Hukum Korupsi Dalam Islam

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Definisi korupsi

Korupsi sebenarnya mempunyai makna nan luas. Berasal dari kata corrupt dalam bahasa Inggris nan artinya: rusak. Maka, korupsi mencakup semua corak kerusakan dalam mengemban amanah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi didefinisikan sebagai penyelewengan alias penyalahgunaan duit negara, perusahaan, dan sebagainya, untuk untung pribadi alias orang lain.

Dalam 13 pasal di UU 31/1999 dan perubahannya, disebutkan 30 jenis tindak pidana korupsi. Dan ketiga puluh jenis tersebut disederhanakan ke dalam 7 jenis tindak pidana korupsi, ialah korupsi nan mengenai dengan kerugian finansial negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, tumbukan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi. Sehingga kita memandang bahwa arti dalam bahasa Indonesia korupsi cukup luas dan kompleks.

Namun, dari tujuh jenis korupsi nan disebutkan di atas, kita bakal telaah nan paling sering terjadi di masyarakat:

Suap-menyuap (risywah)

Dari arti di atas, suap-menyuap termasuk tindak korupsi. Dan dalam Islam, risywah hukumnya haram, apalagi termasuk dosa besar.

Ibnu Atsir rahimahullah berbicara ketika mendefinisikan risywah,

الرِّشْوَة الوصلة إِلَى الْحَاجة بالمصانعة

“Risywah adalah wasilah untuk mencapai suatu rencana nan dibuat-buat.” (Umdatul Qari, 12: 98)

Adapun Ali al-Qari rahimahullah menyatakan,

الرِّشْوَةُ وَهِيَ أَنْ تَصْنَعَ لِصَاحِبِكَ شَيْئًا لِيَصْنَعَ لَكَ شَيْئًا

”Risywah itu Anda memberi sesuatu kepada kawan Anda agar kawan Anda membuat-buat sesuatu rencana untuk Anda.” (Mirqatul Mafatih, 9: 3789)

Adapun Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan,

والرِّشوة بذل شيء يتوصل به الإنسان إلى المقصود

“Risywah adalah memberikan sesuatu kepada seseorang sebagai sarana agar tercapai maksudnya.” (Syarhul Mumthi, 15: 304)

Dari beberapa arti di atas, risywah adalah pemberian kepada seseorang sebagai sarana untuk mencapai suatu maksud dengan langkah nan terlarangan alias dibuat-buat.

Perbuatan risywah adalah dosa besar. Pemberi dan penerima suap sama-sama berdosa. Dan duit nan didapatkan dari risywah adalah kekayaan haram. Allah Ta’ala berfirman,

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

“Mereka (orang-orang Yahudi) suka mendengarkan kedustaan dan suka menyantap suhtun.” (QS. Al-Maidah: 42)

Al-Hasan Al-Bashri dan Sa’id bin Jubair menafsirkan suhtun dalam ayat di atas dengan risywah (Tafsir ath-Thabari, 10: 318). Maka, ayat ini adalah hinaan terhadap pelaku risywah.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لعنةُ اللَّهِ علَى الرَّاشي والمُرتَشي

“Laknat Allah terhadap orang nan memberi suap dan menerima suap.” (HR. Ibnu Majah no. 1885, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Dalam lafaz nan lain,

لعنَ رسولُ اللهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ الرَّاشي والمُرتَشي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang nan memberi suap dan menerima suap.” (HR. Tirmidzi no. 1337, disahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

الراشي والمُرتَشي في النارِ

“Orang nan memberi suap dan menerima suap tempatnya di neraka.” (HR. Ath-Thabarani no. 2026, dihasankan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhib [3: 194] dan Ibnu Mulaqqin dalam Al-Khulashah [2: 53])

Bahkan dalam riwayat dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ada tambahan “ra’isy”. Disebutkan bahwa,

لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيَ والمُرتَشيَ والرَّائِشَ الَّذي يَمْشي بيْنهُما

“Allah melaknat orang nan memberi suap dan menerima suap serta melaknat ar-raa’isy, ialah orang nan menjadi perantara antara pemberi dan penerima suap.” (HR. Al-Hakim no. 7264, dengan sanad nan lemah)

Hukuman bagi pelaku risywah adalah ta’zir. Syekh Abdullah ath-Thayyar menjelaskan,

ومن الجرائم التي يعاقب عليها بالتعزير الرشوة. وهي تقديم شيء له قيمة كالمال والهدايا لمن في يده قضاء منفعة معينة للناس وفي مقابل ذلك يخل هذا الشخص بقيمه الإِسلامية والشرعية من أجل أن يستفيد الراشي

“Di antara kejahatan nan dikenai balasan ta‘zīr adalah suap-menyuao (risywah). Yaitu memberikan sesuatu nan mempunyai nilai, seperti kekayaan alias hadiah, kepada seseorang nan mempunyai kewenangan untuk memutuskan alias memenuhi suatu kepentingan tertentu bagi masyarakat. Sebagai imbalannya, orang tersebut melanggar nilai-nilai Islam dan ketentuan hukum demi memberi untung kepada pihak nan menyuap.” (Al-Fiqhul Muyassar, 7: 207)

Hukuman ta’zir adalah balasan nan jenisnya kembali kepada ijtihad pengadil di pengadilan.

Baca juga: Budaya Suap: Tradisi Mendarah Daging Bangsa Yahudi

Penggelapan kekayaan negara

Dalam arti di atas, penggelapan kekayaan negara termasuk tindak korupsi. Dan penggelapan kekayaan negara dalam Islam disebut dengan al-ghulul. Secara bahasa, ghulul artinya khianat. Dalam Lisanul ‘Arab disebutkan,

وغَلَّ يَغُلُّ غُلولاً وأَغَلَّ : خانَ

“ghalla – yaghullu – ghululan, dan aghalla, maknanya: khianat.”

Ibnu Atsir rahimahullah berbicara ketika mendefinisikan ghulul,

الغلول هو الخيانة في المغنم، والسرقة في الغنيمة قبل القسمة، وكل من خان في شيء خفية فقد غل، وسميت غلولا

“Ghulul adalah khianat dalam ghanimah dan mencuri kekayaan ghanimah sebelum dibagikan oleh ulil amri. Dan semua nan berkhianat dalam segala sesuatu secara samar, maka dia telah melakukan ghulul.” (Umdatul Qari, 15: 6)

Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,

فإنَّ الغلولَ هو الخيانة من بيت المال، من المغنم، من الأمانات الأخرى، مَن خان الأمانةَ فقد غلَّ

“Sesungguhnya ghulul adalah melakukan khianat terhadap Baitul Mal (uang negara), alias terhadap kekayaan rampasan perang, dan amanah-amanah nan lainnya. Siapa saja nan mengingkari amanah, maka dia melakukan ghulul.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)

Syekh Sa’ad bin Musfir hafizhahullah juga menjelaskan,

الأموال عامة يحرم على المسلم أن يأخذ منها شيئاً بغير حق، ومن أخذ منها سمي غالاً

“Harta orang lain secara umum haram untuk diambil seorang Muslim tanpa hak. Siapa nan mengambilnya tanpa hak, maka dia melakukan ghulul.” (Min Asbab ‘Adzabil Qabri, 2: 5)

Intinya, ghulul adalah penyalahgunaan duit milik orang banyak secara umum, baik duit rakyat, duit kantor, duit yayasan, dan semisalnya. Di antara corak ghulul adalah sebagai berikut:

  • Mengambil ghanimah sebelum dibagikan
  • Menyembunyikan ghanimah
  • Menyalahgunakan duit negara
  • Mengambil kelebihan biaya anggaran
  • Mengambil kelebihan duit dinas bagi ASN
  • Menggunakan aset negara untuk keperluan pribadi
  • Memotong duit bantuan
  • Menggunakan duit upaya untuk keperluan pribadi
  • Menggunakan duit kas kelas untuk keperluan pribadi
  • Hadiah bagi pegawai negeri

Orang nan melakukan ghulul diancam bakal ditimpakan kekayaan nan dia diselewengkan. Harta nan diselewengkan bakal didatangkan di hari hariakhir menjadi suatu beban berat nan kemudian dipikulkan kepadanya. Semakin banyak kekayaan nan diselewengkan, dia bakal semakin tersiksa. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَغُلَّ وَمَنْ يَغْلُلْ يَأْتِ بِمَا غَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan kekayaan rampasan perang. Barangsiapa nan berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat, dia bakal datang membawa apa nan dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri bakal diberi pembalasan tentang apa nan dia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (QS. Ali Imran: 161)

Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan,

أما الغلول فقد تبين بيانه: أنه يأتي بما غلَّ يوم القيامة يحمله

“Adapun ghulul, telah jelas bahwa pelakunya bakal dipikulkan kekayaan nan diselewengkan kelak di hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah Ali Imran ayat 3)

Dalam sabda dari Khaulah Al-Anshariyyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ رِجَالاً يَتَخَوَّضُونَ فِي مَالِ اللَّهِ بِغَيْرِ حَقٍّ، فَلَهُمُ النَّارُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Ada beberapa orang nan membelanjakan kekayaan Allah di jalan nan tidak benar, maka balasan bagi mereka adalah neraka di hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 3118)

Harta Allah nan dimaksud dalam sabda ini adalah kekayaan kaum Muslimin. Dari Ummu Habibah binti al-‘Irbadh, dari al-’Irbadh radhiyallahu ’anhu, ia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْخُذُ الْوَبَرَةَ مِنْ فَيْءِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَقُولُ: مَا لِي مِنْ هَذَا إِلَّا مِثْلَ مَا لِأَحَدِكُمْ إِلَّا الْخُمُسَ، وَهُوَ مَرْدُودٌ فِيكُمْ، فَأَدُّوا الْخَيْطَ وَالْمَخِيطَ فَمَا فَوْقَهُمَا، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُولَ، فَإِنَّهُ عَارٌ وَشَنَارٌ عَلَى صَاحِبِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil rambut dari fai pemberian Allah (harta ghanimah). Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya tidak mempunyai kewenangan dari kekayaan rampasan perang ini selain seperti kewenangan salah seorang di antara kalian juga, selain seperlima. Seperlima itu pun dikembalikan kepada kalian juga. Maka, serahkanlah ghanimah, baik berupa benang, jarum, dan semua peralatan lainnya nan lebih besar dari keduanya. Janganlah Anda melakukan ghulul, lantaran itu merupakan hinaan dan kejelekan bagi pelakunya pada hari kiamat.”  (HR. Ahmad no. 17154, Ibnu Majah no. 2317, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Ghulul adalah dosa nan besar. Dalam sabda dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, dia berkata,

قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ الغُلُولَ فَعَظَّمَهُ وَعَظَّمَ أَمْرَهُ، قَالَ: لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ، عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيرٌ لَهُ رُغَاءٌ، يَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رِقَاعٌ تَخْفِقُ، فَيَقُولُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَغِثْنِي، فَأَقُولُ: لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا، قَدْ أَبْلَغْتُكَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di hadapan kami, lampau menyebut ghulul dan menyatakan besarnya urusan ghulul. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sampai pada hari hariakhir saya berjumpa seseorang dari kalian nan memikul kambing nan mengembik di lehernya, memikul kuda nan meringkik di lehernya, lampau dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu saya bakal menjawab, “Aku tidak bisa menolongmu. Dahulu saya sudah menyampaikan kepadamu.”

Ada nan memikul harta di lehernya, lampau dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu saya bakal menjawab, “Aku tidak bisa menolongmu. Dahulu saya sudah menyampaikan kepadamu.” Ada nan memikul kain di lehernya nan bergoyang-goyang, lampau dia berkata, “Wahai Rasulullah! Tolonglah aku!” Lalu saya bakal menjawab, “Aku tidak bisa menolongmu. Dahulu saya sudah menyampaikan kepadamu.” (HR. Bukhari no. 3073 dan Muslim no. 1831)

Ghulûl adalah penyebab masuk neraka, walaupun pelakunya seakan seorang saleh. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

افْتَتَحْنَا خَيْبَرَ، وَلَمْ نَغْنَمْ ذَهَبًا وَلاَ فِضَّةً، إِنَّمَا غَنِمْنَا البَقَرَ وَالإِبِلَ وَالمَتَاعَ وَالحَوَائِطَ، ثُمَّ انْصَرَفْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى وَادِي القُرَى، وَمَعَهُ عَبْدٌ لَهُ يُقَالُ لَهُ مِدْعَمٌ، أَهْدَاهُ لَهُ أَحَدُ بَنِي الضِّبَابِ، فَبَيْنَمَا هُوَ يَحُطُّ رَحْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ سَهْمٌ عَائِرٌ، حَتَّى أَصَابَ ذَلِكَ العَبْدَ، فَقَالَ النَّاسُ: هَنِيئًا لَهُ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا  فَجَاءَ رَجُلٌ حِينَ سَمِعَ ذَلِكَ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِرَاكٍ أَوْ بِشِرَاكَيْنِ، فَقَالَ: هَذَا شَيْءٌ كُنْتُ أَصَبْتُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ

“Kami menaklukkan Khaibar, kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak, tetapi kami mendapatkan ghanimah berupa sapi, onta, barang-barang, dan kebun-kebun. Kemudian kami pergi berbareng Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam ke Wadil Qura. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diikuti budaknya nan berjulukan Mid’am nan dihadiahkan oleh seseorang dari Bani adh-Dhibab. Ketika budak itu sedang menurunkan pelana Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba sebuah anak panah nyasar datang dan mengenainya. Orang-orang pun berkata, “Selamat! Dia meraih syahid.”

Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

بَلْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَصَابَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا

“Tidak! Demi Allâh nan jiwaku di tangan-Nya! Sesungguhnya, selimut nan dia ambil dari ghanimah Khaibar, nan belum dibagi, bakal menyalakan api padanya.”

Ketika mendengar perihal itu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang laki-laki datang membawa satu tali alias dua tali sandal, lampau berkata, “Ini peralatan nan saya ambil.” Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

شِرَاكٌ – أَوْ شِرَاكَانِ – مِنْ نَارٍ

“Satu tali sandal alias dua tali sandal dari neraka.” (HR. Bukhâri no. 4234 dan Muslim no. 115)

Hukuman bagi pelaku ghulul dalam Islam adalah balasan ta’zir dan kekayaan nan diselewengkan kudu dikembalikan. Sebagian ustadz menambahkan kudu dibakar hartanya. An-Nawawi rahimahullah mengatakan,

وأجمع المسلمون على تغليظ تحريم الغلول ، وأنه من الكبائر ، وأجمعوا على أن عليه رد ما غله … واختلفوا في صفة عقوبة الغال . فقال جمهور العلماء وأئمة الأمصار : يعزر على حسب ما يراه الإمام ، ولا يحرق متاعه ، وهذا قول مالك والشافعي وأبي حنيفة ومن لا يحصى من الصحابة والتابعين ومن بعدهم ، وقال مكحول والحسن والأوزاعي : يحرق رحله ومتاعه كله ، قال الأوزاعي : إلا سلاحه وثيابه التي عليه ، وقال الحسن : إلا الحيوان والمصحف

“Para ustadz Muslimin bermufakat bahwa ghulul adalah perbuatan nan haram dengan keharaman nan sangat berat, dan bahwa dia termasuk dosa besar. Mereka juga bermufakat bahwa pelakunya wajib mengembalikan kekayaan nan diselewengkan … Para ustadz juga berbeda pendapat mengenai corak balasan bagi orang nan melakukan ghulul. Mayoritas ustadz dan para pemimpin di beragam negeri beranggapan bahwa dia diberi balasan ta‘zir sesuai dengan pertimbangan hakim, dan barang-barangnya tidak dibakar. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam asy-Syafi‘i, Imam Abu Hanifah, serta banyak dari para sahabat, tabi‘in, dan ustadz setelah mereka. Sementara itu, Makhul, al-Hasan al-Bashri, dan al-Auza‘i beranggapan bahwa kendaraan dan seluruh barangnya dibakar. Al-Auza‘i berkata: selain senjatanya dan busana nan sedang dia pakai. Al-Hasan berkata: selain hewan dan mushaf Al-Qur’an.” (Syarah Shahih Muslim, 12: 531)

Gratifikasi

Di antara corak korupsi adalah gratifikasi. Gratifikasi adalah pemberian meliputi uang, barang, diskon, komisi, tiket perjalanan, dan akomodasi lainnya nan diterima oleh pegawai negeri alias penyelenggara negara. Dari Abu Humaid As-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

هَدايا العُمَّالِ غُلولٌ

“Hadiah untuk pegawai adalah ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad no. 23601, Al-Bazzar no.3723, disahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7021)

Hadis di atas pada asalnya bertindak untuk pegawai negara (ASN). Karena sabda di atas diriwayatkan dengan lafaz lain,

هدايا الأمراءِ غُلولٌ

“Hadiah untuk para pemimpin negara adalah ghulul (harta khianat).”

Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan,

لأنها لا تكون إلا لأجل خيانة في ما إليهم من الأعمال، فإذا أهدي العامل للأمير أو أهدي الرعية للعامل فهو لبيت المال كما سلف ولا يحل للعامل قبولها لكن إن قبلها صارت لبيت المال

“Karena bingkisan tersebut tidaklah diberikan selain lantaran pelanggaran amanah nan mereka lakukan dalam pekerjaan. Maka, jika pemimpin negara diberi bingkisan oleh pegawainya, alias pegawai negara diberi bingkisan oleh rakyatnya, maka kekayaan tersebut milik Baitul Mal sebagaimana nan terjadi di era salaf. Tidak legal bagi sang pegawai negara untuk menerimanya. Namun, jika dia terima bingkisan tersebut, kudu diserahkan ke Baitul Mal.” (At-Tanwir Syarah Al-Jami’ Ash-Shaghir, 11: 19)

Oleh lantaran itu, terlarang secara absolut bagi pegawai negara apapun bagian pekerjaannya untuk menerima bingkisan dari rakyat atas pekerjaan nan dia lakukan. Dikuatkan juga dengan sabda Adi bin Umairah Al-Kindi radhiyallahu ’anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ استَعْمَلْنَاهُ مِنْكُمْ عَلَى عَمَلٍ، فَكَتَمَنَا مَخِيطًا فَمَا فَوْقَهُ كَانَ غُلُولًا، يَأْتِي بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa di antara kalian nan kami tugaskan untuk suatu pekerjaan, lampau dia menyembunyikan dari kami sebatang jarum alias nan lebih berbobot dari itu, maka itu adalah ghulul (harta khianat) nan bakal dia pikul pada hari kiamat.” (HR. Muslim no. 3415)

Dalam sabda ini disebutkan “yang kami tugaskan”, maksudnya ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam berupa tugas negara. Dari Buraidah Al-Aslami radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

مَنِ اسْتَعْمَلْنَاهُ عَلَى عَمَلٍ فَرَزَقْنَاهُ رِزْقًا فَمَا أَخَذَ بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ غُلُولٌ

“Barang siapa nan kami pekerjakan dalam suatu pekerjaan, lampau dia mendapatkan penghasilan dari pekerjaan tersebut, maka apapun nan dia dapatkan (hadiah alias tips) dari pekerjaan tersebut, itulah nan disebut ghulul (hadiah khianat).” (HR. Abu Daud no. 2943, disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud)

Sebagian ustadz mengatakan bahwa sabda di atas bertindak bagi pegawai negeri maupun pegawai swasta ketika bingkisan tersebut lantaran pekerjaan nan dia lakukan; nan jika diberikan, maka bisa menyebabkan pelanggaran amanah. Syekh Dr. Khalid Al-Mushlih hafizhahullah menjelaskan,

فهذهِ النصوصُ بمجموعِها تدلُ على أنَّ الأصلَ في الهدايا التي تمنحُ للعمالِ والموظفينَ سواءٌ أكانُوا في القطاعِ العامِ كموظفِي الدولةِ، أمْ في القطاعِ الخاصِ كموظفِي الشركاتِ والمؤسساتِ، المنعُ والتحريمُ بذلًا وقبولًا … ولا غرْوَ فإنَّ قبولَ تلكَ الهدايا منْ أكبرِ أسبابِ ضياعِ الأمانةِ وفتحِ بابِ الاتجارِ بمصالحِ الناسِ، والإخلالِ بالواجباتِ والتورطِ في أنواعِ الفسادِ الإداريِّ والوظيفيِّ

“Nash-nash di atas secara keseluruhannya menunjukkan bahwa norma asalnya, bingkisan nan diberikan kepada pekerja dan pegawai, baik pegawai nan mengurusi urusan orang banyak seperti pegawai negeri, maupun pegawai nan mengurusi urusan unik seperti pegawai swasta dan yayasan, maka haram untuk memberi mereka bingkisan dan haram untuk menerimanya … dan tidak diragukan lagi bahwa menerima hadiah-hadiah tersebut termasuk karena nan terbesar terjadinya pelanggaran amanah dan membuka pintu komersialisasi pelayanan masyarakat, pelanggaran kewajiban, dan membawa kepada beragam macam kerusakan dalam manajemen dan tanggung jawab.” (Website: Syekh Khalid Al-Mushlih)

Namun, jika bingkisan nan diberikan tersebut kepada pegawai swasta dan tidak ada potensi timbulnya kezaliman serta pelanggaran amanah, dan atas izin dari atasan, maka dibolehkan.

Syekh Abdurrahman Al-Barrak menjelaskan,

لا يجوز إعطاء العامل هذه الزيادة لأنها تعتبر رشوة منك للعامل حتى يعطيك من الخدمة أو الطعام أكثر مما يعطي غيرك ممن لا يدفع له هذه الزيادة ، وليس للعامل أن يخص أحداً بمزيد خدمة ، وعليه أن يعامل الناس معاملة واحدة . لكن .. إذا انتفت من هذه الزيادة شبهة الرشوة أو المحاباة فإنه لا حرج فيها حينئذ. كما لو قصدت بها الإحسان إلى هذا العامل الضعيف المحتاج وأنت لن تتردد على هذا المطعم

“Tidak boleh memberikan bingkisan kepada pekerja berupa duit tip, lantaran ini termasuk risywah (uang suap). Walaupun dia memberikan bingkisan makanan alias bingkisan pelayanan, maka Anda tetap tidak boleh memberikan duit tip tersebut. Dan tidak boleh seorang pegawai mengkhususkan pelayanan kepada pengguna tertentu. Wajib baginya untuk melayani semua pengguna dengan kadar pelayanan nan sama. Namun, jika tidak ada potensi risywah dan kecenderungan hati dari duit tip ini, maka tidak kenapa mengambilnya. Sebagaimana jika Anda bermaksud untuk melakukan baik kepada pegawai ini, dikarenakan dia orang miskin nan memerlukan dan Anda bukan orang nan bolak-balik ke restoran tersebut.” (Dinukil dari Fatawa Islam Sual wa Jawab, no. 82497)

Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan,

قال أحمد في رواية مهنا: إذا دفع إلى رجل ثوبا ليبيعه، ففعل، فوهب له المشتري منديلا، فالمنديل لصاحب الثوب

“Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya mengatakan: Jika seorang pegawai toko menjual baju kepada pembeli, kemudian setelah itu pembeli menghadiahkan sapu tangan untuk pegawai, maka sapu tangan tersebut adalah milik si pemilik toko.” (Al-Mughni, 5: 82)

Oleh lantaran itu, duit tip dengan syarat-syarat di atas juga diharuskan atas persetujuan pemilik perusahaan. Karena duit tip tersebut pada asalnya adalah milik si pemilik perusahaan. Kesimpulannya, bingkisan alias duit tip boleh diambil jika terpenuhi:

  1. Bukan pegawai negeri;
  2. Tidak ada potensi zalim, kecondongan pada pengguna tertentu dan pelanggaran amanah;
  3. Diizinkan oleh perusahaan.

Adapun pegawai alias penyelenggara negara (ASN), maka tidak boleh sama sekali menerima hadiah, duit tip, dan semua corak gratifikasi. Dan sebagaimana sabda “hadiah bagi pegawai adalah ghulul”, maka pegawai negara nan menerima gratifikasi mendapatkan ancaman dosa nan sama dan balasan nan sama seperti pelaku ghulul.

Korupsi tidak sama dengan mencuri

Pelaku korupsi tidak dijatuhkan balasan pangkas tangan sebagaimana pencuri. Karena dalam Islam, korupsi tidak sama dengan mencuri. Dalam Islam, dikatakan mencuri jika peralatan nan dicuri adalah sesuatu nan disimpan dalam tempat penyimpanan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

لا تقطع اليد في تمر معلق

“Tidak dipotong tangan pencuri andaikan mencuri kurma nan tergantung.” (HR. Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla [11: 323], dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 7398)

Ibnu Mundzir rahimahullah berkata,

و أجمعوا أن القطع إنما يجب على من سرق ما يجب فيه قطع من الحزر

“Para mahir fikih sepakat bahwa balasan potongan tangan diberlakukan hanya bagi pencuri nan mencuri kekayaan dari tempat penyimpanan.” (Al-Ijma’ [129: 615], dinukil dari Al-Wajiiz fil Fiqhi [1: 443])

Maka, koruptor tidak bisa dijatuhi balasan pangkas tangan sebagaimana nan ada dalam ayat,

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِمَا كَسَبَا نَكَالاً مِّنَ اللهِ وَاللهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Laki-laki nan mencuri dan wanita nan mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa nan mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maidah: 38)

Dampak kekayaan haram

Kaum Muslmimin, perlu diingat bahwa kekayaan hasil korupsi adalah kekayaan haram dan bakal membahayakan diri dan juga keluarga. Tidak hanya berdosa, namun pelaku korupsi juga bakal mendapatkan banyak bahaya:

Menjadi sesat

Allah Ta’ala sebutkan dalam al-Qur’an bahwa siapa saja nan menerjang perkara nan Allah haramkan demi kenikmatan bumi dan meninggalkan nan halal, maka dia telah mengikuti langkah-langkah setan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah nan legal lagi baik dari apa nan terdapat di bumi, dan janganlah Anda mengikuti langkah-langkah setan; lantaran sesungguhnya setan itu adalah musuh nan nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 168)

Menjerumuskan ke neraka

Harta haram bakal menjerumuskan Anda ke neraka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

“Sesungguhnya daging badan nan tumbuh berkembang dari sesuatu nan haram bakal berkuasa dibakar dalam api neraka.” (HR. Tirmidzi no. 614. Disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Tirmidzi)

Hilangnya keberkahan

Harta nan haram bakal Allah hilangkan keberkahannya. Sehingga walaupun kekayaan itu banyak dan melimpah, namun bakal lenyap alias sedikit kebaikan nan bisa didapatkan darinya. Allah Ta’ala berfirman tentang kekayaan riba,

يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ

“Allah bakal menghancurkan keberkahan kekayaan riba, dan mengembangkan keberkahan orang nan bersedekah.” (QS. al-Baqarah: 276)

Ibadah tidak diterima jika dilakukan dengan kekayaan haram

Ibadah nan dilakukan dengan kekayaan haram pun tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Doa nan dipanjatkan pun tidak diijabah (dikabulkan) oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana sabda dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan,

أَيُّها النَّاسُ، إنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلَّا طَيِّبًا

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik, dan tidak menerima (amalan) selain dari nan baik.” (HR. Muslim no. 1015)

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلَا صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

“Tidak bakal diterima salat nan dilakukan tanpa bersuci, dan tidak bakal diterima infak nan berasal dari kekayaan ghulul (harta khianat).” (HR. Ahmad [7: 77], disahihkan Syekh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad)

Doanya tertolak

Dalam sabda riwayat Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء : يارب يا رب, ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام, وغذي بالحرام فأنى يستجاله لذلك

“Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyebut seorang nan safar (bepergian) jauh, bajunya compang-camping dan berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya berdoa, ‘Ya Rabbi … ya Rabbi …’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia tumbuh dari kekayaan nan haram. Lantas gimana mungkin doanya dikabulkan?!” (HR. Muslim no. 1015)

Akan diadili di hari kiamat

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

من كانت له مظلمة لأخيه من عرضه أو شيء فليتحلله منه اليوم قبل أن لا يكون دينار ولا درهم إن كان له عمل صالح أخذ منه بقدر مظلمته وإن لم تكن له حسنات أخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه

“Orang nan pernah menzalimi saudaranya dalam perihal apapun, maka hari ini dia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari di mana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut mempunyai kebaikan saleh, amalnya tersebut bakal dikurangi untuk melunasi kezalimannya. Namun, jika dia tidak mempunyai kebaikan saleh, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang nan dia zalimi.” (HR. Bukhari no. 2449)

Dan tetap banyak ancaman lainnya di bumi disebabkan oleh kekayaan haram. Lalu gimana bahayanya di akhirat? Allahul musta’an.

Sudah kaya kok tetap korupsi?

Kadang kita terheran-heran, para pelaku korupsi kebanyakannya adalah orang-orang kaya. Mengapa sudah kaya raya, tetapi tetap saja tetap korupsi? Jawabnya, itulah dunia, tidak pernah puas jika kita berambisi padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Andai bani Adam mempunyai dua lembah nan penuh dengan harta, maka dia bakal mencari lembah nan ketiga. Dan tidak ada nan bisa memenuhi perut bani Adam selain tanah (yaitu kematian).” (HR. Bukhari no. 6436 dan Muslim no. 1048)

Keserakahan manusia terhadap kekayaan lebih parah daripada keserakahan binatang. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

ما ذئبانِ جائعانِ أُرسلا في غنمٍ، بأفسدَ لها من حرصِ المرءِ

على المالِ والشرفِ، لدِينه

“Dua ekor serigala nan dilepas kepada seekor kambing, itu tidak lebih rusak daripada ambisi manusia terhadap kekayaan dan kedudukan nan merusak agamanya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376; dia berkata, “hasan shahih.”)

Dunia itu, jika kita tidak menundukkan pandangan terhadapnya, bakal selalu tampak menggiurkan. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إن الدنيا حلوةٌ خضرةٌ . وإن اللهَ مستخلفُكم فيها . فينظرُ كيف تعملون . فاتقوا الدنيا واتقوا النساءَ . فإن أولَ فتنةِ بني إسرائيلَ كانت في النساءِ

“Sesungguhnya bumi itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya. Sehingga Allah memandang apa nan kalian perbuat (di sana). Maka berhati-hatilah kalian dari tuduhan (cobaan) bumi dan takutlah kalian terhadap tuduhan (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya tuduhan (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah ujian wanita.” (HR. Muslim no. 2742)

Oleh lantaran itu, waspadalah terhadap tuduhan harta. Jadikan alambaka sebagai tujuan.

Wallahu Ta’ala a’lam. Semoga kita semua terhindar dari segala corak korupsi dan kekayaan nan haram. Semoga Allah Ta’ala cukupkan kita dengan kekayaan nan legal dan berkah.

Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wasallam.

Baca juga: Salah Kaprah Menyikapi Dosa Korupsi dan Koruptor

***

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info