ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Direktur Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid) membujuk wanita Indonesia untuk memperkuat aspirasi publik di tengah beragam situasi global. Hal itu diungkap dalam momentum Halal Bihalal dan Silaturahmi Kebangsaan Perempuan Indonesia, di kediaman Nyai Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ciganjur, Jakarta, pada Kamis (2/4/2026).
Acara halal bihalal ini dihadiri puluhan organisasi wanita dari beragam latar belakang.
Yenny menegaskan bahwa legal bihalal tidak sekadar menjadi tradisi tahunan, melainkan mempunyai makna mendalam sebagai ruang untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menentukan arah gerakan.
Menurutnya, legal bihalal merupakan langkah untuk menempuh jalan nan baik dengan langkah nan baik pula. Tradisi ini, kata Yenny, sejak awal dimaksudkan untuk merajut kembali kebersamaan bangsa setelah menghadapi beragam perbedaan.
“Halal bihalal itu bukan sekadar acara. Ini adalah langkah kita menempuh jalan nan baik dengan langkah nan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam konteks kekinian, pertemuan semacam ini perlu dimaknai lebih luas, tidak hanya sebagai arena silaturahmi, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi pendapat dan tindakan bersama.
Yenny menilai beragam persoalan dunia saat ini berakibat langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk di Indonesia. Karena itu, keterlibatan aktif beragam elemen, termasuk perempuan, menjadi krusial dalam merespons situasi tersebut.
“Kita tidak bisa hanya diam. Kita perlu berkumpul, berpikir bersama, dan menentukan langkah konkret nan bisa dilakukan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa bunyi masyarakat, termasuk perempuan, kudu terus diperkuat agar dapat didengar dalam beragam proses pengambilan kebijakan, baik di tingkat nasional maupun global.
Yenny juga menekankan pentingnya membangun aktivitas kolektif nan berangkat dari kesadaran bersama. Menurutnya, wanita mempunyai peran strategis dalam mendorong perubahan sosial nan lebih inklusif dan berkeadaban.
“Kita tidak bisa hanya berakhir pada apa nan kita miliki, tetapi kudu memberi faedah bagi masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, dia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi info di ruang digital, termasuk maraknya konten manipulatif seperti video berbasis kepintaran buatan (AI). Ia membujuk masyarakat untuk lebih kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh info nan belum terverifikasi.
Menurutnya, penguatan literasi digital menjadi bagian krusial dalam menjaga kualitas ruang publik agar tetap sehat dan konstruktif.
Yenny juga berbagi refleksi individual tentang nilai-nilai nan ditanamkan dalam keluarganya, khususnya keteladanan Abdurrahman Wahid. Ia menyebut kesederhanaan, kerja keras, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai prinsip nan terus dijaga.
Ia berambisi nilai-nilai tersebut dapat menjadi inspirasi bagi aktivitas wanita dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.
Lebih lanjut, Yenny menegaskan bahwa aktivitas ini tidak boleh berakhir sebagai seremoni semata, tetapi kudu bisa melahirkan akibat nan lebih luas melalui kerjasama antarorganisasi perempuan.
“Kita mau silaturahmi ini memberi akibat nyata, memperkuat peran perempuan, dan menghadirkan kontribusi bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia pun membujuk seluruh peserta untuk melanjutkan perjuangan para tokoh wanita terdahulu dengan terus bekerja, berkolaborasi, dan memperkuat peran dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.
“Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan tersebut, dengan terus datang dan berkontribusi untuk masyarakat,” pungkasnya.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·