Aksi Kamisan Ke-905, Aktivis Ungkap Teror Buzzer hingga Ancaman terhadap Perempuan

Sedang Trending 2 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Penulis dan aktivis Kalis Mardiasih mengungkapkan pengalaman menghadapi teror buzzer serta ancaman terhadap wanita dalam orasi pada Aksi Kamisan Ke-905 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/4/2026).


Kalis menilai, pola serangan digital terhadap masyarakat sipil saat ini jauh lebih masif dan berjalan lebih lama dibandingkan sebelumnya. Kalis menyebut, serangan buzzer nan dialaminya tidak hanya terjadi dalam waktu singkat, tetapi bersambung hingga berbulan-bulan.


Ia membandingkan situasi tersebut dengan periode pemerintahan sebelumnya, ketika serangan serupa condong mereda dalam hitungan hari.


"Kalau di pemerintahan nan sebelumnya itu paling teror bakal berhujung tiga hari, empat hari, itu pasti bakal reda. Tetapi di kasus nan sekarang, itu beda. Jadi rupanya buzzer ini long run, sudah nyaris dua bulan mereka tetap ada," ujarnya di hadapan massa Aksi Kamisan.


Menurut Kalis, dua pekan pertama merupakan fase paling intens. Pada periode itu, puluhan pembuat konten di beragam platform digital memproduksi narasi nan menyerangnya, baik melalui unggahan, komentar, maupun pesan langsung di media sosial. Tekanan tersebut apalagi meluas hingga menyasar pihak-pihak nan bekerja sama dengannya.


Meski menghadapi tekanan, Kalis menegaskan bahwa kritik dari masyarakat sipil merupakan corak kepedulian terhadap negara.


"Yang dipasang untuk ngerjain masyarakat sipil, nan sebenarnya hanya mau menyampaikan kritik, hanya mau mencintai negara ini. Ketika mengkritik, itu adalah tanda sayang kepada negara. Tapi malah dibalas dengan state terrorism, serangan menakut-nakutin dalam corak buzzer di digital," tegasnya.


Rasa takut dan keberanian bertahan

Kalis juga menyinggung peristiwa kekerasan nan menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus, nan mengalami teror penyiraman air keras. Ia mengakui bahwa kejadian tersebut menimbulkan rasa takut, tetapi tidak boleh menghentikan perjuangan.


"Kita gak bisa bohong bahwa kita takut. Tetapi walaupun takut, kita kudu tetap bisa mengelola rasa takut kita agar orang lain tidak takut," katanya, mengutip pesan almarhum Munir Said Thalib.


Ia turut merefleksikan posisinya sebagai wanita dan ibu nan rentan terhadap ancaman ketika bersikap kritis terhadap negara.


Perempuan dan bayang-bayang kekerasan

Kalis mengaitkan situasi saat ini dengan sejarah kekerasan terhadap perempuan, khususnya tragedi 1998. Menurutnya, dalam praktik kekuasaan nan represif, tubuh wanita kerap dijadikan perangkat untuk menebar ketakutan.


"Di rezim militerisme, wanita menjadi perangkat kontrol negara untuk menundukkan dan menebar ketakutan. Alat utamanya justru tubuh perempuan," ujarnya.


Ia juga menyoroti penyangkalan Fadli Zon terhadap peristiwa pemerkosaan massal 1998 sebagai persoalan serius nan berangkaian dengan keamanan wanita hingga saat ini.


"Kita lenyap Kartinian, tapi kita tidak aman. Karena sejarahnya sudah pernah ada (Tahun 1998)," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE