ARTICLE AD BOX
Pidie, NU Online
Di kembali renyahnya emping melinjo, atau dikenal masyarakat Aceh sebagai kerupuk mulieng, tersimpan cerita panjang tentang tradisi, ekonomi, dan ketekunan warga. Makanan sederhana ini bukan sekadar camilan, tetapi telah menjadi identitas kuliner nan melekat kuat di Kabupaten Pidie.
Di sejumlah gampong di Pidie, aktivitas mengolah melinjo menjadi emping tetap dilakukan secara tradisional. Suara tumbukan biji melinjo nan dipipihkan terdengar nyaris setiap hari, menjadi irama unik kehidupan masyarakat setempat.
Emping melinjo dikenal lantaran cita rasanya nan gurih sekaligus kandungan nutrisinya nan cukup tinggi, seperti serat, protein, unsur besi, vitamin B, serta kalsium dan fosfor. Tak heran jika emping tidak hanya dinikmati sebagai camilan, tetapi juga menjadi pengganti pangan bagi sebagian masyarakat.
Ketua PCNU Pidie, Tgk Isafuddin, menilai emping melinjo merupakan bagian dari kekayaan budaya nan perlu dijaga dan dikembangkan.
“Emping melinjo ini bukan hanya makanan, tetapi bagian dari identitas masyarakat Pidie. Di dalamnya ada nilai tradisi, kerja keras, dan kearifan lokal nan diwariskan turun-temurun,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, emping melinjo juga menunjukkan keahlian masyarakat dalam mengelola potensi lokal menjadi produk berbobot ekonomi tinggi. Bahkan, bagi banyak family di Pidie, emping melinjo menjadi sumber penghidupan.
Dari Tradisi ke Penggerak Ekonomi
Di Kabupaten Pidie, emping melinjo berkembang menjadi sektor ekonomi rakyat nan signifikan. Ribuan penduduk terlibat dalam rantai produksinya, mulai dari pengumpulan bahan baku, pengolahan, hingga pemasaran.
Beberapa gampong apalagi dikenal sebagai sentra produksi nan memasok emping ke beragam wilayah di Indonesia. Tak sedikit pula produk emping melinjo Pidie nan telah menembus pasar luar wilayah hingga mancanegara.
Kerupuk mulieng juga menjadi oleh-oleh favorit bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Dalam momentum mudik, emping melinjo kerap dibawa sebagai buah tangan untuk family di kampung laman maupun perantauan.
Penggiat sekaligus pengusaha kuliner Pidie, Tgk Mukhlisuddin Marzuki, menyebut emping melinjo mempunyai potensi besar untuk terus berkembang, terutama dengan support penemuan dan pemasaran nan tepat.
“Emping melinjo dari Pidie punya cita rasa khas. Jika dikelola dengan baik, ini bisa menjadi produk unggulan nan bisa bersaing di pasar nasional apalagi internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelaku upaya sekarang mulai memanfaatkan platform digital, seperti marketplace, untuk memperluas jangkauan pasar.
“Sekarang sudah banyak nan menjual secara daring. Ini kesempatan besar untuk memperkenalkan emping melinjo Pidie ke pasar nan lebih luas,” katanya.
Meski tetap mempertahankan langkah produksi tradisional, emping melinjo di Pidie terus berkembang, baik dari sisi rasa, kemasan, maupun strategi pemasaran. Berbagai upaya juga dilakukan, termasuk melalui pagelaran emping melinjo nan rutin digelar untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Penguatan Ekonomi dan Pelestarian Budaya
Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk Iskandar Zulkarnaen, menilai emping melinjo mempunyai nilai strategis, tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga budaya.
“Produk seperti emping melinjo kudu kita jaga dan kembangkan. Ini bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari identitas masyarakat Aceh nan mempunyai nilai ekonomi dan budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan produk lokal menjadi bagian krusial dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
“Jika dikelola dengan baik, produk lokal ini bisa menjadi kekuatan ekonomi umat. Karena itu, perlu support semua pihak agar terus berkembang,” katanya.
Sementara itu, Tgk Isafuddin menegaskan bahwa pengembangan emping melinjo kudu tetap menjaga akar tradisi.
“Modernisasi itu penting, tetapi jangan sampai menghilangkan nilai tradisi. Justru kekuatan emping melinjo ada pada budaya nan melahirkannya,” ujarnya.
Kabupaten Pidie pun kerap dijuluki sebagai Kota Emping Melinjo Aceh, mencerminkan kuatnya identitas wilayah dengan produk tersebut.
Bagi masyarakat Pidie, emping melinjo bukan sekadar makanan, melainkan simbol ketahanan ekonomi dan kebanggaan daerah. Di tengah arus modernisasi, emping melinjo tetap memperkuat sebagai produk lokal nan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Harapannya, emping melinjo tidak hanya dikenal sebagai camilan, tetapi juga sebagai produk unggulan wilayah nan mempunyai daya saing global,” tutup Mukhlisuddin.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·