AIPI: Makanan Ultra Proses Picu Risiko Obesitas hingga Penyakit Dini pada Anak

Sedang Trending 1 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Daniel Murdiyarso menegaskan urgensi pembatasan konsumsi pangan ultra proses (Ultra-Processed Foods/UPF) sebagai langkah krusial untuk melindungi kesehatan anak dan remaja.


Hal itu diungkapkan dalam webinar internasional berjudul Eat Real Food and Minimally Processed Diets for Child and Youth Health: Scientific Evidence on Ultra-Processed Foods, Dietary Guideline Alignment, Policy Gaps, and Global Responses.


Ia menilai bahwa meningkatnya konsumsi UPF berangkaian langsung dengan beragam akibat kesehatan sejak usia dini. Risiko tersebut meliputi obesitas, kekurangan mikronutrien, gangguan metabolik, hingga penyakit tidak menular.


Kondisi ini semakin diperparah oleh masifnya pengedaran dan pemasaran produk tinggi gula, garam, dan lemak nan sekarang semakin mudah diakses oleh anak-anak.


Daniel menegaskan bahwa perubahan lanskap pangan dunia menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat.


"Lingkungan pangan dunia telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan sekarang semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas, termasuk kepada anak-anak. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat," ujarnya dalam keterangan nan diterima NU Online pada Jumat (24/4/2026).


Dari sisi kebijakan, dia menilai pemerintah perlu mempercepat transformasi sistem pangan berbasis bukti ilmiah melalui kerjasama lintas sektor. Upaya ini difokuskan pada penguatan regulasi, termasuk penerapan pelabelan gizi pada bagian depan bungkusan serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak.


Selain itu, perlindungan anak dari pemasaran agresif, terutama di ruang digital dan lingkungan sekolah, menjadi agenda nan mendesak. Instrumen kebijakan fiskal, seperti cukai minuman berpemanis, juga didorong untuk menekan konsumsi produk tidak sehat sekaligus meningkatkan akses terhadap pangan bergizi.


Anggota Komisi Ilmu Kedokteran (KIK) AIPI Rina Agustina menekankan bahwa kualitas diet anak tidak cukup diukur dari kandungan gizinya saja, tetapi juga dari tingkat pengolahan makanan nan dikonsumsi.


Ia mengingatkan bahwa lingkungan saat ini justru lebih mendukung konsumsi UPF dibandingkan pilihan makanan sehat, sehingga intervensi kebijakan menjadi aspek kunci.


Ia menyebut bahwa sebagai langkah lanjutan, AIPI bakal merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti ilmiah guna memperkuat sistem pangan nasional. Upaya ini diarahkan untuk menciptakan lingkungan pangan nan sehat agar anak-anak dapat tumbuh secara optimal.


Ketua KIK AIPI Herawati Sudoyo menegaskan bahwa pembuatan lingkungan pangan sehat merupakan langkah nyata dalam melindungi masa depan generasi Indonesia.


"Jika kita bisa menciptakan lingkungan pangan nan lebih sehat di mana makanan bergizi mudah diakses dan terjangkau anak-anak bakal tumbuh dan berkembang secara optimal," terangnya.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE