ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Pascapengumuman seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN), sejumlah sekolah kerap menampilkan ucapan selamat melalui banner kepada siswa nan dinyatakan lolos.
Namun di sisi lain, siswa nan tidak lolos alias tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sering kali luput dari perhatian, apalagi condong diposisikan sebagai “kelas dua”.
Fenomena ini mendapat sorotan dari seorang aktivis pendidikan sekaligus Co-Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Ia menilai praktik tersebut sebagai corak diskriminasi nan berakar dari budaya dan sistem pendidikan nan terlalu menekankan capaian nan berkarakter material dan terukur.
Menurutnya, orientasi pendidikan seperti ini tidak lepas dari pengaruh pendekatan lama nan berkembang sejak revolusi industri 2.0, di mana kualitas sumber daya manusia dinilai berasas parameter nomor dan capaian formal.
"Sumber daya manusia (SDM) nan baik seolah-olah adalah nan memenuhi kriteria nan ditetapkan dalam angka. Misal SMQ (Standar Mutu Pendidikan) nan baik dihitung berasas jumlah anak nan masuk universitas favorit, demikian juga SMP nan baik, nan banyak piala dan prestasi serta muridnya banyak diterima di SMA favorit," jelasnya kepada NU Online pada Kamis (2/4/2026) hari ini.
"Semuanya diukur dari sesuatu nan dilihat dan diukur. Itu namanya pendekatan human capital," tandasnya.
Ia menambahkan, kejuaraan nan berfokus pada capaian, peringkat, jumlah prestasi, serta eksposur terhadap keberhasilan tersebut pada akhirnya hanya bermuara pada pengesahan eksternal.
"Kompetisi ini menyebabkan diskriminasi besar-besaran pada anak-anak nan marginal. Misal tidak mampu, alias kompetensinya bukan di akademik," jelasnya.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini kemudian mengutip pemikiran ahli ekonomi dan filsuf India, Amartya Sen, nan menekankan bahwa kemiskinan tidak semata-mata berangkaian dengan kondisi ekonomi, tetapi juga ketidakmampuan manusia untuk berkembang secara utuh.
Ia mencontohkan, siswa nan unggul secara akademik tetapi tidak mempunyai empati, mengalami kekosongan batin, alias kesulitan berinteraksi sosial, juga dapat dikategorikan sebagai corak kemiskinan.
"Itu juga kemiskinan kompetensi alias bisa juga terjadi kemiskinan kompetensi moral," ungkapnya.
Lebih lanjut, Novi menekankan pentingnya pergeseran paradigma pendidikan, dari pendekatan human capital (capitalism approach) menuju pendekatan kapabilitas (capability approach) sebagaimana digagas oleh Amartya Sen. Pendekatan ini menekankan aspek-aspek nan tidak selalu dapat diukur secara kuantitatif.
"Percuma anak punya sepeda bagus dan banyak, jika dia tidak merasa kondusif mengendarai sepeda itu di jalanan. Artinya, rasa kondusif mestinya menjadi sebuah budaya nan dihadirkan di pendidikan," terangnya.
"Gedung besar, banyak, tapi anak-anak tidak punya kemerdekaan berpikir?" lanjutnya mempertanyakan.
Ia juga menyoroti pentingnya pembentukan moral, karakter, serta aspek perkembangan manusia lainnya nan tidak kasatmata dan tidak selalu terukur dalam sistem pendidikan.
"Misal kesehatan, ketenangan, rasa mereka, integritas, hubungan sosial, dan lain-lain," tuturnya.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·