Akankah Aku Akan Bermaksiat Lagi Selepas Ramadan?

Sedang Trending 5 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Ketahuilah, bulan Ramadan adalah bulan nan penuh dengan keberkahan dan ketaatan. Di dalamnya kaum muslimin berlomba-lomba memperbanyak ibadah, berpuasa, salat tarawih, membaca Al-Qur’an, bersedekah, dan bangun malam untuk bermunajat kepada Allah. Namun, ada banyak pertanyaan krusial nan patut direnungkan: Apakah ketaatan itu bakal tetap terjaga setelah Ramadan berlalu? Apakah orang nan berpuasa bakal tetap seperti dirinya di bulan Ramadan setelah Ramadan berlalu? Ataukah dia bakal kembali bermaksiat kepada Allah setelah Ramadan?

Orang nan selama Ramadan giat salat malam, berpuasa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, bangun malam untuk beragama dan berdoa, apakah semua itu bakal terus dia jaga setelah Ramadan? Ataukah justru dia kembali melakukan beragam dosa, maksiat, dan hal-hal nan membikin Allah murka kepadanya?

Jika seorang muslim tetap menjaga kebaikan salehnya setelah Ramadan, itu adalah tanda bahwa amalnya diterima oleh Allah nan Maha Pemurah. Namun, jika setelah Ramadan dia meninggalkan kebaikan saleh dan kembali mengikuti jalan setan, maka itu adalah tanda kehinaan dan keterpurukan dirinya.

Karena jika seorang hamba telah menjadi buruk di sisi Allah, tidak ada seorang pun nan bisa memuliakannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يُهِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ

“Dan barangsiapa nan dihinakan Allah, maka tidak seorangpun nan memuliakannya. Sesungguhnya Allah melakukan apapun nan Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)

Yang mengherankan adalah ketika kita memandang sebagian orang di bulan Ramadan begitu giat berpuasa, salat tarawih, bangun malam untuk beribadah, bersedekah, banyak beristigfar, dan alim kepada Allah. Namun begitu Ramadan selesai, keadaannya berubah drastis. Hatinya seperti kembali rusak, dia mulai bermaksiat kepada Alla. Ia mulai meninggalkan salat, menjauhi kebaikan, dan justru terjerumus dalam beragam corak maksiat. Ia pun melakukan beragam dosa dan pelanggaran, menjauh dari ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Seorang muslim semestinya menjadikan bulan Ramadan ini sebagai kesempatan untuk membuka lembaran baru, bertobat, kembali kepada Allah, menjaga ketaatan, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya setiap saat.

Oleh lantaran itu, setelah bulan Ramadan, kita semestinya tetap istikamah dalam kebaikan, terus melakukan kebaikan saleh, dan menjauhi segala corak maksiat, sebagai corak kesinambungan dari ibadah-ibadah nan kita lakukan di bulan Ramadan nan mendekatkan kita kepada Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun Anda berada. Jika Anda melakukan keburukan, maka ikutilah dengan kebaikan, lantaran kebaikan itu bakal menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan adab nan baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987)

Tujuan Allah menciptakan manusia sebenarnya sangat jelas, ialah agar mereka beragama kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya. Inilah tujuan hidup nan paling agung, ialah menjadi hamba Allah nan sejati dan senantiasa beragama kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan hantu dan manusia selain agar mereka beragama kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Di bulan Ramadan ini, kita sering memandang kejadian bagus dari ibadah itu sendiri. Masjid-masjid dipenuhi orang nan datang beramai-ramai untuk beragama kepada Allah. Orang-orang berupaya menjaga salat tepat waktu, doyan bersedekah, salat malam, berlomba-lomba dalam kebaikan, dan antusias melakukan kebaikan saleh. Namun nan paling krusial adalah siapa nan tetap istikamah setelah Ramadan.

Allah Ta’ala juga berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ

“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan nan baik, dan kebaikan saleh Dia angkat. Adapun orang-orang nan merencanakan kejahatan, mereka bakal mendapat balasan nan keras, dan rencana jahat mereka bakal hancur.” (QS. Fathir: 10)

Karena itu, kebaikan saleh adalah salah satu langkah terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah kapan pun dan di mana pun. Kita juga kudu ingat bahwa Rabb kita di bulan Ramadan adalah juga Rabb kita di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun.

Puasa Ramadan memang sudah selesai, tetapi ibadah-ibadah nan lain tetap tetap ada, baik salat lima waktu, sedekah, maupun ibadah-ibadah lainnya. Semua itu adalah tanggung jawab kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seorang mukmin nan bertakwa dan bersih hatinya semestinya selalu takut kepada Allah, berupaya alim kepada-Nya, menjaga ketakwaan, serta terus berupaya melakukan kebaikan. Ia juga kudu berupaya mendakwahkan kebenaran, membujuk orang lain kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran.

Karena kehidupan seorang mukmin itu seperti tempat menyimpan amal. Setiap orang kudu memperhatikan apa nan dia isi di dalamnya. Jika nan dia isi adalah kebaikan kebaikan, maka kebaikan itu kelak bakal menjadi saksi baginya di hadapan Allah pada hari kiamat. Namun, jika nan dia isi adalah keburukan, maka perihal itu justru bakal menjadi musibah dan kerugian bagi dirinya sendiri. Kita memohon kepada Allah agar menyelamatkan kita semua dari segala corak kerugian.

Para ustadz juga mengatakan bahwa salah satu tanda kebaikan diterima oleh Allah adalah ketika setelah melakukan satu kebaikan, seseorang terdorong melakukan kebaikan berikutnya. Seakan-akan kebaikan itu membujuk untuk melakukan kebaikan nan lain. Sebaliknya, dosa juga seperti itu, satu dosa bakal membujuk kepada dosa lainnya. Kita berlindung kepada Allah dari perihal tersebut.

Jika Allah menerima kebaikan seseorang di bulan Ramadan dan dia betul-betul mengambil pelajaran darinya, lampau tetap istikamah dalam ketaatan setelahnya, maka dia termasuk orang-orang nan melangkah berbareng orang-orang nan senantiasa istikamah di dalam ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ، نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ

“Sesungguhnya orang-orang nan mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat bakal turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah Anda takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga nan telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan bumi dan akhirat; di dalamnya Anda memperoleh apa nan Anda inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa nan Anda minta’.” (QS. Fussilat: 30–31)

Artinya, perjalanan istikamah itu tidak berakhir setelah usainya Ramadan. Ia terus melangkah dari Ramadan ke Ramadan berikutnya. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

“Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadan ke Ramadan berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim no. 233)

Seorang mukmin semestinya terus istikamah dalam ketaatan jika dia memahami tujuan hidupnya sebagai hamba Allah. Allah nan telah memberi kita taufik untuk beragama dengan mudah dan baik di bulan Ramadan adalah Allah nan sama nan bakal menolong kita untuk tetap beragama setelah Ramadan.

Karena itu, jangan lupakan nikmat nan Allah berikan kepada kita di bulan Ramadan berupa nikmat iktikaf, sedekah, puasa, doa, dan angan nan dikabulkan. Jagalah semua kebaikan itu dengan baik. Jangan sampai kebaikan tersebut terhapus oleh dosa dan perbuatan nan sia-sia. Teruslah menanam kebaikan kapan pun dan di mana pun. Tetaplah istikamah dalam ketaatan dengan tujuan mencari keridaan Allah dan surga-Nya, mengikuti Rasul-Nya, dan meraih kebahagiaan di bumi maupun di akhirat.

Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memberi kita nikmat ibadah, salat, berpuasa, iktikaf, bersedekah, dan ibadah lainnya, agar Dia juga memberikan kepada kita hidayah, ketakwaan, serta menerima amal-amal kita di bulan Ramadan ini.

Semoga Allah juga memberi kita kekuatan untuk terus melakukan kebaikan saleh dan tetap istikamah dalam melakukannya di bulan Ramadan maupun setelahnya. Karena terus menjaga kebaikan kebaikan adalah salah satu langkah terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info