ialah berpindahnya peralatan secara nyata dari tangan penjual ke tangan pembeli.

Kedua, al-qabdh al-hukmi (serah terima secara hukum), ialah peralatan dianggap sudah beranjak kepemilikannya kepada pembeli meskipun secara bentuk belum dipegang langsung oleh pembeli, namun dia sudah mempunyai kuasa penuh atas peralatan tersebut.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Dubyan bin Muhammad ad-Dubyan dalam kitab al-Mu‘amalat al-Maliyyah Ashalatan wa Mu‘ashirah,

واختلفوا في كيفية القبض] فقيل: يكفي فيها التعيين، ولو لم يحصل تقابض باليد. وهذا مذهب الحنفية. وقيل: لا بد من التقابض، وهو مذهب الجمهور

“Para ustadz berbeda pendapat tentang gimana langkah terjadinya qabdh (serah terima). Sebagian ustadz beranggapan bahwa cukup dengan penentuan barangnya saja, meskipun belum terjadi serah terima secara langsung dengan tangan. Ini merupakan pendapat ajaran Hanafiyah. Sebagian ustadz lainnya beranggapan bahwa kudu terjadi serah terima secara langsung. Ini merupakan pendapat jumhur ulama.” [9]

Para ustadz berbeda pendapat mengenai apakah al-qabdh al-hukmi sudah mencukupi dalam transaksi peralatan ribawi seperti emas alias belum. Perbedaan ini berasal dari perbedaan mereka dalam memahami illat (sebab hukum) di kembali persyaratan taqabudh serta penerapan norma al-qabdh pada realita transaksi modern.

[Bersambung]

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Syekh Abdul Karim Zaidan, Ushul ad-Da’wah, hal. 301.

[2] Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Bulletin Perdagangan Berjangka, Edisi 254, hal. 4-5.

[3] Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Bulletin Perdagangan Berjangka, Edisi 254, hal. 6.

[4] Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 1587.

[5] Syekh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at-Tuwaijiri, Mausu’ah al-Fiqh al-Islami, 3: 450.

[6] Syekh Abdul Karim bin Muhammad al-Lahim, al-Mathla’ ‘ala Daqa’iq Zad al-Mustaqni’ (al-Mu‘amalat al-Maliyyah), 2: 64.

[7] Dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1841.

[8] Dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1847.

[9] Syekh Dubyan bin Muhammad ad-Dubyan, al-Mu‘amalat al-Maliyyah Ashalatan wa Mu‘ashirah, 3: 231.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info