Detoks Alami Pascalebaran, Dokter Tekankan Pentingnya Pola Makan Seimbang

Sedang Trending 3 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Lontong opor, semur, dan sambal kentang telur balado menjadi hidangan unik nan identik dengan seremoni Lebaran berbareng keluarga. Namun, makanan nan condong gurih, tinggi lemak, dan kaya lemak jenuh tersebut kerap menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan tubuh.


Untuk mengatasi konsumsi makanan berminyak dan manis selama Lebaran, sebagian masyarakat memilih melakukan detoksifikasi, ialah proses netralisasi serta pengeluaran racun dari dalam tubuh.


Secara bahasa, detoxification berfaedah menghilangkan racun. Namun, gula dan lemak sejatinya bukanlah unsur beracun, melainkan tetap dibutuhkan tubuh dalam proses metabolisme.


Dokter umum di salah satu rumah sakit swasta di Rembang, Iffa Luthfiyah, menilai pemahaman mengenai program detoks perlu diluruskan, terutama di kalangan masyarakat awam. Menurutnya, konsumsi gula dan lemak berlebih memang perlu dikendalikan, tetapi tidak kudu dihilangkan sepenuhnya.


“Sudah ada pedoman piring sehat dari World Health Organization (WHO). Saat Lebaran, biasanya seseorang mengonsumsi makanan dengan porsi nan kurang seimbang antara karbohidrat, protein, lemak, dan serat,” ujarnya.


Ia mencontohkan menu lontong opor, di mana lontong sebagai sumber karbohidrat disandingkan dengan lauk bersantan nan mengandung protein sekaligus lemak. Namun, kandungan lemak dalam hidangan tersebut condong didominasi lemak jenuh nan jika dikonsumsi berlebihan tidak baik bagi tubuh.


“Jika dikonsumsi berlebihan, dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Dari menu lontong opor saja, kebutuhan serat seperti sayur dan buah belum terpenuhi,” jelasnya.


Iffa menekankan bahwa prinsip utama nan perlu diterapkan adalah diet seimbang, bukan mengikuti tren diet tertentu. Variasi makanan diperlukan agar kebutuhan makronutrien tubuh tetap terpenuhi.


“Jangan terlena dengan menu Lebaran nan tinggi karbohidrat dan lemak. Camilan alias kue Lebaran juga umumnya tinggi gula dan lemak,” tambahnya.


Ia juga mengingatkan bahwa penerapan diet seimbang berjuntai pada kondisi kesehatan masing-masing individu. Bagi orang sehat, cukup mengikuti pedoman piring sehat dengan ragam menu, disertai pola tidur dan manajemen stres nan baik.


“Sementara bagi penderita glukosuria melitus, hiperkolesterolemia, obesitas, alias penyakit metabolik lainnya, diet perlu diatur secara unik sesuai rekomendasi master alias mahir gizi,” ujarnya.


Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa organ tubuh sebenarnya bisa mengatur metabolisme gula dan lemak secara alami. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan akibat penyakit seperti glukosuria melitus, dislipidemia, dan gangguan metabolik lainnya.


“Dalam jangka panjang, penyakit metabolik dapat muncul disertai komplikasi nan lebih kompleks,” katanya.


Karena itu, masyarakat dianjurkan mengatur pola makan secara mindful, termasuk membatasi konsumsi gula untuk mencegah lonjakan kadar gula darah.


“Makan makanan utama terlebih dahulu, seperti nasi, lauk, dan sayur, lampau camilan manis sebagai penutup. Lebih baik memperbanyak konsumsi buah agar pencernaan tetap baik serta membatasi asupan lemak berlebih,” jelasnya.


Selain itu, konsumsi saribuah buah dan susu murni dapat menjadi pelengkap dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang.


“Intinya, lebih menekankan pentingnya diet seimbang daripada program detoks. Pola makan, pola tidur, dan manajemen stres nan baik menjadi kunci,” pungkasnya.


Ia juga menyarankan, jika sudah terlanjur mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, segera lakukan pemeriksaan kesehatan seperti kadar gula darah, kolesterol, dan masam urat. Selain itu, lakukan mitigasi dengan mengatur pola makan sehat, berolahraga secara teratur, dan mengelola stres untuk menjaga kesehatan tubuh.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE