Harlah Ke-80, Muslimat NU Tekankan Tiga Peran Strategis untuk Bangun Generasi Emas 2045

Sedang Trending 2 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-80 Muslimat NU nan digelar pada Kamis (2/4/2026) sore berjalan khidmat. Kegiatan nan dirangkaikan dengan aktivitas legal bihalal ini diselenggarakan di laman Kantor PP Muslimat NU, Pengadegan, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan.


Dalam momentum tersebut, Muslimat NU menekankan komitmennya menyiapkan tiga peran strategis dalam membangun generasi emas Indonesia 2045.


Mengusung tema Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian, dan Meneduhkan Peradaban, peringatan ini menegaskan peran Muslimat NU dalam menjawab tantangan zaman.


Ketua PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa pada usia ke-80, Muslimat NU mempunyai peran strategis dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.


Berdasarkan info Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wanita di Indonesia mencapai 49,85 persen dari total populasi. Sementara itu, jumlah anak mencapai 87 juta jiwa alias sekitar 29,6 persen. Artinya, nyaris 70 persen masyarakat Indonesia terdiri dari wanita dan anak-anak, nan menunjukkan peran krusial dan strategis keduanya dalam mewujudkan Indonesia 2045.


"Saya mau membujuk ibu-ibu semua, kita punya peran nan sangat krusial khususnya untuk ibu-ibu Muslimat gimana kita menyiapkan kader-kader kita generasi penerus di tahun 2045," kata Arifah dalam sambutannya.


Menurutnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh gimana anak-anak dididik saat ini, terutama di era digital.


"Pada hari ini dari info nan kita dapat bahwa anak-anak saat ini menjadi salah satu komponen nan menjadi unsur krusial untuk pembangunan Indonesia," ungkapnya.


Ia menambahkan, tantangan nan dihadapi anak-anak saat ini cukup besar. Meskipun pemerintah telah menghadirkan beragam izin perlindungan, peran orang tua tetap sangat dibutuhkan.


Arifah mencontohkan, pada 28 Maret 2026, Komdigi telah menetapkan Peraturan Nomor 6 Tahun 2026 tentang pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.


"Tetapi peraturan ini bisa melangkah dengan baik ketika para ibu para orang tua juga berperan-serta untuk bersama-sama mengawasi dan memberikan perlindungan kepada anak-anak kita," ungkapnya.


Arifah kemudian menegaskan tiga peran utama Muslimat NU. Pertama, menyiapkan generasi penerus nan berkualitas. Kedua, menjadi garda terdepan dalam perlindungan wanita dan anak. Ketiga, memperkuat nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.


"Jaga anak-anak kita agar tetap berada pada arah nan betul sebagai family besar NU, saya mau mengutip sedikit dari apa nan disampaikan oleh Mbah Hasyim Asy'ari bahwa peralatan siapa nan mengurusi NU termasuk Muslimat di dalamnya maka bakal saya anggap sebagai santri," ujarnya.


Ia berambisi seluruh kader Muslimat NU senantiasa mendapatkan keberkahan dan menjadi bagian dari generasi nan husnul khatimah.


"Mudah-mudahan kita menjadi santri-santrinya Mbah Hasyim dan termasuk golongan nan khusnul khotimah bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk anak, mantu dan cucu," ujarnya.


Dorong kemandirian lewat kolaborasi

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan bahwa penguatan kemandirian menjadi konsentrasi utama aktivitas Muslimat NU ke depan.


"Kemandirian Muslimat bukan berfaedah melangkah sendiri, tetapi membangun sinergi, kolaborasi, dan jejaring nan kuat,” kata Khofifah dalam sambutannya.


Salah satu langkah konkret nan tengah disiapkan adalah kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI). Program ini mencakup beragam skema pemberdayaan ekonomi anggota, termasuk tabungan emas dengan sistem angsuran ringan.


"Melalui skema tersebut, personil dapat menabung emas secara berjenjang sesuai kemampuan, dengan nilai nan telah disepakati di awal," ungkapnya.


Ia menilai program ini sebagai pengganti strategis dalam membangun kemandirian ekonomi wanita berbasis komunitas.


Selain itu, kerja sama juga diarahkan pada program pembiayaan ibadah haji dan umrah, nan diharapkan memberikan faedah langsung bagi personil Muslimat NU.


Penekanan utama dari seluruh program ini adalah memastikan kehadiran organisasi memberikan akibat nyata bagi anggotanya.


"Yang terpenting, personil merasakan faedah terlebih dulu dari organisasi,” katanya. Hal itu menjadi prinsip nan diusung.


Lebih lanjut, penguatan kemandirian ini juga didukung melalui pengembangan jejaring, termasuk pembentukan asosiasi guru besar wanita Muslimat NU serta kerjasama dengan beragam lembaga pendidikan dan sektor lainnya.


"Muslimat NU diharapkan bisa menjadi organisasi wanita nan tidak hanya kuat secara sosial dan keagamaan, tetapi juga berdikari secara ekonomi melalui kerjasama nan berkelanjutan," tandasnya.


Sebagai informasi, peringatan Harlah Ke-80 Muslimat NU ini ditandai dengan pemotongan nasi tumpeng oleh Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa.


Rangkaian aktivitas diawali dengan istighotsah. Kegiatan juga diisi dengan santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE