Awal Kehidupan Rasulullah: Kelahiran dan Masa Penyusuan di Bani Sa’d

Sedang Trending 20 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Setelah sebelumnya kita membahas sosok ayah Rasulullah ﷺ, Abdullah bin Abdul Muththalib, pada tulisan ini kita bakal mulai menelusuri kisah kehidupan beliau ﷺ sejak awal. Pembahasan diawali dari peristiwa kelahiran beliau, kemudian bersambung hingga masa penyusuan di perkampungan Halimah as-Sa’diyah.

Kelahiran Nabi Muhammad

Rasulullah, pemimpin para Nabi, lahir di rumah Abu Thalib, perkampungan Bani Hasyim di Makkah pada pagi hari Senin 9 Rabi’ul Awwal pada awal tahun terjadinya peristiwa gajah. Beliau ﷺ lahir bertepatan dengan masa empat puluh tahun setelah masa kekuasaan Kisra Anusyirwan. Kelahiran beliau ﷺ bertepatan dengan tanggal 20 alias 22 April 571 M, sebagaimana diteliti oleh ustadz besar Muhammad Sulaiman al-Manshurfuri dan mahir falak Mahmud Pasha.

Aminah, ibu Rasulullah ﷺ, menceritakan tatkala kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, “Ketika saya melahirkannya, keluar suatu sinar dari kemaluanku nan menerangi istana-istana di negeri Syam.”

Yang membantu proses kelahirannya adalah asy-Syifa’ (الشفاء), ibu dari Abdurrahman bin Auf. Setelah melahirkan, Aminah mengutus seseorang kepada Abdul Muththalib, kakek Nabi ﷺ untuk mengabarkan berita ceria tersebut kepadanya bakal kelahiran cucunya. Abdul Muththalib pun mendatanginya dengan gembira, lampau membawanya masuk ke dalam Kakbah, bermohon kepada Allah serta berterima kasih kepada-Nya. Kemudian Abdul Muththalib memberinya nama “Muhammad” kepadanya. Padahal, nama tersebut tidak dikenal oleh bangsa Arab. Allah berkemauan mewujudkan apa nan telah ditetapkan-Nya dan disebutkan dalam kitab-kitab para Nabi sebelumnya, seperti Taurat dan Injil, sehingga Allah mengilhamkan Abdul Muththalib untuk menamainya dengan nama tersebut. Beliau ﷺ dikhitan pada hari ketujuh sebagaimana kebiasaan nan dilakukan oleh bangsa Arab.

Pengasuh beliau ﷺ adalah Ummu Aiman, budak wanita milik ayahnya, Abdullah. Wanita pertama nan menyusui Rasulullah ﷺ setelah ibunya adalah Tsuwaibah, budak wanita milik Abu Lahab. Sebelumnya, Tsuwaibah juga telah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib, kemudian setelahnya Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi.

Tradisi penyusuan di kalangan bangsa Arab

Kebiasaan masyarakat Arab nan tinggal di perkotaan adalah mencarikan ibu susuan bagi anak-anak mereka. Hal ini bermaksud untuk menjauhkan anak-anak mereka dari penyakit-penyakit nan ada di perkotaan, sehingga tubuh mereka menjadi lebih kuat, saraf-saraf mereka lebih kokoh, dan mereka dapat menguasai bahasa Arab nan fasih sejak kecil.

Abdul Muththalib pun mencarikan ibu susuan untuk Rasulullah ﷺ, lampau menyerahkan beliau kepada seorang wanita dari Bani Sa’d bin Bakr, ialah Halimah binti Abi Dzu’aib (حليمة بنت أبي ذؤيب) berbareng suaminya, al-Harits bin Abdul ‘Uzza (الحارث بن عبد العزى) nan dikenal dengan kunyah Abu Kabsyah (أبو كبشة) dari kabilah nan sama.

Rasulullah ﷺ mempunyai beberapa kerabat sepersusuan, ialah Abdullah bin al-Harits (عبد الله بن الحارث), Anisah binti al-Harits (أنيسة بنت الحارث), Abu Sufyan bin al-Harits bin Abdul Muththalib (أبو سفيان بن الحارث بن عبد المطلب), dan Hudzafah binti al-Harits (حذافة بنت الحارث) nan dikenal dengan julukan asy-Syaima’ (الشيماء). Hudzafah juga menjadi pengasuh Rasulullah ﷺ.

Perjalanan Halimah mencari anak susuan

Halimah memandang keberkahan dari diri Rasulullah ﷺ nan sangat menakjubkan. Awalnya, dia keluar dari kampungnya berbareng suami dan anaknya nan tetap kecil, serta beberapa wanita Bani Sa’d bin Bakr untuk mencari anak susuan. Ketika itu, terjadi paceklik di kampungnya dan tidak tersisa apa pun untuk mereka. Halimah berangkat dengan membawa seekor unta tua dan menunggangi seekor keledai betina nan lemah.

Keseharian family Halimah sangat memprihatinkan. Mereka tidak bisa tidur di malam hari lantaran anaknya terus menangis akibat kelaparan. Wanita tersebut tidak bisa mengeluarkan air susu untuk mengisi perut anaknya. Unta nan dimilikinya pun juga tidak mengeluarkan setetes susu pun untuk mengganjal perut sang anak. Dalam kondisi nan begitu beratnya, Halimah tetap berambisi turunnya hujan dan munculnya kelapangan.

Halimah berangkat dengan keledai tersebut. Keledai itu melangkah dengan sangat lambat sehingga rombongan merasa keberatan karenanya. Sesampainya di Makkah, para wanita segera mencari anak susuan ke masyarakat di sana. Setiap wanita dari Bani Sa’d tersebut telah ditawari untuk menerima Rasulullah ﷺ sebagai anak susuannya. Namun, tidak ada nan mau menerimanya lantaran beliau adalah anak yatim. Alasannya adalah para ibu susu ini mengharapkan hadiah dari ayah si anak. Para wanita itu berkata, “Ia adalah anak yatim. Apa nan bisa diberikan oleh ibu dan kakeknya?”

Keberkahan Rasulullah di Bani Sa’d

Setelah beberapa lama di Makkah, semua wanita Bani Sa’d telah mendapatkan anak susuan selain Halimah. Ketika rombongan wanita susuan itu hendak kembali ke kampungnya, dia tidak suka jika kembali dengan tangan kosong tanpa membawa anak susuan. Akhirnya, dia mengambil anak yatim tersebut sebagai anak susuannya. Suaminya lampau mendukungnya dan mendoakan semoga Allah memberikan keberkahan melalui anak yatim tersebut.

Setelah Halimah mengambil beliau, kembali ke tunggangannya, dan meletakkannya di pangkuannya, tiba-tiba dia mendapati bahwa payudaranya penuh dengan susu. Rasulullah ﷺ pun menyusu hingga kenyang. Anaknya kemudian turut menyusu hingga kenyang. Lalu keduanya tidur, padahal sebelumnya wanita tersebut tidak bisa tidur lantaran anaknya.

Suami Halimah kemudian mendatangi untanya dan mendapati bahwa rupanya dia penuh dengan susu. Ia memerahnya dan meminumnya sampai mereka kenyang dan puas. Itu adalah malam terbaik nan mereka lalui. Pada pagi hari, suaminya berkata, “Ketahuilah, demi Allah, wahai Halimah! Sungguh Anda telah mengambil seorang jiwa nan penuh keberkahan.” Halimah pun menimpali, “Demi Allah, sesungguhnya saya juga berambisi demikian.”

Kemudian rombongan tersebut berangkat menuju kampungnya. Halimah tetap menunggangi kendaraan nan sama, ialah keledai betinanya. Namun ajaibnya, keledai itu melangkah dengan sangat sigap sampai mendahului kendaraan rombongan lainnya. Teman-temannya sampai memintanya untuk memelankan tunggangannya itu.

Sesampainya di kampungnya dengan membawa anak tersebut, Halimah mendapati kambing-kambingnya kembali dari padang dalam keadaan kenyang dan penuh susu. Mereka pun memerah dan meminumnya, sementara orang lain tidak mendapati setetes pun susu dari ternaknya. Keberkahan tersebut terus dia rasakan sampai berlalu dua tahun. Setelah itu, Halimah menyapih Rasulullah ﷺ. Beliau tumbuh dengan pertumbuhan nan tidak seperti anak-anak biasa. Belum genap dua tahun, beliau telah menjadi anak nan kuat.

Kehadiran Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi seluruh alam. Sejak masa awal kehidupannya, telah tampak beragam corak keberkahan nan menyertai beliau ﷺ, di antaranya nan dialami oleh family Halimah. Insyaallah, kelanjutan kisah ini bakal dibahas pada tulisan berikutnya. Wallahu a’lam.

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

  • ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.
  • Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.

Link tulisan terkait:

Nama dan Nasab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Sejarah Penamaan “Muhammad” Untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam

Perselisihan Ulama Mengenai Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Perbedaan Ulama Mengenai Tanggal Lahir Nabi

Tanggal Kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Kapan Tanggal Lahir Nabi Muhammad?

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info