ARTICLE AD BOX
Mengunjungi Baitullah al-Haram, Kakbah, merupakan angan setiap Muslim. Di antara penyempurna rukun dari kepercayaan Islam adalah ibadah haji. Sebagian ustadz juga beranggapan bahwa umrah menjadi tanggungjawab bagi muslim nan mampu. Dengan begitu, kita seyogyanya mempelajari ibadah-ibadah apa saja nan dapat kita lakukan ketika melakukan ibadah haji dan umrah.
Di antara nan menjadi pembahasan belakangan ini adalah sabda tentang angan ketika memandang Kakbah. Bagaimana derajat sabda tersebut di kalangan para ulama? Untuk menjawab perihal ini, kita perlu terlebih dulu mengetahui lafaz sabda nan sering dinukil dalam masalah ini. Di antara lafaz nan paling masyhur adalah diambil dari hadis,
كان النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ إذا رأَى البَيتَ قال: اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا
“Ya Allah, tambahkanlah untuk rumah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kewibawaan. Tambahkan pula bagi orang nan memuliakan dan memuliakannya dengan berhaji alias berumrah. Tambahkanlah kemuliaan, penghormatan, keagungan, kewibawaan, serta kebaikan.” [1]
Doa ini sering disebut sebagai angan nan dibaca ketika pertama kali memandang Kakbah. Bahkan, sebagian jamaah haji dan umrah menganggapnya sebagai bagian dari sunah nan dianjurkan secara khusus. Namun, benarkah angan ini berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam? Bagaimanakah riwayat sabda ini?
Riwayat hadis
Pertama, sabda Makhul
Hadis ini diriwayatkan dari Makhul rahimahullah. Riwayat tersebut disebutkan oleh Ibn Abi Shaybah dalam al-Mushannaf [2]. Beliau meriwayatkan dari Waki‘, dari Sufyan, dari seorang laki-laki dari masyarakat Syam, dari Makhul, bahwa andaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang Kakbah, beliau membaca,
اللهم زد هذا البيت تشريفًا وتعظيمًا ومهابة، وزد من حجه أو اعتمره تشريفًا وتعظيمًا وتكريمًا وبرًّا
Riwayat ini dha’if lantaran dua sebab:
- Makhul adalah seorang tabi’in, sementara beliau meriwayatkan langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (tanpa perantara sahabat). Dengan demikian, riwayat ini termasuk sabda mursal, dan sabda mursal adalah bagian dari sabda dha’if.
- Dalam sanadnya terdapat perawi nan tidak dikenal, ialah “seorang laki-laki dari masyarakat Syam”, sehingga menambah kelemahan riwayat tersebut. Riwayat ini juga disebutkan oleh Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra [3]. Dalam sanadnya terdapat Abu Sa‘id asy-Syami. Akan tetapi, Abu Sa‘id asy-Syami dinilai sebagai pendusta. Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani berbicara dalam at-Talkhis al-Habir [4]: “Kadzab (pendusta).” Dengan demikian, jalur Makhul ini tidak bisa dijadikan hujjah.
Kedua, sabda Ibnu Juraij
Hadis ini diriwayatkan dari Ibn Juraij rahimahullah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat tersebut disebutkan dalam Musnad Syafi’i melalui susunan Abu Said Sanjar bin Abdullah al-Nashiri al-Jawli [5], dari Sa‘id bin Salim, dari Ibnu Juraij. Riwayat ini juga dibawakan oleh al-Baihaqi rahimahullah dalam al-Sunan al-Kubra [6]. Sanad ini sahih sampai kepada Ibnu Juraij. Sa‘id bin Salim dinilai tsiqah oleh Yahya bin Ma‘in dan dinilai “la ba’sa bihi” oleh an-Nasa’i. Namun, cacatnya terletak pada riwayat Ibnu Juraij dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Juraij adalah seorang tabi’in, sehingga riwayatnya langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk sabda mu’dhal, ialah sabda nan gugur dua perawi alias lebih secara berurutan dalam sanadnya. Dan sabda mu’dhal termasuk sabda dha’if. Al-Hafizh Ibnu Hajar berbicara dalam at-Talkhis al-Habir,
وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم
“Riwayat ini mu’dhal antara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [7]
Al-Baihaqi juga menyatakan bahwa riwayat tersebut terputus (munqathi‘). Dengan demikian, jalur Ibnu Juraij juga tidak dapat dijadikan dalil.
Berdoa pada saat memandang Kakbah
Lalu, setelah mengetahui bahwa angan memandang Kakbah mempunyai derajat nan mursal dan mu’dhal alias dha’if nan tidak bisa menjadi sebuah rujukan, gimana dengan norma bermohon ketika memandang Kakbah?
Berdoa pada saat memandang Kakbah pernah dilakukan oleh Nabi sebagaimana nan diriwayatkan oleh Imam Muslim, dalam sabda nan panjang diceritakan bahwa,
فَلَمَّا فَرَغَ مِن طَوَافِهِ أَتَى الصَّفَا، فَعَلَا عليه حتَّى نَظَرَ إلى البَيْتِ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَجَعَلَ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيَدْعُو بما شَاءَ أَنْ يَدْعُوَ
“Ketika beliau selesai dari thawaf, beliau mendatangi Shafa, lampau naik ke atasnya hingga memandang Kakbah. Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya, lampau memuji Allah dan bermohon dengan angan apa saja nan beliau kehendaki.” [8]
Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memang bermohon ketika memandang Kakbah. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa kejadian tersebut bukan dalam konteks pertama kali memandang Kakbah, melainkan ketika beliau berada di atas Shafa setelah menyelesaikan thawaf. Oleh lantaran itu, sabda ini tidak bisa dijadikan dalil adanya angan unik ketika pertama kali memandang Kakbah.
Namun, dari sabda ini dapat diambil faidah krusial bahwa bermohon ketika memandang Kakbah secara umum adalah sesuatu nan diperbolehkan. Bahkan, tempat dan momen tersebut termasuk di antara waktu dan kondisi nan mempunyai kesempatan besar untuk dikabulkannya doa.
Sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fatawa Syabakah Islamiyyah,
يدعو بما شاء، فالله سبحانه وتعالى قد أمر عباده بدعائه ووعدهم بالإجابة، وهذا المشهد – وهو مشاهدة الكعبة- من أفضل أماكن الدعاء
“Seseorang boleh bermohon dengan angan apa saja nan dia kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bermohon kepada-Nya dan Dia pun menjanjikan bakal mengabulkannya. Dan momen ini (yaitu saat memandang Kakbah) termasuk salah satu tempat dan waktu terbaik untuk berdoa.” [9]
Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman juga menyebut dalam Syarh Fath al-Majid,
ليس لزيارة البيت الحرام أدعية معينة تحفظ، وقد جاء في رؤية البيت دعاء في حديث سنده ضعيف، وعلى الإنسان أن يجتهد في الدعاء الذي يناسبه ويحتاجه لنفسه فيدعو الله به
“Tidak ada doa-doa unik nan kudu dihafal ketika mengunjungi Baitul Haram. Memang ada riwayat tentang angan ketika pertama kali memandang Kakbah, namun sanad sabda tersebut lemah. Oleh lantaran itu, seseorang hendaknya bersungguh-sungguh memanjatkan angan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan dirinya, memohon kepada Allah dengan angan nan dia rasa paling dia perlukan.” [10]
Kesimpulan
Pertama, angan nan terkenal dibaca ketika memandang Kakbah tidaklah sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Riwayat-riwayat nan menyebut angan tersebut berputar pada jalur Makhul dan Ibnu Juraij, nan keduanya tidak tersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (mursal dan mu’dhal), apalagi sebagian jalurnya mengandung perawi nan lemah dan tertuduh. Oleh lantaran itu, angan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai sunah unik nan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kedua, bermohon ketika memandang Kakbah pada asalnya tidak mengapa. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat sahih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermohon ketika memandang Kakbah dari atas Shafa. Meskipun bukan dalam konteks pertama kali memandang Kakbah, sabda ini menunjukkan bolehnya bermohon secara umum. Maka, seorang muslim boleh bermohon dengan angan apa saja sesuai kebutuhan dan hajatnya, tanpa mengkhususkan lafaz tertentu alias meyakini adanya tuntunan unik dalam momen tersebut.
Ketiga, andaikan seseorang mau membaca angan nan diriwayatkan oleh Imam asy-Syafi’i lantaran maknanya nan baik dan sesuai dengan keagungan Kakbah, nan berbunyi,
اللَّهمَّ زِدْ هذا البَيتَ تَشريفًا وتَعظيمًا وتَكريمًا ومَهابةً، وزِدْ مِن شَرَفِه وكَرَمِه مِمَّن حَجَّه أوِ اعتَمَرَه؛ تَشريفًا وتَكريمًا وتَعظيمًا ومَهابةً وبِرًّا
maka perihal itu tidak mengapa. Namun, nan perlu ditekankan adalah tidak boleh meyakini bahwa angan tersebut merupakan sunah unik ketika memandang Kakbah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam alias mempunyai keistimewaan tertentu nan tidak didasarkan pada dalil nan sahih.
Baca juga: Mengenal Baitul Makmur: Ka’bah Penduduk Langit
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Imam al-Bayhaqi, as-Sunan as-Shaghir, 2: 171.
[2] Imam Ibn Abi Shaybah, al-Mushannaf, no. 30240, 15: 317.
[3] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.
[4] Imam Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 242.
[5] Imam Abu Said Sanjar, Musnad al-Imam al-Shafi’i (Tartib Sanjar), hal. 125.
[6] Imam al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, 9: 524.
[7] Ibn Hajar al-Asqalani, at-Talkhis al-Habir, 2: 526.
[8] Muslim, Shahih Muslim, no. 1780.
[9] Lajnah al-Fatwa bi al-Shabakah al-Islamiyyah, Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah, 10: 900.
[10] Abd Allah bin Muhammad al-Ghunayman, Sharh Fath al-Majid, 4: 141.
Daftar Pustaka
Ibn Abi Shaybah. al-Mushannaf. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Ibn Hajar al-Asqalani. at-Talkhis al-Habir. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Imam Abu Said Sanjar. Musnad al-Imam al-Shafi‘i. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Muslim ibn al-Hajjaj. Shahih Muslim. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Bayhaqi. al-Sunan al-Kubra. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Bayhaqi. as-Sunan as-Saghir. Tahqiq ‘Abd al-Mu‘ti Amin Qal‘aji. Cet. 1. 4 jilid. Karachi: Jami‘ah ad-Dirasat al-Islamiyyah, 1410/ 1989.
Abd Allah ibn Muhammad al-Ghunayman. Sharh Fath al-Majid. Transkrip pelajaran audio oleh Islamweb.
Islamweb. Fatawa al-Shabakah al-Islamiyyah. Disusun oleh Lajnah al-Fatwa. Diakses melalui http://www.islamweb.net .
English (US) ·
Indonesian (ID) ·