ARTICLE AD BOX
Tangerang, NU Online
Pelepasan ekspor ramuan dan makanan siap saji (ready to eat/RTE) untuk kebutuhan jamaah haji 2026 menjadi langkah nyata pemerintah mendorong UMKM Indonesia masuk ke pasar global. Program ini sekaligus membuka akses produk dalam negeri ke rantai pasok internasional penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, menegaskan bahwa aktivitas ini merupakan bagian dari strategi penguatan sektor riil melalui ekosistem ekonomi haji.
“Kami mau memastikan ekosistem haji dan umrah tidak hanya berakibat pada jasa ibadah, tetapi juga memberikan faedah ekonomi nyata bagi pelaku upaya di dalam negeri,” ujar Jaenal Effendi, Kamis (2/4/2026).
Produk nan diekspor meliputi ramuan instan dan makanan siap saji nan telah melalui proses standardisasi ketat, baik dari sisi kualitas, ketahanan produk, maupun sertifikasi legal nan diakui secara internasional.
Selain itu, aktivitas ini juga menjadi uji coba sistem logistik untuk memastikan kesiapan pengedaran produk Indonesia ke Arab Saudi, mulai dari proses produksi, pengemasan, hingga ketepatan waktu pengiriman.
“Kegiatan ini menjadi pembuktian bahwa produk UMKM Indonesia bisa bersaing dan memenuhi standar global, khususnya untuk kebutuhan jamaah haji,” jelasnya.
Program ini melibatkan beragam pihak, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN). PT Pos Indonesia berkedudukan dalam pengelolaan rantai pasok, sementara PT Garuda Indonesia mendukung pengedaran melalui jalur udara.
Sinergi tersebut menciptakan ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir—mulai dari petani rempah, pelaku UMKM, hingga sektor logistik.
Pemerintah menilai sektor haji dan umrah mempunyai potensi ekonomi besar untuk mendorong pertumbuhan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.
“Ke depan, kami berambisi semakin banyak UMKM nan terlibat dan bisa meningkatkan kapabilitas produksinya,” tambah Jaenal.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·